Operasi "Nasr Minallah", Ketangguhan Yaman Melawan Saudi
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i74336-operasi_nasr_minallah_ketangguhan_yaman_melawan_saudi
Operasi terbaru gerakan perlawanan Yaman "Nasr Minallah" terhadap Arab Saudi dalam periode tiga bulan terakhir menjadi perhatian para pengamat politik dan militer regional dan internasional.
(last modified 2025-12-14T09:52:47+00:00 )
Okt 02, 2019 19:07 Asia/Jakarta
  • Pasukan Yaman dalam operasi Nasr Minallah
    Pasukan Yaman dalam operasi Nasr Minallah

Operasi terbaru gerakan perlawanan Yaman "Nasr Minallah" terhadap Arab Saudi dalam periode tiga bulan terakhir menjadi perhatian para pengamat politik dan militer regional dan internasional.

Hingga kini aksi perlawanan rakyat Yaman di tengah gencarnya serangan koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud yang didukung AS menyimpan banyak pertanyaan, terutama mengenai urgensi, pesan dan dampaknya.

 

senjata sitaan dari apsukan Saudi

Urgensi Operasi Nasr Minallah

Salah satu masalah paling penting dari kemunculan operasi yang dilancarkan Komite Rakyat dan angkatan bersenjata Yaman mengenai urgensi operasi Nasr Minallah. Serangan ini dilancarkan dengan dukungan sistem pertahanan udara Yaman. Di satu sisi, operasi dilancarkan di darat, sementara rezim al-Saud selama ini menghindari pertempuran darat karena tidak memiliki pasukan nasional yang efisien untuk melakukan perang darat.

Di sisi lain, kerja sama antara relawan rakyat yaman dan pasukan militer negara ini dalam mengusir agresor Al Saud membuahkan hasil signifikan. Keberhasilan operasi ini menunjukkan bahwa Yaman siap untuk berperang di darat dan berkonfrontasi langsung dengan rezim al-Saud. Pada saat yang sama, kekuatan pasukan hanya berisi tentara bayaran yang berperang demi uang.

Alasan lain dari pentingnya operasi Nasr Minallah adalah besarnya kerusakan dari pihak Al Saud. Tiga brigade Saudi hancur dalam operasi itu, peralatan mereka disita dan ribuan tentara bayaran al-Saud ditangkap oleh pasukan Ansarullah.

Arab Saudi berusaha mengecilkan kekuatan Yaman dalam kasus serangan drone terhadap Aramco. Tetapi operasi Nasr Minallah menunjukkan taji pasukan Yaman adalah sebagai respons kuat terhadap rezim Al-Saud. Tentu saja, serangan ini secar politik menjadi pukulan telak bagi koalisi Arab yang dipimpin rezim Al Saud.

Di luar itu, banyaknya efek psikologis yang ditimbulkan dari serangan balasan Nasr Minallah Yaman terhadap rezim Al Saud. Pasukan Yaman melancarkan operasi intelijen selama enam bulan, tetapi pihak Saudi tidak menyadarinya.

Pasukan Yaman menyampaikan pesan kepada rezim Al Saud bahwa semua operasi melawan Arab Saudi dirancang dan dilaksanakan oleh Yaman sendiri. Pasukan Saudi tidak dapat menghubungkan operasi ini dengan negara lain karena berbasis di darat.

 

Pesan penting Operasi Nasr Minallah 

Operasi terbaru gerakan perlawanan Yaman "Nasr Minallah" terhadap Arab Saudi dalam periode tiga bulan terakhir menyampaikan berbagai pesan penting.

Pertama, perlawanan ini menunjukkan komite rakyat dan tentara Yaman siap menghadapi konflik darat langsung menghadapi koalisi Arab pimpinan Arab Saudi dalam tingkat yang lebih besar. Sebaliknya, larinya beberapa ribu tentara bayaran Saudi dan penawanan setidaknya 2.400 dari mereka mengindikasikan bahwa koalisi Saudi tidak siap untuk bertempur langsung.

Pengamat politik Asia Barat, jafar Ghanatbashi mengatakan, "Komite rakyat  dan tentara Yaman memiliki tekad yang kuat untuk mempertahankan tanah airnya sebagai kekuatan nasional. Tapi sebaliknya pihak lawan tidak memiliki kekuatan nasional, tapi bertempur karena dibayar. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kekuatan bertempur yang memadai, dan tuntutan materi murni tidak bisa menjadi pendorong untuk bertempur."

Kedua, koalisi Saudi lebih memilih menggunakan serangan udara, karena tidak mau mengambil resiko ditawan, apalagi tewas di tangan pihak Yaman.  Mohammed Abdul Salam, Juru Bicara Ansarullah Yaman mengungkapkan bahwa para komandan militer Saudi menggunakan perisai manusia mereka ketika kematian mereka mendekat. Abdul Qader al-Mortada, ketua Komite Pengungsi Nasional Yaman menjelaskan bahwa militer Saudi meninggalkan mayat pasukannya dan tidak mengizinkan kendaraan bantuan kemanusiaan Palang Merah mengangkut orang yang terluka dan  ke rumah sakit.

Pesan ketiga dari operasi Nasr Minallah menunjukkan bahwa komite rakyat dan tentara Yaman tidak hanya memberikan peringatan lisan tetapi juga melaksanakan peringatan tersebut. Sebelumnya, para pejabat Yaman telah memperingatkan koalisi Saudi bahwa mereka akan mendapatkan balasan tegas dari Yaman jika serangan tetap berlanjut. 

Pesan keempat, kelanjutan perang akan menyebabkan kerusakan besar bagi Arab Saudi. Sebab tentara bayaran Saudi tidak memiliki semangat nasionalisme yang kuat dan juga keyakinan untuk memenangkan perang. Tapi sebaliknya, komite rakyat dan tentara Yaman memiliki tekad serius untuk mempertahankan integritas wilayah serta keyakinan dalam memenangkan perang. Jelas kiranya, kelanjutan perang ini akan akan merugikan kepentingan Saudi dan sekutunya.

Namun rezim Al-Saud tidak dapat mengakhiri perang dalam situasi saat ini karena hal itu berarti kekalahan dirinya menghadapi Yaman. Jadi ia berusaha untuk bernegosiasi dengan Pemerintah Penyelamat Nasional Yaman sebagai mediator untuk mencegah serangan berlanjut.

 

Dampak Operasi Nasr Minallah

Operasi besar Yaman ini akan berdampak signifikan terutama bagi Arab Saudi. Dampak pertama, Arab Saudi telah memasuki fase "kekacauan militer". Serangan terhadap kompleks kilang minyak Aramco mengakibatkan penghentian 50 persen produksi minyak Saudi dan pukulan telak terhadap pundi-pundi ekonomi Saudi dan kemampuan untuk melanjutkannya. Kini, operasi militer di Najran menyebabkan gempa militer yang mengguncang tentara Saudi dan tentara bayaran mereka, sekaligus mengejutkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. 

Dampak kedua dari operasi ini adalah melebarnya keretakan di tubuh anggota koalisi Saudi karena kekalahan dalam perang. Sebelumnya, UEA sampai pada kesimpulan bahwa perang ini tidak akan berakhir dengan kemenangan koalisi Saudi, setelah serangan rudal berulangkali dan serangan pesawat tak berawak Yaman ke Arab Saudi. Operasi Nasr Minallah memperkuat keyakinan ini di kalangan sekutu-sekutu Saudi, dan memperkuat kemungkinan pembubaran koalisi Arab, dan hanya tinggal Saudi di perang.

Dampak ketiga dari operasi ini adalah keyakinan bahwa Ansarullah mampu membangun struktur kekuatan Yaman saat ini. Operasi tersebut menyoroti kekuatan tentara dan komite rakyat dalam taktik militer dan perang besar di wilayah dengan luas sekitar 400 kilometer, dan menargetkan bandara militer di Najran dan Jizan serta Pusat Komando Militer Saudi di Riyadh melalui drone.

Faktanya, dengan perubahan strategis yang telah terjadi di arena perang, Yaman berhasil meraih kemenangan besar. Oleh karena itu, tidak mungkin lagi mengabaikan Ansarullah dan sekutunya dalam struktur kekuasaan Yaman, bahkan bisa membatalkan resolusi Dewan Keamanan PBB no. 2216  mengenai perang Yaman.

Dampak keempat dari operasi Nasr Minallah bisa menjadi langkah bagi Al Saud untuk mengakhiri perang. Dalam hal ini, Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengatakan bahwa pengumuman gencatan senjata oleh Houthi adalah langkah maju yang positif dalam negosiasi politik. Faktanya, ketika Arab Saudi memandang Ansarullah sebagai aktor tidak sah di Yaman dan mengklaim berusaha mengembalikan legitimasi ke Yaman melalui perang, Arab Saudi kini secara implisit menerima Ansarullah sebagai aktor kuat di Yaman dengan menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi.(PH)