Media Sosial Sesungguhnya Bisa Bikin Bahagia
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i20980-media_sosial_sesungguhnya_bisa_bikin_bahagia
Di laman Facebook setiap hari kita sering sebal melihat unggahan soal politik dari teman yang sebenarnya ingin kita blok, informasi soal ulang tahun orang yang tak begitu kita kenal dan undangan terus menerus untuk main game dari saudara jauh.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 19, 2016 17:11 Asia/Jakarta
  • Media Sosial Sesungguhnya Bisa Bikin Bahagia

Di laman Facebook setiap hari kita sering sebal melihat unggahan soal politik dari teman yang sebenarnya ingin kita blok, informasi soal ulang tahun orang yang tak begitu kita kenal dan undangan terus menerus untuk main game dari saudara jauh.

Tetapi, ternyata media sosial tidak hanya mendatangkan rasa dongkol. Sesungguhnya media sosial seperti Facebook bikin kita bahagia. Studi termutakhir dari Carnegie Mellon University mengatakan jejaring sosial juga membantu membuat kita merasa sebahagia saat menikah atau melahirkan anak.

 

Berkebalikan dengan studi-studi sebelumnya yang menemukan semakin lama bermain media sosial justru menyebabkan kita tambah kesepian, periset dari Carnegie Mellon menemukan komen dan interaksi dari orang terdekat sebenarnya meningkatkan kesehatan psikologis pengguna media sosial.

 

Satu klik "likes" dan membaca unggahan teman-teman tidak memindahkan kadar kebahagiaan lebih tinggi. Interaksi yang berdampak terhadap kesehatan datang dari hubungan istimewa dan melibatkan sentuhan personal.

 

Jadi, jangan sekedar mengklik tanda jempol ketika melihat unggahan di Facebook milik tante, om, saudara sepupu, kakak atau adik. Berikan juga komen kata-kata yang membuat mereka senang. Hal itu bikin hari mereka jadi lebih cerah.

Penggunaan situs jejaring sosial seperti halnya Facebook, rupanya tidak selalu berimplikasi buruk terhadap seseorang. Bahkan studi psikologis teranyar menunjukkan, website seperti Facebook dapat membantu meningkatkan kondisi kesehatan seseorang.

 

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking edisi online mengindikasikan, penggunaan jejaring sosial dapat memicu kegembiraan, membuat detak jantung menjadi rileks dan menurunkan tingkat stres serta ketegangan.

 

Meskipun bermain Facebook terlihat seperti suatu kegiatan yang pasif, interaksi dengan orang lain melalui jejaring sosial ini memiliki efek positif pada tubuh dan pikiran, kata peneliti dari Auxologico Italia Institute Catholic University di Milan, yang melakukan riset bersama dengan ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology, AS.

 

Dalam risetnya, para peneliti di Milan melibatkan sebanyak 30 siswa berusia 19-25 tahun. Peneliti memantau beberapa hal seperti reaksi otak, tekanan darah, konduktansi kulit, pelebaran pupil dan detak jantung. Peneliti juga mengukur sejauhmana tingkat gairah, kesenangan, stres, dan relaksasi para pengguna Facebook.

 

Dalam pengamatannya, masing-masing siswa diberi waktu sekitar tiga menit untuk melakukan tiga kegiatan seperti melihat panorama (pemandangan), bermain Facebook dan mengerjakan tugas matematika yang rumit. Hasilnya tidak mengherankan bila peserta yang berkesempatan melihat panorama cenderung lebih santai (rileks), sedangkan siswa yang mengerjakan tes matematika cenderung lebih stres. Tetapi ketika mereka menggunakan Facebook, peneliti melihat bahwa peserta dapat lepas dari tekanan atau stres dan menjadi lebih santai.

 

"Keberhasilan situs jejaring sosial dapat dihubungkan dengan keadaan afektif positif tertentu yang dialami oleh pengguna ketika mengaktifkan akun Facebook mereka," kata peneliti.

 

Namun, efek negatif terkait penggunaan Facebook juga telah banyak diungkapkan dalam peneliti lain. Salah satunya adalah hasil riset yang dipimpin oleh Lady Susan Greenfield dari Universitas Oxford. Penelitian tersebut mengungkapkan, penggunaan situs jejaring sosial yang berlebihan dapat memperpendek rentang perhatian, mendorong kepuasan secara instan dan menyebabkan hilangnya empati.

 

Bahkan tahun lalu, sebuah laporan di Amerika Serikat menerangkan, penggunaan situs jejaring sosial seperti Facebook dapat memicu munculnya penyakit menular seksual di kalangan orang dewasa muda. Hal ini terlihat dari adanya laporan kenaikan kasus klamidia dan sifilis.

 

Perilaku di Facebook Cermin Masalah Penerimaan Diri

Studi oleh peneliti sosial menemukan adanya keterkaitan antara interaksi manusia dengan teknologi. Salah satunya interaksi di media sosial termasuk Facebook di dalamnya, yang mencerminkan masalah personal yakni perasaan mendalam terhadap diri sendiri juga masalah penerimaan diri.

 

Hasil studi ini telah dipresentasikan oleh tim peneliti internasional di pertemuan INTERACT 2013 di Cape Town, Afrika Selatan.

 

Perilaku di Facebook

Bagaimana seseorang berperilaku di Facebook dapat mengungkapkan level penerimaan diri dan tujuan hidupnya. Mereka yang sering menghabiskan waktu mengangkat citra personal lewat Facebook memiliki level penerimaan diri yang tak sama. Di samping itu, gaya seseorang saat beraktivitas di media sosial juga berbeda antara kalangan yang memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dan mereka yang sangat mengkhawatirkan pendapat orang lain tentang dirinya.

 

Para peneliti juga mengungkapkan, pengguna media sosial dengan berbagai aktivitasnya di dunia maya menunjukkan gambaran akurat mengenai dirinya sendiri. Misalnya, orang yang rendah diri cenderung mengkhawatirkan apa yang orang lain posting tentang mereka di jejaring sosial. Sedangkan mereka yang memiliki harga diri lebih tinggi cenderung menghabiskan waktu untuk membangun citra personal di media sosial.

 

Orang dengan kepercayaan diri tinggi juga cenderung lebih sering posting mengenai apa yang mereka suka atau tidak suka, opini tentang sesuatu, juga persepsinya tentang berbagai hal. Sebaliknya, orang dengan kecenderungan neurotik atau gangguan mental paling ringan biasanya sering merasa cemas, akan lebih banyak menggunakan waktunya di Facebook dengan memantau konten, menghapus posting yang mendapatkan respons negatif dari orang lain.

 

"Tipe aktivitas yang dilakukan pengguna Facebook dan bentuk informasi apa saja yang mereka masukkan ke akun Facebook mereka, mencerminkan identitas diri penggunanya. Anda adalah Facebook Anda. Terlepas dari kebutuhan sosialisasi, Facebook merupakan medium personal yang punya arti mendalam," ungkap S Shyam Sundar, profesor komunikasi dan salah satu direktur Media Effects Research Laboratory di Penn State University.

 

Studi ini menganalisis aktivitas 225 mahasiswa South Korean university, di Facebook. Selain itu, responden juga menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan peneliti mengenai berapa banyak informasi yang mereka tampilkan di Facebook terkait keluarga, pekerjaan, dan hubungan pribadi. Para peneliti juga bertanya mengenai frekuensi update informasi di Facebook.

 

Dari pernyataan rendah hati hingga teriakan samar untuk  mencari perhatian, banyak status Facebook yang menarik untuk kita amati. Jutaan dari kita menulis status situs media sosial setiap hari.

 

Status Facebook Gambarkan Kepribadian Seseorang

Sebuah penelitian baru mengatakan, status Facebook seseorang benar-benar dapat mengatakan banyak hal tentang kepribadian penulisnya. Status di media sosial dapat mengungkapkan apakah kita seorang narsis atau neurotik, dan berapa banyak harga diri yang kita miliki, kata peneliti.

 

Menulis tentang hal-hal yang romantis tentang pasangan adalah tanda harga diri yang rendah, menurut penelitian. Penelitian dilakukan oleh Brunel University dengan menganalisa 555 pengguna Facebook.

 

Survei difokuskan pada lima besar ciri kepribadian: ekstrovert, terbuka, ramah, neurotisis dan penuh kesadaran. Plus  harga diri dan tingkat narsis mereka.

 

Para ilmuwan menemukan, pengguna cenderung untuk mengirim update sesuai dengan ciri-ciri kepribadian mereka. Mereka menemukan orang dengan skor narsis yang tinggi  mencari pengakuan dari orang lain yang tidak bisa mereka temukan secara offline.

 

 

 

Orang yang ekstrovert memanfaatkan Facebook sebagai alat untuk terlibat secara sosial dan kerap menulis status tentang kegiatan sosial. Mereka juga kurang termotivasi oleh rasa suka dan lebih termotivasi oleh interaksi dengan orang lain. Lengkapnya, inilah hasil dari penelitian tersebut.

 

Narsis

 

Orang yang narsis kerap menulis status tentang prestasi mereka baik di bidang diet, olahraga dan lainnya karena mereka mencari perhatian dan validasi.

 

Terbuka, penuh rasa ingin tahu, kreatif

 

Orang yang terbuka, penuh rasa ingin tahu dan kreatif sering menulis status  tentang keyakinan politik dan topik intelektual karena mereka suka mencari serta berbagi informasi dalam  interaksi social.

 

Teliti

 

Tipe teliti  jarang menulis status karena mereka cenderung waspada mengenai bagaimana orang lain menerima status mereka. Ketika mereka menulis status, seringkali tentang anak-anak mereka

 

Tingkat percaya diri rendah

 

Orang yang rendah  diri sering menulis status tentang mitra romantis mereka, untuk menumpas rasa tidak aman dan menunjukkan hubungan mereka berjalan dengan baik.