Pengamat Indonesia: AS Bukan Polisi Dunia Lagi!
-
Unjuk rasa Tolak Trump di AS
Keputusan Presiden AS, Donald Trump membatalkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara menuai kecaman dari berbagai kalangan. Isu ini juga menjadi sorotan media massa Indonesia.
Situs Antara melaporkan kemarahan banyak orang Korea Selatan terhadap Trump yang telah membatalkan pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Mereka merasa ditipu karena peluang damai seumur hidup sirna begitu saja.
Trump membatalkan pertemuan yang dijadwalkan 12 Juni di Singapura yang tercipta setelah kedua belah pihak adu mengancam dan adu retorika yang membuat dunia khawatir perang global bakal terjadi.
Sebelumnya, Korea Utara memastikan telah membongkar fasilitas uji coba senjata nuklirnya Punggye-ri setelah meledakkan terowongan ke situs itu.
Peledakan yang dihadiri belasan wartawan internasional itu terjadi bulan lalu Kim menghentikan semua uji coba nuklir dan rudal jarak jauhnya. Kim juga membebaskan tiga sandera Amerika sebagai bukti itikad baik.
Situs CNN Indonesia menurunkan analisis berjudul “Ketulusan Korut, Provokasi AS dan Aksi Koboi Trump” yang mempersoalkan sikap Trump membatalkan pertemuannya dengan Kim Jong Un.
Pengamat hubungan internasional, Teguh Santosa mengaku tidak kaget akan pembatalan rencana pertemuan Trump dengan Kim Jong-un. Dia sudah memperkirakan hal tersebut terjadi dengan melihat tindak-tanduk Amerika Serikat yang masih menganggap diri mereka sebagai polisi dunia.
"Ada dua hal yang berbeda dalam masalah ini. Yakni perdamaian kedua Korea. Lalu pembicaraan antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Namun retorika yang dibangun AS selalu mengaitkan kedua hal yang berbeda ini," ujar Dosen Hubungan Internasional Asia Timur Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah seperti dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (25/5).
Selama ini para pejabat Amerika Serikat, terutama Trump selalu menegaskan bahwa pertemuan Presiden Korsel Moon Jae-in dan Kim Jong-un adalah buah dari tekanan Amerika Serikat.
Menurut Teguh, selain itu dalam banyak pernyataan Amerika Serikat kerap mengerdilkan, dan bahkan mengaitkan denuklirisasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakal dihadapi Korut jika tidak memenuhi janjinya. Sebagaimana mengancam nasibnya bakal seperti Libya atau Irak.
"Jangan ajarkan Korea membangun perdamaian. Korea lebih tua usianya dari AS. Biarkan Korea berdialog. AS bukan polisi dunia lagi," kata Ketua Bidang Luar Negeri PWI Pusat tersebut.
Situs Kompas melaporkan, hanya berselang satu hari usai pengumuman Presiden AS yang membatalkan rencana pertemuan puncak dengan Korea Utara, Donald Trump mengatakan bahwa pertemuannya dengan Kim Jong Un masih bisa terwujud.
Bahkan, Trump menyebut rencana awal yang menjadwalkan pertemuan pada 12 Juni mendatang masih mungkin terlaksana. (Antara/Kompas/Republika/CNNIndonesia/PH)