Kartini dan Perempuan Indonesia
Setiap tanggal 21 April dirayakan sebagai "Hari Kartini" dalam kalender nasional Indonesia. Momentum ini mengambil inspirasi dari hari lahir Raden Ajeng Kartini yang dianggap sebagai tokoh pergerakan dan emansipasi perempuan Indonesia. Lalu apakah spirit kesetaraan nilai atau martabat perempuan yang disuarakan Kartini sudah tercapai ?
Situs Antara hari Ini menurunkan satu tulisan yang secara umum menilai tujuan tersebut relatif sudah tercapai. Pijakannya, fokus Kartini mengenai masalah pendidikan. Realitas yang dilihatnya mengenai diskriminasi pendidikan yang hanya didominasi anak laki-laki
Kartini menuliskan suara hatinya itu lewat surat-surat yang dikirimkannya kepada sahabatnya, putri dari J.H. Abendanon di Belanda dan publik saat ini bisa membacanya dalam buku klasik “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Mulyo Sunyota dalam tulisannya berjudul "Target Kartini Terlampaui" memulai dengan mengutip data dari Badan Pusat Statistik mencatat bahwa antara 2010-2015 jumlah perempuan yang mengantongi ijazah di beberapa level meningkat baik di perdesaan maupun perkotaan. Bahkan untuk pendidikan setingkat sarjana di pedesaan, kaum perempuan melewati pencapaian pria.
Dari populasi masyarkat Indonesia, masih menurut BPS, perempuan di kawasan perdesaan yang mencapai pendidikan tingkat sarjana sebanyak 3,37 persen sementara untuk laki-laki mencapai 3,14 persen.
Jika gambaran dunia pendidikan yang dicapai perempuan cukup menggembirakan, semua itu tak lepas dari pembangunan sektor kesehatan yang juga dinikmati oleh perempuan.
Secara nasional, kualitas kesehatan perempuan berada di atas mutu kesehatan laki-laki. Seperti dikemukakan Menteri Kesehatan Nila Moeloek belum lama ini, tingkat harapan hidup rata-rata orang Indonesia saat ini mencapai 71, 48 tahun. Jika dipilah antara perempuan dan laki-laki, angkanya menjadi 73 tahun untuk wanita dan 69 tahun untuk laki-laki.
Di sini kelihatan bahwa dengan akses setara antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh layanan kesehatan, perempuan lebih sanggup mengelola raganya dengan gaya hidup yang lebih sehat sehingga tingkat harapan hidupnya melampaui pria.
Untuk pencapaian atau prestasi berbasis gender, tampaknya sudah tidak ada diskrepansi yang signifikan antara yang dicapai oleh pria dan wanita.
Di ranah politik, pencapaian pria dan wanita hanya dibedakan soal kuantitas. Sejak merdeka, Indonesia sudah memberikan posisi kursi kepresidenan kepada enam pria dan satu wanita.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menilai perempuan Indonesia kini tak lagi menghadapi persoalan dikotomi gender.
Pramono memberikan contoh adanya sembilan perempuan yang menjadi menteri di posisi yang strategis seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Selain di bidang pemerintahan, perempuan Indonesia juga berkarya hingga dunia internasional seperti menjadi koki hingga sutradara di Hollywood seperti Livi Zheng. Hal ini membuktikan perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki.
Lebih dari sekedar seremoni tahunan, pada peringatan kelahiran Kartini tahun ini barangkali masih perlu dipertanyakan kembali bagaimana spirit Kartini ini tetap dipelihara. (PH)