Pertumbuhan Ekonomi Indonesia akan Naik Tipis dari 2018
-
Darmin Nasution
Pemerintah Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi negara ini akan tumbuh sesuai prediksi sebelumnya dan naik dari tahun lalu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Darmin Nasution memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019 tak jauh berbeda dengan periode sama tahun lalu. Pada triwulan I 2018, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen.
"Paling tidak, pertumbuhan ekonomi seperti tahun lalu. Di atasnya sedikit," kata dia di kantornya, Jakarta, Jumat (26/4), dilansir situs Kata data hari Sabtu.
Pertumbuhan ekonomi di antaranya disokong oleh terjaganya konsumsi masyarakat yang merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Sedangkan secara sektoral, pertumbuhan ekonomi disokong kinerja positif sektor pertanian seiring musim panen padi yang terjadi sejak Maret. Walaupun panen diperkirakan baru mencapai puncaknya pada April dan Mei.
Sektor pertanian memang merupakan salah satu kontributor utama terhadap produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, sektor industri memberikan kontribusi terbesar yaitu 19,28 persen, diikuti oleh sektor perdagangan sebesar 13 persen, konstruksi 11,11 persen, dan pertanian sebesar 10,88 persen.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) memberikan prediksi pertumbuhan ekonomi yang lebih optimistis. "Triwulan I itu bisa mendekati 5,2 persen," ujarnya. Ini seiring dengan terjaganya konsumsi masyarakat.
Tahun ini, pemerintah dan parlemen menargetkan pertumbuhan sebesar 5,3 persen. Walaupun demikian sejumlah pihak memprediksi target tersebut akan meleset karena berbagai faktor terutama kinerja investasi dan ekspor yang masih lemah. Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun ini dan tahun depan.
Morgan Stanley memproyeksikan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 mampu tumbuh mencapai 5, 3 persen lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 5,17 persen.
Situs Kontan melaporkan, prediksi tersebut dilakukan dengan dua pertimbangan. Pertama, tak seperti tahun lalu, tekanan tren suku bunga global akan mereda. Tahun ini, kombinasi pelonggaran kondisi keuangan global serta kondisi makro domestik memungkinkan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan.
Kedua, paparan perlambatan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia dinilai cenderung moderat. Memang, kinerja ekspor Indonesia tetap diperkirakan tak akan lebih baik dari tahun lalu seiring dengan melambatnya permintaan China. Tapi, apabila ketegangan dagang AS dan Cina mereda, muncul harapan permintaan akan kembali naik dan stabil mulai kuartal kedua.(PH)