Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan RI-Malaysia
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i77985-harapan_baru_dunia_islam_meneguhkan_hubungan_ri_malaysia
Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengatakan Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan yaitu ingin membangun negara yang Islami. Yaitu, negara menerapkan nilai-nilai Islam.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 26, 2020 07:49 Asia/Jakarta
  • Acara diskusi dengan tema \
    Acara diskusi dengan tema \"Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia\" di Gedung PBNU.

Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengatakan Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan yaitu ingin membangun negara yang Islami. Yaitu, negara menerapkan nilai-nilai Islam.

"Saya tak mengatakan mendirikan negara Islam tapi nilai-nilai Islam. Sebab itu saya sering menggunakan istilah kita tak perlu negara Islam tapi perlu negara Islami. Islami itu kata sifat, jujur, sportif, bersih, taat hukum, anti korupsi, pokoknya yang baik-baik itu Islami. Sehingga seperti New Zeland bukan negara Islam tapi negara Islami," kata Mahfud saat mengisi diskusi dengan tema Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU pada hari Sabtu (25/1/2020).

Mahfud menjelaskan, Indonesia dan Malaysia sama-sama ingin membangun negara yang Islami dan percaya bahwa bernegara merupakan sunnatullah. Artinya sudah menjadi kodrat bagi setiap orang untuk bernegara dan mempunyai pemerintahan. Kendati demikian, Indonesia dan Malaysia, menurut Mahfud, juga mempunyai pendapat yang sama bahwa tak ada satu sistem khilafah tertentu yang harus diikuti menurut Al Qur'an dan Sunah.

"Sebab itu Indonesia memilih bentuk republik dengan presidensil, Malaysia memilih bentuk kerajaan. Apakah itu melanggar Al Quran dan sunah? Tidak. Karena memang di Al Quran dan Sunnah tidak ada ajaran bentuk negara. Bahwa manusia bernegara ya, bentuknya seperti apa? terserah," tuturnya seperti dilansir dari situs Republika.

Mahfud juga menjelaskan agama melarang untuk mendirikan negara seperti yang didirikan nabi. Sebab, negara yang didirikan nabi merupakan teokrasi di mana Nabi memiliki tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

"Ada masalah hukum minta ke nabi, nabi buat hukumnya. Yang menjalankan pemerintahan sehari-hari nabi. Kalau ada orang berperkara datang ke nabi juga. Sekarang tak bisa, haram kalau ada," kata Mahfud.

Sebab itu, menurut Mahfud pilihan bentuk negara dan sistem negara yang beragam seperti yang dipilih Indonesia dengan republik dan Malaysia dengan kerajaan sama benarnya dan tidak bertentangan dengan syariat.

"Kita hanya ingin melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bersama," tuturnya.

Sementara, Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu menilai, sejumlah negara dengan mayoritas umat Islam justru tertinggal karena hanya membaca Quran dan sunah, tetapi tidak menjalankannya. Ia yakin, apabila Malaysia serta Indonesia yang memiliki umat Islam yang besar dapat melawan korupsi, kebangkitan Islam akan berpindah ke timur.

"Islam akan diangkat oleh Indonesia dan Malaysia," kata dia.

Ilustrasi jamaah shalat.

KH Said Aqil Siroj: Budaya Kita Lebih Mulia Dari Arab

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengajak muslim Nusantara untuk memperkokoh Islam Nusantara. Menurut Kiai Said, Islam Nusantara bukanlah sebuah mazhab, sekte, maupun aliran baru. Namun menurutnya Islam nusantara merupakan tipologi umat Islam di nusantara yakni Islam yang menyatu dengan budaya.

"Bahkan bukan hanya menyatu, kultur kita jadikan infrastruktur agama. Agama kita bangun di atas pondasi kultur. Budaya kita jadikan pondasi agama. Itu barangkali untuk menanggapi situasi sekarang terutama di Middle East yang kita tahu semua sudah satu setengah juta nyawa menghilang. Mesir, Libya Irak, Syiria, Yaman, Sudan, Somalia dan seterusnya, sesama muslim sesama Arab,"  kata Kiai Said saat mengisi diskusi dengan tema Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU.

Kiai Said menjelaskan Islam menyebar di Nusantara tanpa adanya peperangan dan konflik bersenjata. Namun demikian kerajaan-kerajaan besar di Nusantara kemudian memeluk Islam. Hal itu menurut Kiai Said lantaran Islam masuk dengan pendekatan akhlak dan budaya.

Kiai Said menjelaskan segala hal yang ada di tengah masyarakat Nusantara selama tidak bertentangan dengan syariat Islam tidak dinafikan melainkan dilestarikan dan dijiwai dengan spirit agama Islam. Hal itu menunjukkan hubungan budaya dan agama di Nusantara sudah menyatu.

Lebih lanjut dia mengatakan agama dan budaya merupakan amanah. Perbedaannya agama tidak boleh berubah dan berbeda terkait aqidah dan syariat antara satu orang dengan lainnya kendati berbeda negara. Sementara budaya juga merupakan amanah Allah yakni amanah insaniyah di mana manusia diamanatkan untuk membangun peradaban.

"Jadi yang berbeda antara Timur Tengah dengan Nusantara budayanya, kepribadian, peradabannya. Aqidah syariah sama, budayanya tidak sama. Budaya kita lebih mulia dari budaya orang Arab, lebih bermartabat. Kita di sini tidak mudah perang, tidak mudah membunuh. Pilpres kemarin kayaknya hampir perang saudara, tapi tidak, selesai sudah tidak ada masalah," katanya.

Karena itu menurut Kiai Said Islam Nusantara merupakan topologi Islam, Islam ramah, santun moderat dan toleran. Kiai said berharap dengan Islam Nusantara menjadi solusi ditengah kebuntuan yang dihadapi negara-negara Islam di Timur Tengah.

"Mudah-mudahan saatnya Islam Indonesia, Malaysia, Brunei dan sekitarnya menjadi kiblatul muslimin, kiblat budaya, peradaban. Itulah Islam Nusantara," katanya. (RM)