Mencermati Strategi Iran, Amerika dan Israel hingga Hari Ke-26 Perang Ramadan
-
Tembakan rudal Iran
Pars Today- Suara negosiasi dan gencatan senjata terdengar di kubu Barat, sementara Iran tidak terburu-buru untuk gencatan senjata, baik secara lahir maupun batin.
Menurut laporan Pars Today mengutip FNA, apa yang terjadi di kawasan saat ini tidak lagi dapat dijelaskan dengan istilah “peningkatan ketegangan”. Kita menghadapi jenis perang baru. Perang yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga melibatkan tekanan ekonomi dan politik yang penting. Dalam kondisi ini, negosiasi dan konflik berlangsung secara bersamaan. Oleh karena itu, pertanyaan utama bukan lagi kapan perang akan berakhir, tetapi pihak mana yang dapat menentukan jalannya perang dan kondisi akhirnya.
Secara lahiriah, Amerika Serikat sekarang mencoba untuk masuk melalui jalur diplomasi. Munculnya kemungkinan pertemuan antara pejabat Amerika dan Iran di media Barat dan Israel juga merupakan bagian dari kerangka kerja ini.
Tindakan ini pada pandangan pertama menunjukkan upaya untuk meredakan ketegangan, tetapi sebenarnya menunjukkan bahwa Washington telah menyadari bahwa melanjutkan konflik akan menimbulkan biaya yang besar. Sederhananya, Amerika Serikat lebih mencari jalan keluar dari situasi saat ini daripada menjadi pengarah penurunan ketegangan.
Di sini, sebuah fakta penting telah muncul:
Iran mencoba untuk mengelola waktu demi keuntungannya, tetapi Amerika Serikat terlibat dalam mengelola krisis.
Di sinilah retorika Trump mendapatkan makna, ia berusaha (meskipun terkesan kurang terencana) membangun narasi kemenangan untuk dijual kepada pemilih Republik. Tak lama kemudian, ia mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan melakukan kejahatan perang, mungkin untuk menahan pihak Iran dan mengelola krisis. Ketika ancaman tersebut tidak membuahkan hasil, ia mencoba mengangkat kembali isu negosiasi untuk kembali mengelola situasi.
Keseluruhan situasi ini lebih mencerminkan kurangnya program yang jelas daripada strategi yang terhitung. Intinya adalah, rencana awal, yaitu menggulingkan pemerintahan Iran, telah menemui kegagalan, dan sekarang hanya tersisa manuver-manuver media, propaganda, militer, dan politik untuk mengelola situasi dan keluar dari perang dengan cepat dan, yang terpenting, dengan bermartabat.
Di sisi lain, posisi Iran tampak lebih terkoordinasi. Pernyataan pejabat Iran yang menghubungkan berakhirnya perang dengan pencabutan sanksi dan kompensasi kerugian, menunjukkan bahwa Iran menggunakan perang sebagai alat untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi, bukan sebagai tujuan akhir.
Di tingkat regional, beberapa negara berusaha mencegah eskalasi konflik. Negara-negara seperti Mesir, Turki, dan Pakistan telah turun tangan karena mereka menyadari bahwa kelanjutan situasi ini dapat mengubah secara fundamental seluruh wilayah. Laporan juga menyebutkan adanya kontak luas antara negara-negara ini dengan Iran dan Amerika Serikat untuk mengendalikan situasi.
Oleh karena itu, jika ketegangan mereda, kemungkinan hasilnya adalah tekanan dari beberapa negara, bukan keputusan sepihak.
Di dalam Israel, situasi menjadi lebih rumit. Tekanan meningkat di front utara, dan ancaman telah mencapai wilayah-wilayah penting rezim tersebut. Hal ini menantang sistem pencegahan Israel secara serius. Selain itu, tanda-tanda ketidakpuasan dan ketegangan internal juga terlihat, yang semakin meningkat seiring berpanjangnya perang dan dapat mempersulit pengambilan keputusan.
Strategi keamanan Israel juga menghadapi tantangan serius. Keunggulan militer dan teknologi saja tidak lagi cukup untuk meraih kemenangan, terutama dalam situasi di mana pihak lawan memiliki taktik dan strategi yang fleksibel, dan beberapa front aktif secara bersamaan.
Oleh karena itu, tampaknya Israel menjauh dari tujuan “kemenangan cepat dan tegas” dan bergerak menuju “mengelola konflik yang berkepanjangan”, sebuah situasi yang masa depannya penuh dengan ketidakpastian.
Dari segi ekonomi, konflik ini tidak hanya terbatas pada kawasan. Serangan terhadap fasilitas energi dan ketidakamanan jalur pengiriman dapat menyebabkan gangguan di pasar global dan kenaikan harga. Dalam situasi di mana ekonomi dunia sudah menghadapi masalah rantai pasokan, kelanjutan situasi ini dapat menciptakan tekanan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, tampaknya tatanan lama di kawasan sedang berubah. Metode-metode sebelumnya, seperti mengandalkan kekuatan militer atau pencegahan sepihak, tidak lagi efektif dengan sendirinya.
Amerika Serikat belum sepenuhnya keluar dari kawasan, tetapi tidak lagi dapat mengendalikan situasi sendirian seperti di masa lalu. Iran juga tidak mencari kemenangan militer yang cepat, melainkan berusaha secara bertahap mengubah aturan permainan.(sl)