Respon Zarif atas Statemen terbaru Trump soal Kesepakatan dengan Iran
-
Zarif-Trump
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif saat merespon statemen terbaru Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan dengan Iran di akun Twitternya menulis, "Trump! Tidak seperti upaya bawahan Anda, kami telah mencapai pertukaran kemanusiaan, selain itu, kami telah meraih sebuah kesepakatan ketika Anda memasuki Gedung Putih."
"Iran dan anggota JCPOA lainnya tidak pernah meninggalkan meja perundingan. Justru para penasihat Anda yang sebagian besar sudah dipecat, telah melakukan pertaruhan yang bodoh, dan terserah Anda kapan akan memperbaikinya.," ungkap Zarif.
Donald Trump, Jumat (5/6) kembali berterimakasih kepada Iran karena telah membebaskan mantan marinir Amerika, Michael White.
Di akun Twitternya, Trump menulis, sangat luar biasa Michael bisa kembali ke rumah. Baru saja tiba. Sangat menarik. Terimakasih Iran. Jangan tunggu hingga selesai pemilu Amerika untuk menciptakan kesepakatan besar. Saya akan menang pemilu. Sekarang Anda akan membuat kesepakatan yang lebih baik.
Presiden Amerika menganggap dirinya mampu memperlakukan Iran seperti apa yang ia lakukan terhadap sejumlah negara kawasan lainnya sejak ia berkuasa di Gedung Putih. Di sisi lain, perilaku Amerika saat ini telah menjadi sebuah skandal internasional. Aksi demo terbaru di AS memprotes pembunuhan seorang warga kulit hitam di tangan polisi kulit putih dengan slogan "Kami tidak dapat Bernafas", mengungkapkan realita ini.
Hari ini, bagi Trump, yang sangat terlibat dalam perselisihan internal dan kemarahan publik yang meluas dan masalah-masalah yang disebabkan oleh penyebaran luas virus corona karena manajemen yang buruk, menjadi semakin jelas bahwa era kebijakan penindasan dan pemerasan telah terhenti. Dan selama Amerika tidak menghentikan kebijakan kelirunya, maka negara ini tidak akan keluar dari kebuntuan yang ada.
Jelas bahwa tujuan diplomasi Amerika bukan perundingan, tapi kebijakan berbau ofensif. Tweet usulan untuk berunding dan mencapai kesepakatan sejatinya halusinasi dan kekacuaan mental presiden Amerika serta penasihatnya akibat kesalahan ganda, ancaman dan perundingan. Di tweet terbaru Trump juga dapat disaksikan pendekatan seperti ini yang berusaha mendiktekan kepada opini publik bahwa Amerika mampu menyeret Iran ke meja perundingan.
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani Jumat (5/6/2020) di akun twitternya menulis, kondisi Presiden Amerika Donald Trump, baik dalam interaksi internasional maupun ketidakmampuan mengatasi wabah Corona, dan sikapnya menyulut api rasisme di dalam negeri, sedemikian rusak hingga memaksa kabinetnya memproduksi dan menunjukkan prestasi-prestasi fiktif.
Terkait mengapa Iran menolak berunding dengan Amerika, pidato Rahbar Ayatullah Khamanei di berbagai kesempatan secara jelas menunjukkan alasannya.
Ayatullah Khamenei terkait hal ini di statemennya di awal pelajaran tingkat mujatahid di awal tahun ajaran Hauzah Ilmiah tahun lalu menilai tujuan Amerika dari perundingan bukan untuk menemukan solusi yang adil, tapi memaksakan keinginan congkaknya.
Rahbar mengatakan, "Kebijakan pemerintah Amerika adalah represi maksimum terhadap Iran dalam bentuk beragam sanksi, ancaman dan omong kosong. Karena pemerintah Amerika saat ini meyakini dengan konfrontasi langsung dan basa basi tidak mungkin membuat Iran menyerah serta memaksanya menyerah."
"Oleh karena itu, petinggi negara mulai dari presiden, menlu dan lainnya satu suara menyatakan bahwa Kami tidak akan berunding dengan AS, tidak perundingan bilateral maupun multilateral," papar Rahbar.
Tweetan Zarif saat merespon usulan tersirat presiden AS untuk berunding dan mencapai kesepakatan dengan Iran mengingatkan akan poin ini. (MF)