Pemilu Malaysia 2022: Persaingan Ketat, Yang Akan Menang Sulit Diprediksi
Nov 18, 2022 18:12 Asia/Jakarta
-
Anwar Ibrahim, politisi Malaysia
Para ahli memperkirakan pemilihan umum Malaysia pada Sabtu (19/11) akan berlangsung ketat. Siapa yang akan menang juga tidak bisa diprediksi.
Koalisi Barisan Nasional yang sempat berkuasa memiliki kesempatan kembali ke tampuk kekuasaan. Penguasa Malaysia selama beberapa dekade itu kalah secara menyakitkan dari koalisi Pakatan Harapan pada pemilu 2018 lalu.
Sayangnya kemenangan bersejarah Pakatan Harapan yang dimotori politikus Anwar Ibrahim tidak awet. Pertikaian hingga berujung dugaan pengkhianatan membuat pemerintahan Pakatan Harapan runtuh.
Ketua Pakatan Harapan sekaligus Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad memutuskan untuk mengundurkan diri setelah 22 bulan menjabat. Sejak itu, Malaysia mengalami dua kali lagi pergantian Perdana Menteri.
Krisis politik Malaysia sampai sekarang tidak usai. Pada ujungnya, otoritas Malaysia sepakat mempercepat pemilu yang tadinya 2023 jadi akhir 2022.
Harapan digelarnya pemilu dini ini pun membumbung tinggi. Bukan hanya untuk menyelesaikan krisis politik, pemerintahan baru diperlukan demi mengadang ancaman resesi pada 2023.
Sebanyak 945 kandidat mencalonkan diri untuk 222 kursi parlemen yang tersedia. Tentunya setiap partai dan koalisi menginginkan kemenangan.
Ketua koalisi Pakatan Harapan Anwar Ibrahim menginginkan kemenangan pada pemilu 2022 dapat membentuk pemerintahan lebih stabil dibanding 2018 lalu.
Dengan kepercayaan diri tinggi, Anwar mantap kembali maju dalam bursa pemilihan PM. Ini adalah upaya kesekian Anwar merebut kursi orang nomor satu setelah lebih dari dua dekade gagal mendapat kemenangan.
Upaya Anwar akan mendapat perlawanan dari beberapa calon kuat lain seperti petahana Ismail Sabri Yakoob, pejabat PM terlama Mahathir Mohamad, hingga eks PM Muhyiddin Yasin.
Harus Dapat 112 Kursi
Keyakinan Anwar dan penantangnya utamanya Koalisi Barisan Nasional hingga calon-calon lain tentu tidak mudah. Untuk membentuk pemerintahan Malaysia dibutuhkan 112 kursi.
Pakatan Harapan menjadi koalisi oposisi terbesar dengan jumlah kandidat terbanyak yaitu 2016 kandidat. Sedangkan Barisan Nasional akan menerjunkan 178 kandidat dalam pemilu tahun ini. Koalisi lainnya yang patut diperhitungkan adalah koalisi Perikatan Nasional dengan 149 kandidat.
Namun sampai saat ini, hasil pemilu masih sulit diprediksi. Jajak pendapat terakhir memperlihatkan mayoritas dari 21 juta pemegang suara di Malaysia bimbang menentukan pilihan pada Sabtu mendatang.
“Ini akan menghasilkan perdagangan kuda politik, brinkmanship dan tawar-menawar yang kompleks di antara koalisi, termasuk siapa yang menjadi Perdana Menteri Malaysia berikutnya,” ucap kata peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute Norshahril Saat seperti dikutip dari CNBC. (Kumparan.com)
Tags