Mengapa Friksi Saudi dan UEA Meningkat ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i101046-mengapa_friksi_saudi_dan_uea_meningkat
Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama ini akur belakangan sedikit renggang karena ada peningkatan perbedaan dalam menyikapi dinamika regional.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jul 12, 2021 16:07 Asia/Jakarta
  • Mengapa Friksi Saudi dan UEA Meningkat ?

Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama ini akur belakangan sedikit renggang karena ada peningkatan perbedaan dalam menyikapi dinamika regional.

Sejak awal protes rakyat di dunia Arab meletus, UEA telah bergerak sejalan dengan kebijakan Arab Saudi. Puncak dari keselarasan ini terlihat jelas dalam perang Yaman yang menempatkan UEA sebagai sekutu terpenting Arab Saudi memerangi rakyat Yaman. Tapi dalam perkembangan dua tahun terakhir, ada beberapa tanda keretakan antara UEA dan Arab Saudi.

Pertama, indikasi perselisihan awal terlihat pada 2019, ketika UEA memutuskan untuk menarik pasukannya dari koalisi pimpinan Saudi di Yaman selatan. "Tanda pertama keretakan hubungan UEA dari Arab Saudi pada 2019 terlihat dengan berakhirnya kehadiran militer UEA di Yaman," tulis Reuters dalam analisis baru-baru ini.

Langkah UEA tersebut menyebabkan Riyadh sendirian dalam perang yang mahal di Yaman. Selain itu, Abu Dhabi juga menjadi gangguan bagi Riyadh dengan mendukung pasukan Dewan Transisi Selatan yang menantang pemerintahan dukungan Saudi di Yaman Selatan.

Kedua, indikasi lain dari perbedaan antara UEA dan Arab Saudi dalam masalah Qatar. Al-Saud meredakan ketegangan dengan Qatar tanpa persetujuan dari UEA, Bahrain dan Mesir. Pakar Arab, Abdul Bari Atwan menilai UEA merasa ditipu Arab Saudi dalam masalah ketegangan dengan Qatar. Muhammed bin Salman, yang tidak puas dengan penarikan pasukan Emirat dari Yaman selatan, tampaknya telah menanggapi tindakan UEA melalui pemulihan hubungan dengan Qatar.

 

 

Ketiga, indikasi meningkatnya ketegangan antara UEA dan Arab Saudi berkaitan dengan normalisasi hubungan dengan Israel. UEA adalah negara Arab pertama di kawasan Teluk Persia yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada September 2020. Abu Dhabi memandang Riyadh juga akan bergerak menuju normalisasi hubungan dengan Tel Aviv. Muhammed bin Salman bahkan bertemu dengan mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Arab Saudi, tetapi faktanya Riyadh tidak bergerak menuju normalisasi hubungan dengan Tel Aviv, yang membuat Abu Dhabi tidak senang.

Keempat, indikasi lainnya dari eskalasi perselisihan antara UEA dan Arab Saudi lebih jelas dari tiga tanda lainnya terlihat pada pertemuan OPEC Plus. Perbedaan antara dua produsen utama OPEC ini meningkat pada pertemuan OPEC Plus baru-baru ini yang diangkat ke publik di televisi.

 

 

Pasalnya, Riyadh bersikeras dengan rencananya, yang didukung oleh anggota OPEC Plus lain, termasuk Rusia. Menurut rencana, produksi minyak akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan, tetapi perjanjian pembatasan pasokan yang bertujuan menstabilkan pasar harus diperpanjang hingga akhir 2022. Sementara itu, UEA menentang rencana tersebut dan menyerukan peningkatan produksi minyak tanpa syarat.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman kepada Bloomberg TV mengatakan, "Seluruh kelompok menentang satu negara. Ini fakta yang menyedihkan bagi saya tapi terjadi. Abu Dhabi terisolasi dalam aliansi OPEC Plus,".

Sesaat sebelum pernyataan Menteri Energi Saudi, Soheil al-Mazrouei, mitranya dari UEA menolak perpanjangan dan hanya mendukung peningkatan produksi jangka pendek, serta menyerukan kondisi yang lebih baik untuk negaranya pada tahun 2022. Ia menegaskan, "UEA menginginkan peningkatan produksi tanpa syarat yang diminta pasar. Oleh karena itu,  keputusan untuk memperpanjang perjanjian hingga akhir 2022 tidak perlu dilakukan sekarang."(PH)