Nabih Berri: Gencatan Senjata Palsu Ini Membuat Israel semakin Ganas
-
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri
Pars Today – Ketua Parlemen Lebanon mengatakan bahwa gencatan senjata palsu ini telah memungkinkan Israel untuk memperkuat agresinya tanpa adanya intervensi apa pun dari Amerika Serikat untuk memaksanya menghentikan serangan.
Seperti dilaporkan Klub Jurnalis Muda (YJC); Ketua Parlemen Lebanon, merujuk pada kelanjutan serangan rezim Zionis di Lebanon selatan, mengatakan: "Gencatan senjata palsu ini telah memungkinkan Israel untuk memperkuat agresinya tanpa adanya intervensi apa pun dari Amerika Serikat untuk memaksanya menghentikan serangan dan memantapkan gencatan senjata, serta melakukan pembantaian dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Dikutip dari al-Nashra, Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon, dalam sikap terbarunya membahas perpanjangan gencatan senjata selama tiga pekan yang dimediasi oleh Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dan bertanya: "Di mana gencatan senjata ini? Apakah Israel telah berhenti menghancurkan kota-kota dengan buldoser, merobohkan rumah-rumah, menumpahkan darah anak-anak, wanita, dan orang tua, mencegah penyelamatan korban luka dan pemindahan mereka ke rumah sakit dengan ambulans, atau menarik keluar orang-orang yang terperangkap di bawah reruntuhan hingga mereka meninggal?"
Ia juga, merujuk pada serangan Israel terhadap pusat-pusat kesehatan dan petugas penyelamat serta gugurnya puluhan dari mereka akibat serangan ini, mengajukan pertanyaan: "Apakah semua korban ini, menurut klaim Israel untuk membenarkan penghancuran kota-kota di selatan, adalah bagian dari infrastruktur militer Hizbullah?"
Nabih Berri menegaskan: "Apa gunanya berunding di bawah tekanan Israel? Dan apa yang akan kita katakan kepada keluarga para syuhada dari pengkhianatan Israel di selatan?"
Ketua Parlemen Lebanon, dalam komentar pertamanya tentang pernyataan Kedutaan Besar AS di Beirut yang meminta Presiden Joseph Aoun untuk mengadakan pertemuan langsung dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa pernyataan itu berbicara sendiri dan dia tidak memiliki apa pun untuk ditambahkan.
Perlu dicatat bahwa militer rezim Israel sejak tanggal 2 Maret lalu (11 Esfand) melancarkan perang agresifnya terhadap Lebanon, menyerang berbagai wilayah di negara itu, terutama kota-kota di selatan, yang mengakibatkan sejumlah warga Lebanon gugur dan terluka. Setelah itu, meskipun gencatan senjata diumumkan di Lebanon pada 17 April 2026, rezim Zionis dengan lampu hijau dari Amerika Serikat terus melanjutkan serangan brutalnya ke Lebanon selatan serta membantai dan mengubur rakyat negeri itu. (MF)