4. Poin Penting Tentang Kedua Ayah dan Ibu (3)
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i31641-4._poin_penting_tentang_kedua_ayah_dan_ibu_(3)
Kisah Dari Ayatullah Agha Bozourg Tehrani Almarhum Ayatullah Haj Syeikh Agha Bozorg Tehrani seorang ulama besar, ahli zuhud juga ahli ibadah serta pakar hadis dan rijal serta penulis Al-Dzari’ah Ila Tashanif as-Ssyi’ah dan buku A’laam as-Syiah mengatakan:
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Jan 23, 2017 12:04 Asia/Jakarta
  • Dunia dan Akhirat
    Dunia dan Akhirat

Kisah Dari Ayatullah Agha Bozourg Tehrani Almarhum Ayatullah Haj Syeikh Agha Bozorg Tehrani seorang ulama besar, ahli zuhud juga ahli ibadah serta pakar hadis dan rijal serta penulis Al-Dzari’ah Ila Tashanif as-Ssyi’ah dan buku A’laam as-Syiah mengatakan:

Waktu itu saya masih kanak-kanak. Rumah kami di Tehran Pamnar. Nenek [ibunya ayah] kami beberapa hari yang lalu telah meninggal dunia. Di rumah diselenggarakan acara tahlilan dan sudah selesai. Suatu hari ibu saya membuat nasi cherry. Ketika waktu Zuhur, ada seorang pengemis meminta di gang. Ibu saya yang sedang berada di dapur mendengar suara pengemis sedang meminta. Untuk menghadiahkan kebaikan pada ruh nenek saya [mertuanya] yang baru meninggal dunia, ibu ingin memberikan makanan kepada pengemis tersebut, tapi tidak menemukan wadah yang bersih. Karena tergesa-gesa jangan sampai pengemis pergi, ibu meletakkan nasi cherry pada ember kamar mandi yang ada dan memberikannya kepada sang pengemis, dan tidak seorangpun tahu masalah ini.

Pertengahan malam ayah saya terbangun dari tidurnya dan membangunkan ibu saya, seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan hari ini?”

Ibu saya menjawab, “Tidak tahu.”

Ayah saya berkata, “Baru saja aku melihat ibu dalam mimpi. Beliau berkata kepadaku, “Aku mengeluhkan menantuku. Hari ini dia menjatuhkan harga diriku di hadapan orang-orang yang telah mati. Dia mengirim makananku dengan ember. Apa yang engkau lakukan?”

Ibu saya berkata, “Apapun yang aku pikirkan menemui jalan buntu. Tiba-tiba aku terpikir untuk memberikan nasi cherry kepada seorang pengemis dengan niat aku hadiahkan [pahalanya] untuk ruh [ibu] yang baru meninggal dunia dan menjadi makanan di alam sana untuk almarhum [ibu]. Karena diberikan kepada pengemis dengan bentuk yang tidak tepat, makanan itu dibawa ke alam malakut untuk ibu mertua dengan cara yang sama dan dia mengeluh karena hal ini.”

Iya, beliau mengeluh mengapa makananku diberikan kepada pengemis dalam bentuk lahirnya berupa nasi cherry dan dalam bentuk malakutnya berupa sebuah wadah cahaya yang diletakkan di atas ember kamar mandi dan penghinaan kepada pengemis itu yakni penghinaan kepada ruh orang yang mati.

Seseorang yang ingin melakukan segala kebaikan, maka hendaknya dilakukan dengan penghormatan, baik itu kepada pengemis maupun kepada orang miskin. (Ma’ad Shenasi, jilid 1, hal 188)

Kisah Dari Allamah Thabathabai

Sayid Allamah Thabathabai mengatakan, “Merupakan sebuah keajaiban, ketika sebuah surat dari Tabriz; dari saudara kami sampai di Qom. Di dalam surat itu saudara kami menulis bahwa salah satu murid yang bisa menghadirkan ruh telah menghadirkan ruh ayah kami dan kami menyampaikan beberapa pertanyaan padanya. Beliau menjawab dan sepertinya beliau mengeluhkan engkau bahwa engkau tidak menyertakannya dalam pahala tafsir yang engkau tulis ini.

Sayid Allamah Thabathabai mengatakan, “Murid itu tidak mengenal saya dan tidak tahu terkait tafsir kami. Saudara kami juga tidak menyebutkan nama saya di situ. Bila saya tidak menyertakan ayah saya dalam pahala tafsir, maka tidak seorang pun tahu selain Allah dan saya. Bahkan saudara saya sendiri tidak tahu. Karena masalah ini kembali pada hati dan niat saya.

Ketika surat saudaraku sampai padaku, aku benar-benar malu.  Saya katakan, “Ya Allah! Bila tafsir ini engkau terima dan berpahala, maka saya menghadiahkan pahalanya untuk ayah dan ibu saya. Aku belum membalas surat saudaraku ke Tabriz dan belum menyampaikan masalah ini. Beberapa hari kemudian datang surat dari saudaraku yang tertulis, “Semoga Allah memberikan umur padanya dan mendukungnya, Sayid Muhammad Husein telah mengirim hadiah kepada kami.” (Ma’ad Shenasi, jilid 1, hal 184)

Kebutaan Mata Karena Membutakan Mata Air

Salah seorang pemuka ahli ilmu dan bertakwa menceritakan bahwa salah satu keluarganya di akhir kehidupannya membeli sebuah tanah pekarangan dan memanfaatkannya dalam hidupnya. Setelah kematiannya ada yang melihat dia dalam mimpi dan dia dalam keadaan buta. Dia ditanya sebabnya, mengapa di alam barzakh engkau buta?

Dia menjawab, “Tanah pekarangan yang aku beli, di tengah-tengahnya ada sebuah sumber mata air. Warga desa sebelah datang mengambil air darinya dan memberi minum kepada hewan-hewan mereka. Karena kedatangan dan kepergian mereka, sebagian ladangku mengalami kerusakan. Akhirnya aku menutup sumber mata air itu dan mengeringkannya dengan tanah, batu dan kapur, supaya keuntunganku dari ladang itu tidak berkurang dan mencegah bolak balik mereka. Para tetangga desa akhirnya harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mendapatkan air. Kebutaanku ini karena membutakan mata air itu.

Dikatakan kepadanya, “Apakah ada jalan keluarnya?”

Dia menjawab, “Bila ahli waris menyayangiku, dan membuka kembali sumber mata air itu supaya bisa digunakan oleh para tetangga, maka kondisiku akan membaik.”

Pemuka ahli ilmu itu mengatakan, “Saya mendatangi para ahli warisnya dan mereka menerima dan membuka sumber mata air itu. Setelah beberapa waktu aku melihat almarhum itu dalam mimpi dalam keadaan melihat dan mengucapkan terima kasih.

Seseorang harus tahu bahwa apa saja yang dilakukannya, adalah dilakukan untuk dirinya sendiri.

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS, Baqarah: 286) (Dastanha-ye Shegeft) (Emi Nur Hayati) 

Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak