5. Kisah-Kisah Penuh Pelajaran Tentang Ayah Dan Ibu (1)
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i31911-5._kisah_kisah_penuh_pelajaran_tentang_ayah_dan_ibu_(1)
Sayid Ayatullah Marashi Najafi dan Penghormatan Pada Ayah
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 28, 2017 14:05 Asia/Jakarta
  • Berbakti kepada orangtua
    Berbakti kepada orangtua

Sayid Ayatullah Marashi Najafi dan Penghormatan Pada Ayah

Beliau menceritakan; suatu hari ibu saya berkata, “Panggillah ayahmu untuk makan siang!” saya naik ke tingkat atas. Di sana ayah saya yang sedang membaca ternyata ketiduran. Saya bingung harus bagaimana. Ya Allah, bagaimana aku harus menaati perintah ibuku? Dari sisi lain aku khawatir bila aku bangunkan membuat beliau tidak suka. Aku menunduk dan meletakkan bibirku di telapak kaki ayah dan aku cium berkali-kali, supaya geli dan terbangun dari tidur. Beliau terbangun dan melihat saya. Ayah saya Sayid Mahmoud Marashi ketika melihat kecintaan, takakrama dan kesempurnaan serta penghormatan saya ini, beliau berkata, “Shahabuddin, engkau-kah?”

Saya katakan, “Iya ayah.”

Beliau mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Putraku, semoga Allah meninggikan kemuliaanmu dan menjadikan engkau sebagai pengabdi Ahlul Bait as.”

Kemudian Ayatullah Marashi Najafi mengatakan, “Apapun yang aku miliki adalah dari keberkahan doa ayahku.” (Hughugh-e Valedein, hal 12).

Menghormati Ibu dan Bersahabat Dengan Nabi

Nabi Musa as ketika bermunajat kepada Allah meminta agar Allah mengenalkan kepada dirinya, sahabat surgawinya. Dikatakan kepadanya; Seorang pemuda di daerah fulan, dia adalah sahabatmu di surga.”

Nabi Musa mendatanginya. Beliau melihat seorang pemuda pejagal. Dia memperhatikan dari jauh untuk melihat amalan luar biasa dan penuh nilai apakah yang akan dilakukannya sehingga mendapatkan nikmat besar semacam ini. Tapi semakin beliau memperhatikannya, pemuda itu tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Sampai tiba waktu malam dimana pemuda itu meninggalkan tempat kerjanya dan berjalan menuju rumahnya.

Nabi Musa pergi mendekatinya tanpa mengenalkan dirinya dan meminta kepada pemuda itu untuk menjadi tamunya malam itu dan menginap di rumahnya. Boleh jadi dengan cara ini beliau bisa memahami hubungan spesialnya dengan Allah dan mengetahui rahasia kedudukannya yang tinggi. Pemuda itu menerima permohonan Nabi Musa dan membawanya ke rumahnya.

Nabi Musa melihat, ketika pemuda itu masuk ke dalam rumah, sebelum mengerjakan yang lainnya, dia memasak terlebih dahulu kemudian mendatangi seorang wanita tua yang sudah lumpuh tangan dan kakinya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mendekati wanita tua itu dan menyuapinya sampai kenyang. Kemudian mengganti bajunya dan membantunya untuk buang air kecil atau air besar. Kemudian meletakkan kembali wanita tua itu ke tempatnya.

Pada malam itu, Nabi Musa tidak melihat pemuda itu melakukan amalan lain selain kewajiban agamanya. Dia tidak berdoa di pertengahan malam, juga tidak menangis dan bermunajat dan tidak juga melakukan amalan yang luar biasa. Hari berikutnya, sebelum pemuda ini keluar dari rumahnya, Nabi Musa melihat pemuda ini menyuapi wanita itu makanan dan dengan akrab membantu pekerjaan-pekerjaannya. Ketika pamitan, Nabi Musa bertanya kepada pemuda itu, “Siapakah wanita ini? Mengapa setelah engkau menyuapinya, dia menghadap ke langit dan mengucapkan sesuatu? Apakah kata-kata itu?”

Pemuda itu berkata, “Wanita ini adalah ibuku. Setiap kali aku menyuapinya dan dia kenyang, dia mendoakan aku dan mengatakan, “Ya Allah. Sebagai pahala pengabdian yang dilakukan anakku kepadaku, jadikan dia sebagai sahabat dan teman Musan bin Imran di surga!”

Ketika Nabi Musa as mendengar kejadian ini, beliau mengabarkan kepada pemuda ini bahwa doa ibunya terkait dia terkabulkan. Kemudian beliau mengenalkan dirinya dan menceritakan tentang kisah munajatnya kepada Allah dan ucapan Allah kepadanya. (Pand-e Tarikh, jilid 1, hal 68)

Ketidakridhaan Ayah dan Ibu Menyulitkan Kematian

Rasulullah Saw sedang menunggui seorang pemuda yang sedang sekarat. Tapi kematian baginya sangat sulit. Rasulullah Saw memanggilnya, dan dia menjawab. Rasulullah Saw bertanya, “Apa yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Saya melihat dua orang hitam berdiri di hadapan saya dan saya takut pada mereka.”

Rasulullah Saw bertanya kepada orang-orang sekitar, “Apakah pemuda ini punya ibu?”

Ibunya datang dan berkata, “Iya. Wahai Rasulullah! Saya adalah ibunya.”

Rasulullah Saw bertanya, “Apakah engkau meridhainya?

Dia menjawab, “Saya tidak meridhainya. Tapi karena Anda, sekarang saya meridhainya.”

Pada saat itu pemuda itu pingsan. Ketika dia sudah siuman, dia dipanggil kembali dan menjawab. Rasulullah Saw bertanya, “Apa yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Dua orang hitam itu telah pergi dan sekarang ada dua orang putih dan bercahaya datang dan saya gembira melihatnya.”

Setelah itu dia meninggal dunia. (Pand-e Tarikh, jilid 1, hal 76)

Kasih Sayang Berlipat Ganda

Ammar bin Hayyan mengatakan bahwa saya berkata kepada Imam Shadiq as, “Ismail putraku berbuat baik padaku.”

Imam Shadiq as berkata, “Saya mencintainya. Sekarang kecintaan saya kepadanya lebih besar.” (Pand-e Tarikh, jilid 1, hal 81)

Memukul Ibu Berarti Membakar Akhirat

Mulla Ali Kazerani, pemukim Kuwait sering mimpi yang benar dan bisa bermukasyafah. Beliau menukil:

“Suatu malam, di alam mimpi saya melihat sebuah taman yang luas dan tidak berujung. Saya melihat di sana ada sebuah istana yang benar-benar megah dan besar. Saya heran ini milik siapa? Saya bertanya kepada penjaga pintu.

Dia mengatakan, “Ini adalah milik Habib Najjar Shirazi. Saya mengenalnya dan bersahabat dengannya. Pada saat itu saya merasa ghibthah [ingin] dengan posisi yang dimilikinya. Setelah itu, tiba-tiba ada kilat dari langit menyambarnya dan seketika itu juga semua istana dan taman itu terbakar dan punah. Seakan-akan sejak awal tidak ada. Saya terbangun karena ketakutan. Saya tahu dia telah berbuat dosa sehingga menyebabkan kedudukan ini hilang darinya. Begitu waktu pagi tiba, aku menemuinya dan berkata, “Tadi malam amalan apa yang engkau lakukan?”

Dia bilang, “Tidak ada apa-apa.”

Saya menyumpahnya dan saya berkata, “Ada rahasia yang harus dibongkar.”

Dia berkata, “Tadi malam pada jam fulan, aku debat dengan ibu sampai akhirnya aku memukulnya.”

Kemudian saya menceritakan mimpi itu dan saya berkata, “Engkau telah menyakitimu ibumu dan engkau telah kehilangan kedudukan seperti ini.” (Emi Nur Hayati) 

Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak