Boikot Konferensi Investasi, Mimpi Buruk Bin Salman
-
konferensi investasi internasional Riyadh
Konferensi investasi bertaraf internasional yang dijuluki "Davos in The Desert", dibuka di Riyadh, Arab Saudi pada hari Selasa (23/10/2018) dengan pemandangan banyaknya kursi kosong.
Konferensi internasional, Future Investment Initiative (FII) diselenggarakan di bawah bayang-bayang kasus pembunuhan wartawan pengkritik pemerintah Saudi, Jamal Khashoggi. Kasus ini tidak diragukan telah menciptakan krisis politik hebat di dalam negeri Saudi dan tampaknya memupus harapan pejabat Riyadh untuk menarik investasi asing.
Sejumlah besar negara dunia, organisasi dan korporasi internasional memboikot konferensi investasi berskala internasional ini. Sebagaimana diketahui, konferensi investasi internasional yang akan berlangsung hingga tanggal 25 Oktober 2018 di Riyadh ini, merupakan salah satu bagian dari upaya pemerintah Riyadh untuk menarik investasi asing demi mewujudkan proyek ambisius dan utopis, Saudi Vision 2030.
Untuk mencegah publikasi lebih luas tentang berita kegagalan konferensi investasi, Davos in The Desert, penyelenggara acara menghapus beberapa nama pembicara dari situs resmi konferensi ini dan secara sengaja tidak mencamtumkan informasi tentang jumlah peserta.
Pada saat yang sama, seiring dengan dimulainya konferensi investasi Davos in The Desert, perekonomian Saudi menghadapi masalah anjloknya indeks bursa saham dalam negeri yang menjadi dampak pertama kegagalan konferensi ini di bidang ekonomi.
Sejumlah peristiwa terjadi di sela konferensi investasi Riyadh yang semakin membuktikan kegagalan pertemuan internasional ini. Pada situasi seperti ini, Putra Mahkota Saudi yang dijadwalkan memberikan pidato, malah meninggalkan ruangan acara tanpa berdiri di podium terlebih dahulu. Sikap Mohammed bin Salman ini secara tidak langsung adalah bentuk pengakuan atas kegagalan penyelenggaraan konferensi investasi Riyadh.
Davos in The Desert digelar untuk menarik investasi asing dalam rangka mewujudkan proyek ambisius Saudi Vision 2030 yang digagas oleh bin Salman, namun kasus pembunuhan Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki telah menggagalkannya.
Lebih dari 62 tokoh, organisasi dan media juga ikut memboikot konferensi ini dan membatalkan kehadirannya. Di sisi lain, bersamaannya konferensi investasi Riyadh dengan pidato Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang mengungkap detail pembunuhan Khashoggi, telah merusak suasana konferensi sejak awal dibuka.
Raja Saudi dan putra mahkota justru melakukan sandiwara dan penipuan publik dengan menemui putra Jamal Khashoggi serta mengucapkan belasungkawa kepadanya, keduanya sengaja tidak menghadiri kelanjutan konferensi investasi Riyadh, padahal konferensi ini sudah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya.
Manuver politik menjijikan semacam inilah salah satunya yang menyebabkan kursi-kursi konferensi kosong, meskipun menurut laporan sebagian media, para pejabat Saudi sudah meminta warga negara itu untuk mengisi kursi-kursi kosong tersebut.
Surat kabar Amerika, Washington Post menulis, seiring dengan tewasnya Jamal Khashoggi, legitimasi Saudi di masa Putra Mahkota, Mohammed bin Salman harus berhadapan dengan krisis politik dan ekonomi yang nyata. Sekalipun jika pemerintahan Presiden Donald Trump mendukung bin Salman, proyek terpenting bin Salman, Saudi Vision 2030 tetap keluar dari jalur yang diinginkan.
Menurut Washington Post, peristiwa-perisiwa yang akan terjadi setelah ini akan mempengaruhi perekonomian kawasan hingga beberapa tahun ke depan. Langkah bin Salman untuk menciptakan diversifikasi dalam ekonomi berbasis minyak Saudi, dan harapan atas investasi asing juga harus menghadapi ancaman serius.
Boikot terhadap konferensi investasi internasional Riyadh dapat menjadi awal diambilnya langkah pertama masyarakat dunia terhadap Saudi yang memiliki masa depan ekonomi yang suram, dan visi ambisius bin Salman jelas akan berubah menjadi sebuah mimpi buruk bagi putra mahkota muda Saudi ini. (HS)