Zig-Zag Baru Saudi di Yaman Selatan
-
Pasukan Dewan Transisi Selatan Yaman
Ketika ketegangan di wilayah Yaman selatan antara kubu loyalis rezim Al Saud dan Uni Emirat Arab semakin meningkat, Arab Saudi berusaha mengubah perjanjian Riyadh demi mengelola krisis di Yaman selatan.
Selama bentrokan antara Dewan Transisi Selatan dan kubu Abd Rabbuh Mansur Hadi Yaman dalam sebulan terakhir, Dewan Transisi Selatan mengambil kendali lembaga-lembaga pemerintah di Aden dan pulau Socotra, bahkan mereka juga berusaha mengendalikan provinsi Shabwa dan Abyan.
Kubu Abd Rabbuh Mansur Hadi yang telah mengundurkan diri mengkritik Arab Saudi yang dianggap bungkam menyikapi sabotase yang dilakukan Dewan Transisi Selatan. Sikap diam Riyadh tersebut dipandang sebagai bentuk pengkhianatan terhadap mereka. Selain itu, perkembangan baru di Yaman selatan menunjukkan bahwa kesepakatan Riyadh pada November 2019 antara kubu Abd Rabbuh Mansur Hadi dan Dewan Transisi Selatan gagal.
Dalam keadaan demikian, Arab Saudi memberikan tawaran baru kepada Abd Rabbuh Mansour Hadi. Penghentian operasi militer di provinsi Abyan dan penempatan pengamat militer di provinsi tersebut, penunjukan pejabat baru untuk provinsi di wilayah selatan sebagai kompensasi karena mencabut otonomi Dewan Transisi Selatan dan mengembalikan uang Bank Sentral yang disita kepada pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan, serta menunjuk perdana menteri baru atau mempertahankan yang ada saat ini selama sebulan, menjadi poin-poin yang diusulkan Riyadh untuk kubu Mansur Hadi. Tapi, ironisnya dalam proposal Riyadh ini tidak ada pelucutan senjata pasukan Dewan Transisi Selatan.
Bersamaan dengan disampaikannya penawaran ini, Arab Saudi berusaha untuk membuat Dewan Transisi Selatan puas. Dalam sebuah editorialnya, surat kabar Qatar Al-Arabi Al-Jadid melaporkan bahwa UEA dan Arab Saudi telah mencapai kesepakatan tentang langkah-langkah baru yang dilakukan Dewan Transisi Selatan.
Riyadh yang menyadari ketidakefisienan kubu Mansur Hadi sedang berusaha mengurangi perbedaan di wilayah selatan Yaman dengan memberikan konsesi kepada Dewan Transisi Selatan. Arab Saudi sedang melakukan pendekatan ini dalam situasi ketika presiden Dewan Transisi Selatan, Idrus al-Zubaidi juga hadir di Riyadh sebagaimana Abd Rabbuh Mansur Hadi.
Kini Mansur Hadi berada dalam kesulitan karena pergerakan pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan sedang mencoba untuk mencegah gerak maju pasukannya. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Sabtu lalu, Mansur Hadi menyebut mereka sebagai "saudara-saudaranya" demi mengakhiri pertempuran.
Pendekatan Mansur Hadi ini menunjukkan bahwa ia telah menarik diri dari permintaan sebelumnya dalam perjanjian November di Riyadh. Mansur Hadi sebelumnya meminta dimensi militer dari perjanjian Riyadh dalam bentuk pelucutan senjata pasukan Dewan Transisi Selatan dilaksanakan terlebih dahulu, dan kemudian membicarakan pembentukan kabinet koalisi di Yaman selatan.
Dengan demikian, Mansur Hadi kini telah menarik diri dari perlucutan senjata pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan, dan berusaha memberikan konsesi politik demi menjaga kendali lembaga-lembaga pemerintah di wilayah selatan Yaman.
Situasi ini menunjukkan bahwa Arab Saudi berupaya mengubah perjanjian November 2019 di Riyadh, padahal selama tujuh bulam terakhir tidak ada klausul dari perjanjian ini yang telah dilaksanakan dalam 7 bulan terakhir.(PH)