Al-Houthi: Perdamaian di Yaman Mengharuskan Agresi Dihentikan
-
Mohammad Ali al-Houthi
Ketua Komite Tinggi Yaman menekankan, perealisasian perdamaian di Yaman membutuhkan dihentikannya agresi serta pencabutan blokade negara ini oleh koalisi agresor.
Seperti dilaporkan al-Alam, Mohammad Ali al-Houthi Senin (8/2/2021) di akun Twitternya menulis, negara-negara yang menyerang Yaman sekedar menebar propaganda untuk merealisasikan perdamaian, karena mereka masih melanjutkan agresinya dan memblokade Yaman, hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan mereka sebagai korban bukannya pembunuh.
Presiden baru Amerika Serikat Joe Biden menyatakan akan menghentikan dukungan operasi militer ke Yaman. Ini mungkin menghentikan perang, tetapi perdamaian tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Menurut laporan Kantor Berita Anadolu, pidato Biden tidak memuat ancaman atau janji kepada pihak manapun dan di kondisi ketika perang dan pemboman berlanjut, ia tidak menunjukkan transparansi atau tekad yang diperlukan untuk proses perdamaian dan pidato ini sekedar dimaksudkan untuk menekankan sikapnya saat kampanye pemilu presiden terkait pentingnya menghentikan perang di Yaman.
Di sisi lain, Gerakan Ansarullah Yaman dan pemerintah Sanaa menyatakan, "Penghentian perang dan pencabutan blokade oleh koalisi Arab Saudi, indikasi tunggal untuk menerapkan perdamaian di Yaman, namun konfrontasi di sejumlah medan pertempuran antara militer dan pasukan relawan rakyat Yaman dengan anasir bayaran serta agresor koalisi Saudi masih terus berlanjut."
Arab Saudi dan sekutunya melancarkan agresi ke Yaman sejak Maret 2015 dan membantai ribuan warga sipil serta menghancurkan infrastruktur Yaman, namun mereka tetap gagal meraih ambisinya karena perlawanan rakyat negara ini. (MF)