Menyimak Motif Kunjungan Al Kadhimi ke Arab Saudi
Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhimi Rabu (31/3/2021) berkunjung ke Arab Saudi dan bertemu dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman (MBS).
11 bulan dari kekuasaan Mustafa al-Kadhimi di Irak berlalu. Ia sejak awal kepemimpinannya telah berencana berkunjung ke Arab Saudi. Tahun lalu, ia dijadwalkan mengunjungi Arab Saudi di lawatan luar negeri pertamanya setelah dilantik sebagai perdana menteri Irak. Namun rencana kunjungan ini dibatalkan dengan alasan Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz tengah sakit dan karena usianya yang telah lanjut. Akhirnya kunjungan luar negeri pertama al-Kadhimi ke Iran.
Meski demikian, al-Kadhimi senantiasa menunjukkan minatnya mengunjungi Arab Saudi dan bertemu dengan petinggi negara ini termasuk Raja Salman. Pada akhirnya keinginan al-Kadhimi terealisasi hari Rabu lalu, namun Raja Arab Saudi tidak bertemu dengannya dan hanya menggelar kontak melalui video konferensi sebelum kunjungan tersebut.
Terkait kunjungan al-Kadhimi ke Arab Saudi, ada dua isu penting. Pertama, pandangan makro dan universal al-Kadhimi terhadap kebijakan luar negeri Irak dan kedua, motif khusus kunjungan ini.
Mustafa al-Kadhimi secara umum melihat Irak sebagai negara Arab dan memperkokoh hubungan dengan negara Arab menjadi prioritasnya. Perdana menteri Irak sejak awal menjabat telah menunjukkan langkahnya untuk menciptakan keseimbangan di dalam negeri dalam menghadapi faksi muqawama di Irak melalui perluasan hubungan dengan negara-negara Arab di luar kubu muqawama termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Oleh karena itu, kunjungan al-Kadhimi saat ini ke Saudi atau minat besarnya untuk melakukan kunjungan ini serta kunjungan diplomatik delegasi Irak dan Saudi yang digelar sebelum lawatan ini, harus dicermati di koridor ini. Padangan al-Kadhimi ini mendapat dukungan kekuatan asing dan berpengaruh di urusan Irak. Perdana menteri Irak di akun Twitternya menyebut kunjungannya ke Arab Saudi untuk memperkokoh ufuk kerja sama bersaudara antara negara-negara kawasan.
Kunjungan saat ini al-Kadhimi ke Arab Saudi juga memiliki nilai penting dari sisi lain.
Saat ini, kendala terbesar yang dihadapi Irak adalah isu ekonomi. Krisis ekonomi menjadi faktor utama terbentuknya aksi demo menentang pemerintah di Irak, aksi demo yang juga berujung pada pengunduran diri Mantan Perdana Menteri Adil Abdul Mahdi pada 2020 lalu. Mustafa al-Kadhimi dengan memperkokoh hubungan dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan menarik investasi ekonomi, berusaha mengurangi kendala ekonomi di negaranya. Sekaitan dengan ini, sebelumnya juga ditandatangani sejumlah kontrak ekonomi dengan Saudi dan tanah di barat dan selatan Irak pengolahannya diberikan kepada Riyadh untuk peternakan dan pertanian.
Sekaitan dengan ini, Hussein Allawi, penasihat al-Kadhimi menyebut kunjungan ini untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang, khususnya di perbatasan darat dan laut, transportasi, serta isu ekonomi dan investasi energi.
Posisi Irak yang berbatasan dengan Arab Saudi dalam hal ini juga berpengaruh. Menurut dubes Arab Saudi di Baghdad, penambahan jalur penyeberangan perbatasan juga menjadi agenda kunjungan al-Kadhimi ke Riyadh.
Selain itu, Irak November mendatang akan menggelar pemilu parlemen dan kemenangan di pemilu ini serta posisi perdana menteri Irak yang saat ini dijabat al-Kadhimi juga sangat penting baginya. Kunjungan luar negeri juga selaras dengan tujuan pemilu Perdana Menteri Irak.
Poin lain adalah Arab Saudi berusaha meningkatkan pengaruhnya di Irak di persaingan regional negara ini dengan kekuatan Asia Barat termasuk Republik Islam Iran. Oleh karena itu, Al Saud juga menyambut pengokohan hubungan ekonomi dan politik dengan Irak.
Poin terakhir adalah meski ada upaya al-Kadhimi memperluas hubungan dengan Arab Saudi, ada pandangan yang kontra di dalam Irak sendiri terkait masalah ini, dan sejumlah kubu terkemuka Irak tidak menyambut perluasan hubungan dengan Riyadh, karena Arab Saudi tercatat sebagai pendukung utama kelompok teroris dan faktor utama instabilitas di Irak. (MF)