Menlu AS dan Inggris Bahas Situasi Selat Hormuz
-
Marco Rubio dan Yvette Cooper
Pars Today – Marco Rubio dan Yvette Cooper berdialog tentang Selat Hormuz dalam sebuah pertemuan.
Menurut laporan Klub Jurnalis Muda (YJC); Marco Rubio dan Yvette Cooper, Menteri Luar Negeri AS dan Inggris, dalam sebuah pertemuan melakukan lobi tentang Selat Hormuz.
Tommy Pigott, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, pada Rabu (29/4/2026) malam dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa kedua pihak berkonsultasi "tentang kebutuhan mendesak untuk memulihkan kebebasan bernavigasi di Selat Hormuz."
Pertemuan ini terjadi bersamaan dengan kunjungan Raja Charles III dari Inggris ke Amerika Serikat. Trump pada hari Selasa (28/4/2026) dalam upacara penyambutan Raja Charles III menekankan sejarah militer bersama kedua negara, meskipun ia tidak mengulangi permintaan sebelumnya tentang perlunya meningkatkan peran Inggris dalam patroli di Selat Hormuz atau bergabung dalam perang melawan Iran.
Hal ini terjadi sementara Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris, dan Presiden Amerika Serikat pada hari Minggu dalam panggilan telepon membahas perkembangan terbaru terkait pelayaran di Selat Hormuz.
Kantor Perdana Menteri Inggris dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa kedua pihak, mengingat konsekuensi parah dari gangguan lalu lintas kapal terhadap ekonomi global dan biaya hidup masyarakat di Inggris serta negara-negara lain, menekankan pentingnya pemulihan aliran pelayaran di jalur strategis ini.
Situasi Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dunia, pasca perang agresif rezim Zionis dan Amerika Serikat melawan Iran, telah menjadi salah satu poros utama konsultasi internasional.
Republik Islam Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka untuk lalu lintas kapal, dan hanya kapal-kapal milik pihak-pihak yang agresor yang dikecualikan dari aturan ini. Sementara itu, Amerika Serikat, setelah gagal mencapai tujuan-tujuan klaimnya di medan perang dan ketidakmampuannya untuk melanjutkan tekanan melalui jalur politik, mengklaim bahwa jalur air tersebut diblokade.
Tehran telah berulang kali menegaskan bahwa perkembangan dan gangguan maritim tidak dapat dievaluasi secara terpisah dari kondisi yang menyebabkannya. (MF)