Francesca Albanese: Dari Penjara hingga Kelaparan, Israel Gunakan Penyiksaan sebagai Senjata
https://parstoday.ir/id/news/world-i190064-francesca_albanese_dari_penjara_hingga_kelaparan_israel_gunakan_penyiksaan_sebagai_senjata
Pars Today - Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, memperingatkan bahwa Israel menggunakan penyiksaan terhadap tahanan Palestina dan dalam skala yang lebih luas, menjadikan seluruh penduduk Palestina sasaran penyiksaan melalui blokade, pemindahan paksa, dan pembatasan bantuan kemanusiaan.
(last modified 2026-05-17T09:38:25+00:00 )
May 17, 2026 16:36 Asia/Jakarta
  • Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese
    Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese

Pars Today - Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, memperingatkan bahwa Israel menggunakan penyiksaan terhadap tahanan Palestina dan dalam skala yang lebih luas, menjadikan seluruh penduduk Palestina sasaran penyiksaan melalui blokade, pemindahan paksa, dan pembatasan bantuan kemanusiaan.

Dilansir IRNA, menurut laporan yang disusunnya untuk sidang ke-61 Dewan HAM PBB yang berjudul "Penyiksaan dan Genosida", Albanese menyatakan bahwa penyiksaan telah lama menjadi pusat proses perampasan hak-hak warga Palestina. Sejak Oktober 2023, ia berargumen bahwa Israel menggunakan penyiksaan dalam skala yang mengindikasikan pembalasan kolektif dan niat yang menghancurkan.

Laporan tersebut mengutip perintah khusus dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, untuk menahan tahanan Palestina di sel-sel gelap dengan tangan diborgol sambil memutar lagu kebangsaan Israel secara terus-menerus.

Albanese berpendapat bahwa penyiksaan sistematis terhadap suatu populasi dapat berfungsi sebagai alat dominasi dan indikasi niat genosida berdasarkan Konvensi Genosida.

Peringatannya muncul bersamaan dengan investigasi New York Times oleh kolumnis Nicholas Kristof, yang melaporkan bahwa tentara Israel dan penjaga penjara telah melakukan pemerkosaan, pelecehan seksual terhadap anak-anak, penyiksaan fisik, dan bentuk-bentuk penganiayaan lainnya terhadap tahanan Palestina.

Laporan Francesca Albanese bukan sekadar dokumen, ia adalah dakwaan hukum dan moral. Ia menyatakan bahwa tindakan Israel bukanlah kekerasan acak, tetapi kebijakan terkoordinasi untuk menghancurkan kehendak rakyat Palestina. Penolakan untuk mengakui temuan ini dan ancaman untuk menggugat New York Times tidak akan menghapus kesaksian yang dikumpulkan dari penjara dan rumah-rumah yang hancur.

Dengan begitu, penyiksaan bukan hanya kejahatan. Ketika diterapkan secara sistematis, ia adalah kebijakan. Francesca Albanese menyebut kebijakan itu dengan nama aslinya: upaya menghancurkan jiwa sebuah bangsa. Sementara para diplomat sibuk memperdebatkan kata-kata dalam resolusi, tahanan Palestina sedang mengalami neraka di bumi. Pertanyaannya bukan apakah kesaksian ini 'sulit didengar'. Mereka sengaja dirancang demikian. Pertanyaannya adalah: setelah mendengarnya, apakah dunia akan tetap berpaling?(Sail)