Proyek Baru Trump di Timur Tengah
-
Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam jumpa persnya setelah bertemu Presiden Perancis, menjelaskan poin-poin utama rencana pemerintah Washington di Timur Tengah.
Trump kembali menunjukkan permusuhannya terhadap Iran dan melancarkan serangan verbal terhadap Suriah. Ia secara resmi meminta negara-negara kawasan untuk menjamin biaya intervensi militer Amerika. Ia juga mengancam, tanpa mendukung Amerika, negara kawasan tidak akan bisa bertahan hidup bahkan untuk satu minggu.
Dengan statemen ini, poin-poin penting kebijakan luar negeri pemerintah Amerika di masa Trump menjadi jelas. Poin-poin penting tersebut di antaranya adalah, konflik regional, pemanfaatan kekayaan negara kawasan dan ancaman.
Pemerintah Amerika sekarang yang diwakili oleh kubu nasionalisme ekonomi, meyakini bahwa kebijakan Washington di masa lalu terkait Timur Tengah, seluruhnya berbiaya tinggi dan menyebabkan hilangnya paling sedikit tujuh trilyun dolar uang para pembayar pajak Amerika selama 18 tahun terakhir., dan Trump berjanji untuk mengakhiri kerugian ini.
Akan tetapi untuk melakukan pemanfaatan finansial dari negara-negara yang disebut-sebut Trump sangat kaya, Amerika perlu memperluas konflik regional sehingga ia bisa menjual lebih banyak senjata.
Menabuh genderang Iranfobia, mendukung gerakan-gerakan haus perang di Arab Saudi, menciptakan krisis dalam hubungan Saudi-Qatar, mempropagandakan Suriah sebagai negara pelanggar hukum internasional dalam penggunaan senjata kimia dan pendeknya, mengadu domba seluruh negara kawasan, adalah contoh kebijakan pemerintah Trump.
Namun demikian, politik "pecah belah dan kuasai" yang sejak era pendudukan Inggris di Timur Tengah sudah dijalankan, sekarang diwarisi Amerika bahkan di pemerintahan sebelum Trump. Kebijakan pemanfaatan kekayaan negara-negara kaya kawasan oleh Trump yang dilakukan untuk menutupi biaya pengerahan pasukan Amerika, merupakan unsur baru dalam strategi regional Gedung Putih.
Oleh karena itu, Presiden Amerika melakukan lawatan luar negeri perdananya ke Saudi dan berhasil menandatangani kontrak penjualan senjata dengan Riyadh senilai 110 juta dolar dari total kontrak 450 juta dolar. Selain itu, selama Qatar belum mengumumkan kesediaan menandatangani kontrak senilai 10 milyar dolar dengan Amerika, maka selama itu pula Trump tidak akan mau memediasi normalisasi hubungan Riyadh-Doha.
Direktur Pusat Studi Timur Tengah dan Asia Tengah di Rusia, Semyon Bagdasarov menuturkan, pemerasan adalah teknik yang biasa dilakukan Trump. Jika Saudi bersedia menyerahkan uangnya, maka sama saja dengan menjadi pihak yang mau diperas Amerika selamanya.
Memeras negara-negara kaya kawasan telah berubah menjadi metode lumrah dalam diplomasi. Trump mengulang kembali klaimnya bahwa negara-negara kawasan tanpa dukungan Amerika bahkan tidak akan bisa melanjutkan hidupnya bahkan untuk sepekan ke depan. Hal ini adalah peringatan bahwa perlawanan apapun dari negara-negara itu terhadap strategi baru Amerika, akan berujung dengan penggulingan para penguasa negara-negara itu.
Sebelum kubu nasionalisme ekonomi berkuasa di Amerika, sekutu-sekutu politik Washington harus membayar ratusan milyar dolar kepada Amerika untuk menjaga keamanannya. Namun di masa Trump sepertinya sekutu-sekutu Amerika harus membayar lebih, untuk membuktikan kesetiaannya dan menjaga kekuasaan. Mereka bahkan harus membuka lapangan kerja lebih besar bagi buruh-buruh Amerika.
Pemanfaatan semacam ini jelas mengancam aset nasional negara-negara kaya kawasan dan dipastikan akan memperburuk situasi Timur Tengah, kecuali pemahaman dan kerja sama dapat dikedepankan untuk mengganti persaingan yang percuma di antaranya negara-negara kawasan. (HS)