KTT BRICS dan Unilateralisme AS
-
BRICS
Unilateralisme AS yang meningkat di era Trump saat ini menjadi perhatian para pemimpin dunia. Dua kekuatan besar dunia, Cina dan Rusia bersuara keras menyikapi berlanjutnya unilateralisme AS. Masalah tersebut kembali ditegaskan kedua negara dan menjadi perhatian negara lain dalam pertemuan tingkat tinggi BRICS yang berlangsung di Johannesburg, Afrika Selatan.
KTT BRICS yang dimulai sejak hari Rabu (25/7) menjadi ajang bagi para pemimpin Cina, Rusia, India, Brazil dan Afrika Selatan untuk membahas masalah perekonomian global, termasuk ancaman unilateralisme AS.
Dalam pertemuan yang berlangsung hingga hari Jumat ini, Presiden Cina Xi Jinping mengatakan bahwa unilateralisme dan proteksionisme yang sedang meningkat saat ini menjadi pukulan telak bagi multilateralisme dan sistem perdagangan multilateral. Xin Jinping dalam pidatonya menegaskan bahwa pihak yang berambisi melakukan hegemoni ekonomi, pada akhirnya akan menghadapi bumerang dari sepak terjangnya sendiri.
Kritik keras Xi Jinping terhadap unilateralisme AS bersamaan dengan pandangan senada dari Vladimir Putin yang menjadi aktor penting BRICS. Pemimpin Cina dan Rusia berkeyakinan bahwa transformasi internasional dan realitas tatanan ekonomi global dewasa ini menegaskan urgensi multilateralisme yang sedang dirongrong oleh upaya unilateralisme AS. Hingga kini, Trump sedang memaksakan peran dan posisinya sebagai polisi dunia bagi seluruh negara.
Meskipun Presiden Cina menilai tatanan dunia saat ini belum ideal, tapi selama sistem global berpijak pada aturan internasional yang mengusung prinsip menang-menang dan mengejar kondisi yang berimbang dan adil, maka kondisi stabilitas perekonomian dan keamanan global masih bisa dikendalikan. Pada saat yang sama, unilateralisme AS menjadi ancaman bagi keamanan dan perekonomian global. Sebab kendali hanya berada di satu kekuatan saja.
Masalah tersebut juga menjadi perhatian presiden Rusia yang mengkhawatirkan unilateralisme AS terhadap tatanan global. Putin menilai sepak terjang AS akan menciptakan hambatan dalam upaya menjalankan tugas Dewan Keamanan PBB, dan menyulut peningkatan instabilitas di arena internasional.
Presiden Rusia menegaskan bahwa sistem unilateralisme yang dipimpin AS tidak bisa diterima oleh Moskow. Dalam pandangan Putin, interaksi multilateral antara Rusia dan Cina sebagai model bagi hubungan antarnegara di abad 21. Menlu Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, Moskow dan Beijing menjalin hubungan bilateral dan multilateral dalam bentuk seperti: kelompok BRICS, Organisasi Kerja sama Ekonomi Shanghai, Uni Ekonomi Eurasia, dan Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif.
Cina dan Rusia juga berkeyakinan bahwa transformasi global di bidang ekonomi dan politik menunjukkan bahwa kelompok internasional baru harus menggantikan kelompok-kelompok lama yang telah kehilangan pengaruhnya. Oleh karena itu, peningkatan pengaruh kelompok baru seperti BRICS dan G20 menjadi agenda utama pemimpin Cina dan Rusia. Sebaliknya, AS berupaya tetap menancapkan hegemoninya dengan menentang segala bentuk peran aktif aktor baru di arena internasional. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengaruh AS di era Trump saat ini kian hari semakin melemah dari sebelumnya.(PH)