Rakyat Tunisia Desak Pemerintah untuk Tolak Kunjungan MBS
-
Spanduk penolakan kunjungan MBS ke Tunisia.
Rencana kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamad bin Salman (MBS) telah menyulut protes masyarakat, aktivis sosial dan kalangan politik Tunisia. Mereka menolak rencana kunjungan MBS ke Tunis.
Warga Tunisia dari berbagai kalangan pada hari Senin, 26 November 2018 menyampaikan protes mereka atas rencana kunjungan MBS ke Tunisia dengan menggelar seminar dan unjuk rasa di pusat Kota Tunis.
Protes warga Tunisia itu digelar sebagai buntut dari kasus pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi.
"Tidak untuk menodai Tunisia, negara (bumi) revolusi!" Begitu bunyi tulisan dalam spanduk besar yang dibeberkan oleh National Union of Tunisian Journalist.
Spanduk itu menggambarkan seorang pria berpakaian tradisional Arab Saudi tengah menenteng gergaji seraya berdiri membelakangi kamera.
Mereka juga mengangkat spanduk bertuliskan, 'Bin Salman, penjahat perang' dan 'anak algojo'.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Tunisia dari beragam lapisan seperti wartawan, asosiasi pengacara, seniman, organisasi kemasyarakatan, partai politik dan aktivis Hak Asasi Manusia menyuarakan protes atas rencana kunjungan MbS ke Tunisia.
Asosiasi pengacara Tunisia juga mengancam akan membawa kasus kejahatan perang Arab Saudi di Yaman ke pengadilan internasional. Selain masyarakat Tunisia, beberapa warga negara lain seperti Mesir, Bahrain dan Mauritania juga memprotes kunjungan MBS ke negara mereka dan mendesak pemerintah untuk melarang masuknya Putra Mahkota Saudi itu.
Rencana kunkungan MbS ke Tunisia terjadi di tengah penyelidikan kasus pembunuhan yang menimpa jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki. Juru bicara pemerintah Saida Qarash mengatakan, MBS direncanakan bakal berkunjung pada Selasa, 27 November 2018.
Qarash menyatakan Tunisia mengutuk pelaku pembunuhan Khashoggi, dan menuntut agar dalang kasus itu bisa diungkap ke publik dan diadili. Mantan pemimpin Partai al-Irada Tarek Kahlawi berkata, ratusan orang direncanakan bakal berkumpul di depan istana kepresidenan di Carthage.
Dia menambahkan bahwa adalah hal memalukan bagi Tunisia, yang mengalami revolusi melawan tirani dan transisi demokrasi, menerima MBS. Dia menyebut putra mahkota berusia 33 tahun itu sebagai kriminal yang telah ternoda oleh darah Khashoggi maupun warga Yaman.
"Aksi unjuk rasa itu merupakan inisiatif warga, dan saya meminta semua pihak untuk menentang rencana kunjungannya," tegas Kahlawi.
Juru bicara partai oposisi Front Populer Hamma Hammami juga mengecam kunjungan MbS itu dengan menyebutnya sebagai aksi provokasi terhadap rakyat Tunisia.
Ketua partai Emad al-Daimi melalui unggahan Facebook memperingatkan Presiden Beji Caid konsekuensi jika nekat menerima kunjungan MBS. Sementara sekelompok advokat Tunisia mengumumkan mereka bakal mengajukan gugatan, disponsori oleh blogger maupun jurnalis yang menentang kedatangan MBS.
Dalam surat terbuka, kelompok pengacara itu menjelaskan kunjungan MBS adalah "membersihkan rekam jejak kotornya atas pelanggaran HAM".
Di surat tersebut, MBS dikatakan sebagai ancaman baik bagi keamanan maupun perdamaian kawasan, serta musuh sebenarnya kebebasan berpendapat.
"Darah Khashoggi masih belum kering. Pangeran Mohammed bin Salman ditolak masuk ke Tunisia," kata Presiden Sindikat Jurnalis Tunisia Naji Baghouri.
MbS mendapat sorotan publik dunia menyusul kasus pembunuhan Khashoggi, yang saat itu hendak mengurus dokumen pernikahan di konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki. MbS dianggap sebagai dalam dari pembunuhan keji tersebut. (RA)