Ketika Kushner Mengakui Kegagalan Konferensi Manama; Kegagalan Fase Pertama Kesepakatan Abad
-
Donald Trump, Jared Kushner dan Benjamin Netanyahu
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat telah mengambil beberapa langkah untuk mendukung rezim Zionis secara menyeluruh. Tindakan paling penting dari pemerintah Trump adalah menghadirkan rencana Kesepakatan Abad untuk sepenuhnya menginjak-injak hak-hak bangsa Palestina dan memberikan konsesi penuh kepada Zionis Israel.
Dalam hal ini, Konferensi Manama di ibu kota Bahrain diselenggarakan pada tanggal 24-25 Juni 2019 sebagai tahap pertama dalam implementasi Kesepakatan Abad ini dengan melaksanakannya di sektor ekonominya, namun, pertemuan itu menemui kegagalan yang jelas.
Semua kelompok Palestina, termasuk Otorita Palestina memboikot pertemuan itu. Dalam hal ini, Jared Kushner, menantu dan penasihat senior untuk presiden AS yang bertindak sebagai eksekutor dari rencana tersebut, mengakui bahwa berbagai faksi Palestina menggagalkan konferensi ekonomi Manama, yang merupakan awal dari pelaksanaan Kesepakatan Abad ini.
Kushner telah mengangkat masalah ini selama percakapan telepon dengan para wartawan Arab dan Zionis Israel tentang pemboikotan konferensi ekonomi Palestina di Manama. Menantu dan penasihat Trump ini kembali lagi mengritik pemimpin Palestina dan secara implisit menyebut rakyat Palestina berhasil membuat usahanya tidak berhasil.
Menurut Kushner, "Banyak pengusaha dan perwakilan perusahaan internasional (pada konferensi Manama) hadir, dan banyak dari mereka ingin menghadiri konferensi, tetapi mereka tidak didukung dan rencana ekonomi ini tidak akan selesai tanpa kehadiran para pemimpin Palestina."
Menantu Trump mengklaim bahwa 28 miliar dolar dari 50 miliar dolar, yang dikhususkan untuk proyek "Kesepakatan Abad", akan diinvestasikan di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dan dana miliaran dolar ini tidak akan diinvestasikan sampai para pemimpin Palestina mengubah sikap mereka.
Bagaimanapun juga, rencana 50 miliar dolar mendapat tanggapan negatif rakyat Palestina.
Hanan Ashrawi, pejabat senior PLO menyebut rencana itu hanya serangkaian janji yang tidak dapat diterapkan dan mengatakan, "Hanya satu solusi politik yang dapat mengakhiri konflik Zionis Israel-Palestina."
Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) juga mengkritik keras rencana ini dan menyatakan, "Palestina tidak untuk dijual".
Hazem Qasem, Juru Bicara Hamas mengatakan, "Pemerintah AS masih dalam ilusi dan beranggapan bahwa rakyat Palestina akan melakukan transaksi hak-haknya dengan uang."
Sejatinya, Kushner telah mencoba memberikan semacam konsesi keuangan kepada para pemimpin Palestina, namun, posisi Palestina yang bersatu dalam menentang rencana tersebut telah memukul inisiatif pemerintah Trump untuk memajukan rencana normalisasi mengenai masalah Palestina.
Meskipun bangsa Palestina menentang rencana Kesepakatan Abad, Kushner dengan lancang mengatakan, "Meskipun mendapat perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya para pejabat Palestina terhadap Amerika, namun pintu-pintu Amerika Serikat tetap terbuka bagi rakyat Palestina dan para pemimpinnya."
Rencana Kesepakatan Abad telah menyatakan Quds menjadi ibu kota rezim Zionis Israel, menyerahkan sebagian besar Tepi Barat kepada Zionis dan merenggut hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina. Bahkan Otorita Palestina, yang telah melakukan begitu banyak melakukan tindakan normalisasi dengan rezim Zionis, menganggap rencana itu tidak dapat diterima.
Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Palestina dengan penekanan pada penolakan terhadap Kesepakatan Abad ini mengatakan, "Rencana Kesepakatan Abad akan tetap gagal seperti konferensi Manama."
Masalah penting lainnya adalah bahwa rencana Kesepakatan Abad bertentangan dengan pendekatan PBB dan anggota kelompok Kuartet lainnya seperti Uni Eropa dan Rusia, tentang bagaimana menyelesaikan masalah Palestina.
Dengan kegagalan Konferensi Manama sebagai langkah keuangan dan ekonomi dari Kesepakatan Abad ini, rencana itu dianggap sebagai upaya yang gagal, yang tidak memiliki peluang untuk tetap bertahan.