Lintasan Sejarah 27 November 2018
-
27 November 2018
hari ini, Selasa tanggal 27 November 2018 yang bertepatan dengan tanggal 19 Rabiul Awal 1440 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Azar 1397 Hijriah Syamsiah.
Anders Celsius Lahir
317 tahun yang lalu, tanggal 27 November 1701, Anders Celsius lahir di Uppsala, Swedia. Anders Celsius meninggal di kota kelahirannya pada 25 April 1744 dalam usia 42 tahun. Ia adalah seorang astronom Swedia.
Celsius lahir di Ovanaker di Swedia. Dia adalah seorang profesor astronomi pada Universitas Uppsala dari 1730 hingga 1744, namun melakukan perjalanan dari 1732 hingga 1735 mengunjungi observatorium terkenal di Jerman, Italia dan Perancis.
Pada tahun 1733, di Nuremberg dia menerbitkan sebuah koleksi 316 pengamatan aurora borealis yang dibuatnya dan orang lain selama tahun 1716-1732.
Di Paris dia mengagas pengukuran busar meridian di Lapland, dan pada 1736 dia mengikuti ekspedisi yang dilaksanakan untuk tujuan tersebut oleh Akademi Sains Perancis.
Celsius adalah salah satu pendiri Observatorium Astronomi Uppsala pada 1741. Namanya paling dikenal sebagai pengusul skala Celsius pada tahun 1742.Dia meninggal karena penyakit tuberkulosis di Uppsala.
Wafatnya Ayatullah Sadr Ad-Din Amili
67 tahun yang lalu, tanggal 19 Rabiul Awal 1373 HQ, Ayatullah Sadr ad-Din Amili meninggal dunia pada usia 74 tahun dan dikebumikan di komplek makam suci Sayidah Fathimah Maksumah as Qom di samping kuburan Ayatullah Hairi Yazdi. Ayatullah Sayid Sadr ad-Din adalah ayah dari Imam Musa Sadr.
Ayatullah Sayid Sadr ad-Din Amili adalah anak Sayid Ismail yang lahir pada tahun 1260 Hs dari keluarga relijius di kota Kazhimain. Setelah berpindah ke kota Karbala, beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah hauzah. Di usia 19 tahun Ayatullah Sadr ad-Din kemudian menuju Najaf. Di sana beliau belajar pada guru-guru besar seperti Akhond Khorasani, Sayid Mohammad Kazem Yazdi dan Mirza Husein Naini, sehingga mencapai derajat ijtihad.
Ayatullah Sadr ad-Din mengunjungi Iran pada tahun 1299 Hs dan tinggal di sekitar komplek kuburan suci Imam Ridha as di Mashad sambil mengajar dan menuntun masyarakat. Ayatullah Sadr ad-Din sempat balik ke Irak dan kemudian kembali lagi ke Mashad dan menjadi imam shalat berjamaah di masjid Gauhar Shad.
Berkat tawaran Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi, Pendiri Hauzah Ilmiah Qom, beliau pergi ke Qom menjadi wakil Ayatolah Hairi Yazdi. Pasca meninggalnya Ayatullah Hairi Yazdi, beliau menerima tanggung jawab mengelola Hauzah Ilmiah Qom dengan dibantu Ayatullah Sayid Mohammad Taqi Khonsari dan Ayatullah Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i, hingga Ayatullah al-Udzma Boroujerdi tiba di Qom tahun 1323 Hs. Beliau selama 8 tahun mempertahankan, membangun dan memperluas Hauzah Ilmiah Qom. Selama menjabat beliau memberikan pelayanan berharga tidak hanya ilmiah dan keagamaan, tapi juga sosial, seperti pembangunan pusat-pusat kesehatan.
Kuliah-kuliahnya begitu diminati oleh para pelajar agama dan berhasil mendidik banyak ulama potensial seperti Ayatullah Sayid Mohammad Baqir Soltani Thabathabai, Sayid Musa Shabiri Zanjani, Ali Mishkini, Mohammad Sadouqi, Imam Musa Sadr, Sayid Reza Sadr dan lain-lain. Beliau juga banyak meninggalkan karya ilmiah seperti catatan pinggir untuk Kifayah al-Ushul dan Khulashah al-Fushul.
Hauzah Ilmiah Qom Protes Hukuman Mati Ulama Syiah Irak
44 tahun yang lalu, tanggal 6 Azar 1353 HS, Hauzah Ilmiah Qom melakukan protes atas hukuman mati ulama Syiah Irak.
Menyusul keputusan pemerintah Baath Irak untuk menghukum mati lima ulama pejuang Syiah, Hauzah Ilmiah Qom dan Mashad diliburkan dalam rangka memprotes langkah tersebut.
Pada tanggal 6 Azar 1353 ini juga para ulama seperti Ayatullah Sayid Shihab al-Din Marasyi Najafi, Sayid Mohammad Reza Golpaygani dan marji Syiah lainnya di Qom serta Ayatullah Milani di Mashad meliburkan kuliahnya.
Sebelumnya, rezim Baath Irak yang dipimpin Ahmed Hassan al-Bakr menangkap 150 ulama Irak dan mengeluarkan hukum lima dari ulama yang ditangkap itu harus dihukum mati.