Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (54)
-
pusat riset Royan, Iran
Seorang ilmuwan keturunan Iran yang tinggal di Swiss dan seorang ilmuwan Turki menenangkan penghargaan Mustafa Prize periode kedua tahun 2017.
Sami Erol Gelenbe, ilmuwan komputer asal Turki mendapatkan penghargaan di bidang "Modeling and Performance Evaluation of Computer Systems", sementara M. Amin Shokrollahi, ilmuwan keturunan Iran yang tinggal di Swiss, mendapatkan penghargaan Mustafa Prize di bidang “Technology and Information Theory”.
Menurut keterangan panitia penyelenggara Mustafa Prize kedua, undangan dikirim ke sekitar 700 ilmuwan dunia Islam dan 200 lembaga ilmiah serta universitas untuk memilih pemenang dari empat kategori yang dinilai yaitu teknologi nano, biologi dan kedokteran, teknologi informasi dan bidang umum.
Setelah itu karya serta aktivitas keilmuan dari sekitar 1.622 ilmuwan terkemuka di kaji dan dari semuanya dipilih karya dan aktivitas keilmuan 241 orang dari 31 negara pada tahap pendahuluan.
Selanjutnya, 57 karya di bidang teknologi informasi dan 23 karya di semua bidang teknologi diserahkan ke panitia sehingga akhirnya dua ilmuwan ini terpilih sebagai penerima penghargaan Mustafa Prize 2017.
Mustafa Prize adalah penghargaan di bidang sains dan teknologi yang diberikan kepada para ilmuwan dan peneliti terbaik dunia Islam setiap dua tahun sekali. Ilmu dan teknologi nano, ilmu biologi dan kedokteran, ilmu dan teknologi informasi-komunikasi dan program ilmuwan Muslim terbaik atau program umum, di antara kategori yang dinilai dari para ilmuwan negara Muslim ini.
Di tiga kategori pertama, ilmuwan dan orang-orang yang memenuhi syarat harus merupakan warga salah satu dari 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam, OKI. Di kategori keempat, ilmuwan terbaik haruslah seorang Muslim, namun tidak perlu warga salah satu negara anggota OKI.
Para peneliti di unit sains dan riset Universitas Azad Eslami Iran berhasil membuat kertas dari ekstrak tumbuhan Luffa Cylindrica. Menurut peneliti proyek ini, salah satu manfaat tanaman yang sampai saat ini kurang mendapat perhatian adalah penggunaan tanaman non-kayu untuk menciptakan produk-produk berbasis ekstrak atau serat kayu.
Tanaman yang banyak ditemukan di daerah utara Iran dan tumbuh di bawah cuaca panas serta lembab ini dapat dipanen setelah berusia setahun jika tumbuh dengan baik.
Tinggi tanaman Luffa bisa mencapai sampai 10 meter dalam sekali musim tanam atau bahkan lebih. Tanaman ini memiliki sejenis buah yang dapat dimakan selama berwarna hijau dan ketika berubah warna menjadi kuning, bagian dalamnya menjadi berbentuk seperti serat yang biasanya digunakan untuk membuat spons dan handuk.
Menurut para peneliti, ekstrak yang dihasilkan dari tanaman Luffa dalam penemuan ini memiliki dimensi dan daya tahan yang baik. Dalam uji coba yang dilakukan untuk menentukan prosentase komposisi dalam buah tanaman ini, terlihat bahwa bahan serat yang ada di dalamnya memiliki tingkat selulosa yang tinggi dan tingkat lignin atau zat kayu yang rendah.
Oleh karena itu buah tanaman ini dapat digunakan sebagai bahan yang tepat untuk membuat pulp atau bubur kertas. Daya tahan kertas-kertas yang diproduksi dari tanaman ini bukan hanya mirip bahkan dalam beberapa kasus lebih baik dari kertas-kertas industri seperti kayu dan kertas Iran, Chouka.
Para ilmuwan Inggris baru-baru ini mengumumkan penemuan sebuah metode yang diprediksi dapat mengobati penyakit kanker dan pada tahun 2017 metode pengobatan tesebut mulai digunakan.
Selama bertahun-tahun para ilmuwan terus berusaha menemukan metode pengobatan kanker. Para ilmuwan Inggris tersebut mengembangkan sejenis prosedur "keamanan pengobatan" berbasis sel-sel darah yang didapatkan dari pasien yang secara ajaib sembuh dari kanker.
Menurut keterangan para ilmuwan itu, hasil awal uji coba bukan hanya menunjukkan adanya metode pengobatan lebih baik bagi penyakit kanker, bahkan metode pengobatan potensial dapat disiapkan untuk uji coba terhadap para pasien hingga awal tahun berikutnya.
Pengobatan baru ini menggunakan sel-sel neutrofil. Sel-sel ini adalah pembentuk sebagian dari garda terdepan perlindungan tubuh dalam menghadapi serangan benda asing.
Neutrofil dapat secara langsung membunuh sel-sel kanker dengan bahan kimia atau antibodi dan secara tidak langsung membunuh sel kanker dengan menggunakan sel-sel sistem imun lainnya.
Para peneliti mengatakan, pertama sel-sel imun penghancur kanker dikeluarkan dari seorang pendonor darah, kemudian dilakukan reproduksi jutaan dari sel itu.
Kepala tim peneliti dari sebuah perusahaan bioteknologi menuturkan, kami tidak hanya berbicara tentang manejemen kanker. Kami berusaha menemukan sebuah metode pengobatan yang pasti dan dapat digunakan satu kali dalam sepekan selama 5-6 pekan.
Berdasarkan sampel ujicoba dan proses ujicoba terhadap tikus, kami berharap para penderita kanker dapat sembuh secara sempurna. Tujuan akhir kami akan menciptakan bank sel neutrofil pertama sebagai pembunuh kanker yang kuat di dunia.
Kegunaan utama pengobatan neutrofil ini adalah sel-sel pemberi dapat digunakan tanpa ketakutan sedikitpun atas penolakan serius oleh pasien lain.
Pengobatan baru ini pernah diujicobakan pada awal tahun 2018 terhadap 20-40 pasien penderita kanker.[]