Lintasan Sejarah 17 November 2019
-
17 November 2019
Hari ini, Ahad, 17 November 2019 bertepatan dengan 19 Rabiul Awwal 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 26 Aban 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi.
Hasan bin Buyeh Dailami Meninggal Dunia
1075 tahun yang lalu, tanggal 19 Rabiul Awal 366 HQ, Hasan bin Buyeh yang dipanggil dengan sebutan Rukn ad-Daulah Dailami meninggal dunia. Hasan bin Buyeh termasuk penguasa dinasti Alu Buyeh.
Dinasti Alu Buyeh merupakan keluarga muslim Iran yang paling terkenal. Dinasti ini menguasai bagian Iran dan Irak hingga perbatasan utara Syam sejak tahun 320 HQ.
Sebagian dari penguasa Alu Buyeh berjasa dalam mengembangkan ilmu dan budaya Islam. Mereka begitu menghormati ahli sastra dan ulama di zamannya bahkan memilih para menteri dari kalangan ilmuwan. Rumah sakit Adhudi Bagdad dan puluhan rumah sakit dan sekolah termasuk peninggalan dinasti Alu Buyeh.
Terusan Suez Diresmikan
150 tahun yang lalu, tanggal 17 November 1869, Terusan Suez yang menghubungkan laut Mediterania dengan Laut Merah, resmi dibuka.
Pembangunan terusan ini dipimpin oleh seorang insinyur Perancis bernama Ferdinand De Lesseps dan memakan waktu 10 tahun. Panjang terusan ini mencapai 168 kilometer dengan lebar antara 120 hingga 200 meter.
Beberapa abad sebelumnya, langkah-langkah untuk membuka jalan air di antara kedua laut itu, telah dilakukan oleh Raja Dariush dari Iran dan sebagian raja-raja Mesir. Hal ini menunjukkan posisi penting terusan yang menghubungkan benua Eropa dengan Asia ini.
Meninggalnya Ebrahim Pourdavoud Periset Terkenal Iran
51 tahun yang lalu, tanggal 26 Aban 1347 HS, Profesor Ebrahim Pourdavoud meninggal dunia dalam usia 83 tahun.
Profesor Ebrahim Pourdavoud lahir ke dunia pada tahun 1264 HS di kota Rasht. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia pindah ke Tehran dan untuk kedua kalinya ia pergi ke Beirut untuk melanjutkan pendidikannya setelah menguasai filsafat dan kedokteran tradisional.
Profesor Pourdavoud kembali ke Iran tapi tidak untuk waktu yang lama dan setelah itu ia ke Jerman. Di negara ini ia memulai penelitiannya yang mendalam tentang tradisi, bahasa dan budaya kuno Iran. Buku Avesta dijadikan referensi utama dalam melakukan penelitiannya. Guna menyempurnakan studinya tentang Iran, kembali Pourdavoud menuju India dan mengajar di sana.
Peneliti besar Iran ini pada tahun 1315 HS diundang memberikan kuliah di Fakultas Literatur dan Hukum, Universitas Tehran dan sejak itu ia tinggal hingga akhir hayatnya di Iran. Pada tahun 1317 HS, Profesor Purdavoud menjadi anggota Akademi Internasional Seni dan Sains dan di tahun 1346 ia mendapat penghargaan sains dari Vatikan atas sumbangsihnya di bidang kemanusiaan.