Pertemuan Rahbar dengan Pejabat Tinggi Iran, Ini Isinya (1)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i142986-pertemuan_rahbar_dengan_pejabat_tinggi_iran_ini_isinya_(1)
Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bertemu dengan para pejabat tinggi Republik Islam Iran, terutama pejabat tinggi dari lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta militer, mantan pejabat dan aktivis sosial dan budaya pada Selasa sore, 4 April 2023.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 06, 2023 16:36 Asia/Jakarta
  • Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
    Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bertemu dengan para pejabat tinggi Republik Islam Iran, terutama pejabat tinggi dari lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta militer, mantan pejabat dan aktivis sosial dan budaya pada Selasa sore, 4 April 2023.

Pertemuan yang membahas mengenai beragam isu penting dalam dan luar negeri tersebut berlangsung di Huseiniyah Imam Khomeini ra. Ayatullah Khamenei memandang dinamika politik global yang bergerak sangat cepat saat ini mengarah pada pelemahan front musuh Republik Islam Iran.

Rahbar mengungkapkan tanda-tanda melemahnya front anti-Iran di masa depan seiring terbentuknya tatanan dunia baru. Menurutnya, bipolaritas yang tercipta dalam pemilu dua atau tiga tahun lalu di Amerika Serikat (AS) masih kuat hingga kini.

Rahbar juga menyinggung peran AS dalam perang di Ukraina. Dia menjelaskan, AS memulai perang di Ukraina. Tetapi perang ini telah menyebabkan jarak antara negara ini dan sekutu Eropanya, yang sebenarnya adalah pihak yang menanggung beban perang, tetapi Amerika yang diuntungkan.

Menyinggung rezim Zionis, yang merupakan musuh lain Republik Islam, Ayatullah Khamenei menuturkan, rezim Zionis pada usianya 75 tahun tidak pernah menghadapi masalah yang begitu mengerikan sebagaimana yang menimpa saat ini.

"Rezim Zionis menghadapi masalah instabilitas politik. Ada empat perdana menteri dalam empat tahun, koalisi partai di dalamnya tidak terbentuk, mereka hancur. Ada polaritas yang kuat di seluruh rezim palsu ini, yang dibuktikan dengan demonstrasi ratusan ribu orang di beberapa kotanya. Mereka ingin menebus kelemahannya dengan menembakkan beberapa rudal," ujar Rahbar.

Ayatullah Khamenei juga mengungkapkan informasi tentang jumlah orang yang akan segera meninggalkan Israel mencapai dua juta orang, dan menilai peringatan berturut-turut dari otoritas Zionis tentang keruntuhan Israel sebagai tanda lain melemahnya rezim Zionis.

Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam membahas persekongkolan musuh di dalam negeri.

"Persekongkolan telah dan akan terus terjadi di dalam negeri. Kerusuhan tahun lalu, yang dilakukan dengan dalih masalah wanita dengan dukungan agen mata-mata Barat sebagai contohnya," tambahnya.

Rahbar juga menyinggung situasi perempuan yang menderita dan tidak aman di negara-negara barat.

"Perempuan di beberapa negara ini, menurut pengakuan mereka sendiri merasa tidak aman berada di jalan atau di kamp militer sekalipun. Bahkan misalnya, muslimah berhijab yang datang ke pengadilan untuk mengajukan gugatan justru diserang hingga gugur. Tapi mereka menarik garis dan tanda untuk Republik Islam, padahal Iran menghargai martabat tertinggi wanita," terangnya.

Salah satu poin yang ditekankan Rahbar adalah proses kemunduran dan melemahnya AS. Menurutnya, salah satu penentang utama Iran di dunia adalah AS, di mana fakta menunjukkan bahwa Amerika ala Obama dari Amerika ala Bush, dan Amerika ala Trump dari Amerika ala Obama dan Amerika tahun ini dari Amerika ala Trump lebih lemah.

Isyarat Rahbar terhadap berbagai peristiwa dan transformasi penting, khususnya dalam beberapa tahun terakhir mengindikasikan proses kemunduran dan melemahnya AS.

Salah satu peristiwa ini adalah munculnya dua kutub di masyarakat Amerika, khususnya setelah pemilu presiden 2020, di mana Trump, presiden saat itu dan kandidat dari kubu Republik menolak hasil pemilu, yakni kemenangan Joe Biden. Peristiwa setelah pemilu pada akhirnya berujung pada insiden penyerbuan dan pendudukan Kongres Amerika pada 6 januari 2021 oleh pendukung Trump.

Insiden ini mengguncang fondasi demokrasi Amerika. Di sisi lain, Trump berulang kali menyebut demokrasi di Amerika sebagai kebohongan dan menyebut sistem pemilu Amerika korup dan terjadinya kecurangan besar-besaran dalam pemilu.

Hal itu menyebabkan krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mempertanyakan demokrasi di Amerika. Selain itu, peristiwa 6 Januari menyebabkan legitimasi dan pengaruh internasional Amerika dipertanyakan di bidang politik. Saat ini, pengumuman kejahatan terhadap Trump dan persidangannya telah menyebabkan bipolaritas baru di Amerika antara lawan dan pendukung persidangannya.

Satu lagi contoh kelemahan Amerika adalah kegagalan Washington memajukan perang di Ukraina sesuai dengan tujuan dan kepentingannya. Terlepas dari bantuan militer dan senjata Washington yang sangat besar ke Ukraina, Rusia telah mampu mencapai banyak tujuannya sembari mempertahankan posisi superiornya. Masalah ini telah menimbulkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah Biden di Ukraina, bahkan di dalam Amerika sendiri.

AS telah menggunakan perang Ukraina sebagai faktor untuk memperkuat posisinya di Eropa, tetapi sekarang, kebijakan itu telah meningkatkan protes rakyat dan politisi Eropa karena sikap Eropa yang mengekor AS dalam kasus perang Ukraina.

Masalah lain yang disebutkan oleh Ayatullah Khamenei tentang  kelemahan dan kemunduran Amerika adalah kegagalan Washington untuk menyelesaikan krisis internal rezim Zionis Israel dan ketidakmampuannya untuk mencegah negara-negara Arab berurusan dengan Iran.

Amerika telah mengumumkan bahwa ia bermaksud untuk menciptakan front persatuan Arab melawan Iran, tetapi hari ini kebalikan dari apa yang diinginkannya telah terjadi, dan hubungan antara kelompok Arab dan Iran semakin meningkat, sementara AS, dengan tekanan dan sanksi politik, ingin menyelesaikan masalah nuklir sesuai rencananya, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.

Masalah lainnya adalah, bertentangan dengan keinginan Washington, kekuatan rival Amerika, terutama Cina, telah mengambil inisiatif di tingkat regional dan global, dan menjalin perjanjian baru dengan negara-negara yang dianggap sekutu AS.

"Runtuhnya pengaruh Amerika di Arab Saudi dan aliansi baru kerajaan ini dengan Cina dan Iran adalah simbol menyakitkan dari kekalahan yang memalukan strategi kaum neokon untuk mempertahankan hegemoni global Amerika Serikat dengan kekuatan militernya," tulis Robert F. Kennedy Jr., keponakan mantan Presiden AS John F. Kennedy di akun Twitter.

Salah satu manifestasi kelemahan Amerika adalah kian lemahnya mata uang dolar sebagai valuta utama dunia. Kini sejumlah negara, --karena penggunaan dolar dijadikan sebagai alat oleh Washington untuk menekan negara lain dan juga sanksi yang terus meningkat negara ini terhadap negara-negara rival dan penentang--, mulai menggunakan mata uang nasional masing-masing untuk perdagangan dan pertukaran finansial.

Negara-negara pelopor di bidang ini adalah Cina dan Rusia, serta kini negara-negara seperti Brasil, Malaysia, Turki, Venezuela dan Iran juga memiliki kecenderungan serupa. Di sisi lain, Amerika kini mengahadapi penurunan pengaruhnya di Amerika Latin yang dianggap sebagai halaman belakang Washington.

Rival global AS khususnya Cina semakin gencar meningkatkan hubungannya dengan Amerika Latin, dan di sisi lain, negara-negara berkembang di kawasan ini seperti Venezuela juga aktif menjalin kerja sama dengan kekuatan dunia lain seperti Rusia dan Cina untuk mengurangi tekanan AS.

"Oleh karena itu, Amerika Serikat yang musuh utama dunia Islam, menjadi semakin lemah," kata Ayatullah Khamenei, ketika menyinggung serangkaian masalah di atas. (RA)