Tehran Menyambut Hasil Negosiasi Yaman-Yaman di Stockholm
-
Perundingan Yaman
Republik Islam Iran yang selalu menyarankan solusi untuk konflik Yaman, dengan mendukung perundingan Swedia, telah menyambut baik hasil pembicaraan ini.
Bahram Ghassemi, Jurubicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran hari Ahad (16/12) dalam wawancaranya dengan kantor berita Mehrnews menjelaskan bahwa krisis Yaman telah memasuki babak baru dan mengatakan, "Hati-hati yang sadar di dunia mulai bangkit menuntut perang Yaman dihentikan."
Mengacu pada usulan empat butir yang disampaikan Iran yang dipresentasikan pada April 2015 untuk menyelesaikan krisis Yaman, Ghassemi menekankan, "usulan tersebut merupakan salah satu mekanisme yang mampu mempersiapkan stabilitas dan memulihkan kondisi lebih normal di Yaman serta mengakhiri agresi Arab Saudi."
Usulan Iran didasarkan pada empat elemen utama, termasuk penghentian perang dan gencatan senjata segera, penyediaan bantuan kemanusiaan, inisiasi dialog politik antara semua pihak Yaman dan pembentukan pemerintah nasional bersatu.
Dalam negosiasi kelompok-kelompok Yaman dibawah pengawasan PBB di Swedia, telah diambil langkah-langkah positif dalam. Putaran keempat perundingan perdamaian Yaman yang dimulai pada 6 Desember dengan partisipasi partai-partai Yaman di Stockholm, ibukota Swedia, pada hari Kamis, 13 Desember 2018 telah dicapai kesepakatan awal soal gencatan senjata di al-Hudaydah dan pertukaran tahanan antara kedua belah pihak. Pembukaan jalur penerbangan guna pengiriman obat-obatan, makanan dan barang yang dibutuhkan masyarakat serta pengawasan Dewan Keamanan PBB terhadap pelabuhan al-Hudaydah adalah salah satu ketentuan dari perjanjian ini. Putaran selanjutnya perundingan damai Yaman dijadwalkan akan dimulai di bawah pengawasan PBB pada Januari 2019.
Berakhirnya perang di Yaman tidak diragukan lagi membutuhkan kehendak dunia, terutama dari negara-negara Barat, untuk menghentikan tindakan tidak manusiawi Saudi di Yaman. Koalisi Saudi yang didukung oleh Amerika Serikat pada 26 Maret 2015, menyerang Yaman dan kemudian memblokade negara ini dari darat, laut dan udara. Serangan militer Saudi telah mengakibatkan terbunuhnya ribuan warga sipil Yaman. Tindakan tidak manusiawi para penguasa Riyadh telah membuat Yaman hampi mencapai kondisi terburuk tragedi kemanusiaan.
Michelle Bachelet, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyerukan untuk mengakhiri penderitaan warga sipil, yang berarti menerima fakta pahit yang telah terjadi di Yaman dan masyarakat internasional harus menganggapnya serius. Dalam situasi seperti itu, mencapai perdamaian dalam dialog Yaman-Yaman itu sangat penting.
Masoud Goodarzi, anggota Komisi Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri Majlis Shura Islami Iran mengatakan, "Solusi internal untuk krisis regional akan selalu membuahkan hasil, seperti yang telah kita lihat di Suriah dan Irak dan perlu untuk menerapkan sikap yang sama di Yaman. Sudah barang tentu, jika masalah itu diserahkan kepada kelompok Yaman, mereka dapat mencapai kesepakatan."
Republik Islam Iran tetap percaya pada solusi politik untuk mengakhiri perang di Yaman. Sekarang, meskipun hasil negosiasi di Swedia dengan pemantauan PBB dapat dianggap sebagai langkah penting untuk mengakhiri perang di Yaman, namun masih ada kekhawatiran. Harus dilihat bagaimana langkah yang akan diambil setelah perjanjian ini.
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, pada pertemuan Forum Internasional di Doha, ibukota Qatar, mengatakan, "Sayangnya, Arab Saudi tidak akan mengurangi ketegangan. Bahkan, Arab Saudi percaya bahwa kepentingan mereka ada pada eskalasi ketegangan."