Dampak Model Perilaku AS terhadap Iran
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, Amerika tidak berhak menyalahgunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memperburuk citra Iran.
Mohammad Javad Zarif Kamis (11/6/2020) di akun Twitter seraya mengisyaratkan upaya Amerika melanjutkan sanksi dan langkah anti Iran di berbagai lembaga internasional menulis, AS berusaha memperparah tensi dengan Iran serta dengan arogan memaksa pihak lain mengikutinya.
Sepak terjang Amerika terhadap Iran selain sebuah pelanggaran nyata terhadap hukum dan ketentuan internasional, juga menunjukkan bentuk arogansi dan juga selain mengancam Iran, pihak lain pun mendapat tekanan untuk mengekor Washington.
Sekilas tentang perilaku Amerika terhadap Iran pasca keluarnya Presiden Donald Trump dari JCPOA akan menentukan betapa dalam permusuhan pemerintah Amerika saat ini dengan Iran.
Represi maksimum, terorisme ekonomi dan medis di tengah-tengah upaya melawan wabah Corona di Iran, teror Syahid Qassem Soleimani mantan komandan pasukan Quds IRGC di wilayah Irak serta upaya memanfaatkan resolusi 2231 Dewan Keamanan untuk melanjutkan boikot senjata terhadap Iran, membuat Amerika tidak berada di posisi yang layak untuk berbicara tentang Iran.
Perilaku Amerika ini sudah cukup bagi masyarakat internasional untuk memahami pendekatan unilateralisme dan arogan Washington, karena setiap perilaku Amerika terhadap Iran memiliki dampak regional dan internasional. Misalnya, keluarnya Washington dari JCPOA menunjukkan ketidakpedulian negara ini terhadap sebuah kesepakatan yang merupakan prestasi diplomasi dunia.
Kemarin keluar dari JCPOA dan hari ini berusaha melanjutkan boikot senjata terhadap Iran, bukan sesuatu yang aneh bagi Amerika. Teladan perilaku ini memiliki hubungan bermakna dengan ketidakpedulian berbagai negara khususnya Eropa.
Silsilah keluarnya Amerika dari berbagai kesepakatan dan organisasi bersumber dari ego unilateralisme Donald Trump yang telah menempatkan tatanan global di kondisi bahaya. Pelanggaran pemerintah Amerika saat ini tidak terbatas di JCPOA, pemutusan kerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di puncak pandemi Corona di dunia, dan kini sanksi terhadap petinggi Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) bertepatan dengan penyidikan kejahatan Amerika di Afghanistan kembali menjadi tanda bahaya dan peringatan bagi masyarakat internasonal.
Untuk pemerintahan AS saat ini, penentuan nasib sendiri secara internal dan eksternal bukanlah dasar, kepentingan sepihak adalah tujuan utama, dan jika keheningan komunitas internasional terhadap perilaku AS ini terus berlanjut, tidak ada lagi nilai global yang akan tersisa dan individu baru, negara, dan lembaga akan menjadi korban.
Sekaitan dengan ini Mohammad Javad Zarif Kamis malam saat merespon penargetan ICC oleh Amerika, di akun Twitternya menulis, "Peristiwa apa lagi yang perlu terjadi sehingga masyarakat internasional akan bangun dan memahami dampak kebijakan arogan?
Sikap tenang masyarakat internasional terhadap perilaku Amerika terhadap Iran telah mendorong Washington terus mengedepankan unilateralisme. Sekaitan dengan ini, Amerika melalui represi kepada sejumlah negara berusaha menekan mereka hingga 18 Oktober 2020 mengikutinya dan meningkatkan aksi ilegal lainnya dengan melanjutkan embargo senjata terhadap Iran.
Satu-satunya langkah untuk mengakhiri perilaku destruktif dan pelanggaran Amerika adalah mengakhiri kebijakan sepihaknya, jika tidak dampak dari perilaku ini akan melilit seluruh negara. (MF)