Koordinasi Iran-Irak Usut Tuntas Teror Jenderal Soleimani
-
Menlu Iran dan Irak
Menteri Luar Negeri Iran, Minggu (19/7/2020) bersama delegasi tingkat tinggi negara itu bertolak ke Irak untuk membicarakan hubungan bilateral kedua negara, dan beberapa isu penting regional serta internasional dengan pejabat pemerintah Baghdad.
Kunjungan ini diawali dengan pertemuan Menlu Iran dan Irak, disusul dengan pertemuan Mohammad Javad Zarif dengan Perdana Menteri Irak, Mustafa Al Kadhimi, dan beberapa pejabat tinggi Irak yang lain. Pembicaraan Menlu Iran dengan pejabat Irak terpusat dalam empat tema penting.
Pertama, penguatan hubungan Iran dan Irak yang telah ditingkatkan hingga ke level strategis. Dari sudut pandang ini, lawatan Zarif diharapkan dapat meningkatkan hubungan bersejarah kedua negara di masa pemerintahan Irak yang baru di bawah Mustafa Al Kadhimi.
Kedua, upaya mengusut kasus teror terhadap Komandan Pasukan Qods, IRGC, Letjend Qassem Soleimani. Syahid Soleimani pada 3 Januari 2020 mendatangi Irak atas undangan resmi pemerintah Baghdad. Beliau bersama Wakil Komandan Hashd Al Shaabi, Abu Mahdi Al Muhandis dan 8 orang lainnya gugur diserang pasukan Amerika Serikat di dekat bandara Baghdad.
Dalam jumpa pers bersama Menlu Irak, Zarif menuturkan, sungguh disayangkan aksi teror Amerika terhadap Jenderal Qassem Soleimani, dan Abu Mahdi Al Muhandis telah membawa kerugian besar bagi proses perang menumpas terorisme di kawasan.
Menlu Iran menambahkan, Iran dan Irak bekerjasama untuk mengusut, dan menghukum pelaku kejahatan ini.
Selama ini Iran dan Irak selalu bekerjasama melawan terorisme, dan kondisi kawasan menuntut kedua negara untuk terus menjaga kewaspadaan penuh terhadap ancaman keamanan yang berasal dari kelompok teroris termasuk Daesh.
Ketiga, tindak lanjut kesepakatan-kesepakatan Tehran-Baghdad yang dicapai dalam lawatan Presiden Iran Hassan Rouhani pada Maret 2018 silam ke Irak, terutama penguatan dan perluasan kerja sama, peningkatan hubungan ekonomi, dan penguatan jalinan politik.
Dalam statemennya Menlu Iran menekankan perluasan kerja sama ekonomi Tehran-Baghdad dan menjelaskan, potensi ekonomi Iran dan Irak dapat digunakan untuk menjamin kemajuan dua negara.
Sementara itu, Menlu Irak Fuad Hussein dalam jumpa pers bersama Zarif mengatakan bahwa Irak berusaha mewujudkan hubungan yang seimbang dengan negara-negara tetangga. Menurutnya, kelanjutan hubungan perdagangan Iran dan Irak di tengah wabah Virus Corona, merupakan hal yang mendesak.
Keempat, perkembangan kawasan, dan kebijakan destruktif Amerika di Irak dan Asia Barat. Sehubungan dengan ini, negosiasi-negosiasi menjelang kunjungan luar negeri pertama PM Irak ke Arab Saudi, Iran, kemudian Amerika, menjadi perhatian media dan pengamat politik kawasan serta dunia.
Terlepas dari berbagai kontroversi seputar isu ini, apa yang lebih penting adalah negosiasi Menlu Iran dan pejabat Irak terkait kepentingan bersama dua negara yang bisa membawa keuntungan strategis, dan kesepakatan yang berlandaskan maslahat dua negara khususnya hubungan Tehran dengan pemerintah baru Baghdad.
Oleh karena itu meski Amerika dan beberapa negara lain berusaha mengganggu hubungan Iran dan Irak, namun hubungan kedua negara tetap strategis dan mengalami kemajuan. Iran dan Irak sejak lama sudah membangun fondasi hubungan strategis ini,dan kedekatan keduanya dapat memperkuat perdamaian, stabilitas serta keamanan regional. (HS)