Upaya Mencari Solusi Krisis Suriah
Krisis Suriah sudah berlangsung lebih dari lima tahun dan rakyatnya telah menjadi korban utama konflik itu. Di antara dampak serius krisis ini bagi rakyat Suriah adalah banyak dari mereka kehilangan nyawanya dan terluka, mereka harus menjadi pengungsi di dalam negeri dan tempat lain, kehilangan tatanan kehidupan individual dan sosial, dan juga banyak anak-anak menjadi yatim.
Konflik tersebut juga membawa dampak lain yang tidak terlihat kasat mata seperti, rasa trauma dan tekanan mental baik yang dirasakan oleh orang dewasa maupun anak-anak. Tatanan budaya dan sistem pendidikan mereka juga hancur akibat perang yang berkepanjangan.
Semua politisi regional dan internasional serta para analis independen sepakat bahwa krisis Suriah sudah sangat parah dan mereka percaya bahwa di Suriah telah terjadi empat jenis kejahatan berat seperti yang tertulis dalam statuta Pengadilan Pidana Internasional yaitu, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan agresi.
Meski demikian, masyarakat internasional belum mencapai konsensus dan kesepakatan tentang cara-cara untuk mengakhiri krisis Suriah.
Sejumlah putaran perundingan damai telah diselenggarakan di Jenewa, Moskow, dan Wina soal krisis Suriah, namun semua pertemuan itu tidak menghasilkan konsensus untuk menyudahi konflik. Selain itu puluhan pertemuan sudah dilaksanakan untuk mencari jalan keluar, tetapi upaya ini juga tidak melahirkan keputusan penting.
Dalam situasi seperti ini, Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin pada Rabu lalu mengatakan bahwa selama perundingan intra-Suriah tidak dimulai, maka kerja keras masyarakat internasional tidak akan membawa hasil yang diharapkan.
Komentar Vitaly Churkin merupakan sebuah sikap yang rasional dan realistis terkait krisis Suriah.
Suriah sama seperti negara-negara Arab lainnya juga menyaksikan protes warga terhadap pemerintah, namun krisis Suriah memburuk drastis ketika poros Arab, Zionis, Barat, dan Turki melakukan campur tangan di negara itu.
Intervensi ini membuka jalan bagi kehadiran kelompok-kelompok teroris, yang melibatkan warga asing dari 80 negara lebih untuk berperang di Suriah.
Keempat pihak itu bahkan memainkan peran yang lebih dominan di Suriah dibanding para pemain internal sendiri. Dari satu sisi, mereka melanjutkan dukungan kepada terorisme dengan membagi para teroris menjadi baik dan buruk. Dari sisi lain, mereka terus memaksakan proposalnya untuk mengakhiri krisis Suriah ketimbang mendukung dialog intra-Suriah dan berupaya untuk meyakinkan kelompok-kelompok Suriah dalam mencapai solusi damai.
Dalam insiden terbaru di Aleppo, kelompok-kelompok teroris Takfiri yang didukung Amerika Serikat melancarkan serangan gas beracun terhadap warga sipil Suriah.
"AS mendukung 'binatang-binatang' yang menggunakan gas beracun terhadap penduduk sipil," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada hari Kamis.
Jelas bahwa jika keempat pihak tersebut mengakhiri dukungannya kepada terorisme dan melakukan perang yang jujur dengan kelompok-kelompok teroris, maka mereka dapat mendorong perundingan damai antara faksi-faksi politik Suriah untuk memecahkan krisis secara permanen. (RM)