Ketika Israel Terjebak Perang Gerilya di Bint Jbeil
-
Tentara Israel terluka (dok)
Pars Today - Bukan tank yang menentukan, tetapi pergerakan dan kejutan.
Bint Jbeil: Pusaran Perlawanan
Sejak sepekan terakhir, kota Bint Jbeil di Lebanon selatan berubah menjadi pusaran konflik langsung antara militer Israel dan pejuang Hizbullah. Namun, ini bukan perang konvensional dengan garis depan kaku. Hizbullah menerapkan model pertahanan baru: fleksibel, mobilitas tinggi, dan berbasis perang gerilya.
Brigadir Jenderal Purnawirawan Najj Mulla'b, analis militer Arab, menjelaskan bahwa Bint Jbeil bukan sekadar kota perbatasan. "Letaknya hanya tiga kilometer dari perbatasan utara Palestina yang diduduki. Kota ini adalah titik operasi kunci yang menghubungkan beberapa front pertempuran di Lebanon selatan."
"Dari sudut pandang militer, mustahil untuk melewati Bint Jbeil tanpa menguasainya — karena kota ini akan selalu menjadi ancaman bagi pasukan yang bergerak maju," tegasnya.
Kerusakan Bukan Kelemahan, Tetapi Keuntungan
Menariknya, kerusakan dan kehancuran akibat pemboman Israel justru meningkatkan efektivitas perang gerilya para pejuang Hizbullah.
"Reruntuhan memungkinkan pejuang memasang penyergapan, terlibat jarak dekat dengan tentara Israel, dan meningkatkan jumlah korban di pihak penyerang," jelas Mulla'b.
Israel menginginkan Bint Jbeil menjadi bagian dari zona penyangga sedalam delapan kilometer di Lebanon selatan. Karena itu, menguasai kota ini adalah target utama operasi darat Israel.
Pengepungan Gagal, Pertempuran Berubah Jadi "Kejar-kejaran"
Sebelum menyerang, pasukan Israel mencoba mengepung Bint Jbeil dari berbagai arah. Namun, mereka menghadapi perlawanan sengit yang menghentikan gerak maju mereka. Kini, pertempuran telah berubah menjadi konfrontasi skala penuh di lingkungan-lingkungan kota.
"Bint Jbeil kemungkinan besar akan menjadi medan perang gesekan jangka panjang," kata Mulla'b.
Taktik Baru: Pukul dan Pindah, Bukan Bertahan Mati
Laporan kantor berita resmi Lebanon menggambarkan bahwa para pejuang Hizbullah kini fokus pada:
- Menyerang jalur pasokan pasukan Israel
- Menargetkan pergerakan mereka di lingkungan kota, terutama di sekitar stadion kotamadya dan lingkungan Al-Barakah
Mereka menggunakan pola tempur "serang dan pindah" (hit-and-run) dengan cepat, bukan bertahan di posisi tetap. Ini adalah perang gesekan dengan mobilitas tinggi, bukan sekadar bertahan di parit.
Dengan demikian, Bint Jbeil adalah simbol. Tahun 2006, Israel gagal merebutnya. Kini, dengan kekuatan militer yang lebih besar sekalipun, mereka kembali terjebak dalam perang yang tidak bisa dimenangkan hanya dengan tank dan bom.
Hizbullah tidak berusaha menghentikan tank dengan tank. Mereka membuat tank itu berhenti dengan sendirinya, karena takut pada setiap bayangan, setiap pintu, setiap jendela yang mungkin menyemburkan roket.
Inilah perang asimetris. Dan di Bint Jbeil, Israel kembali belajar pelajaran yang sama.(sl)