Pidato Sekjen Hizbullah Mengenai Transformasi di Kawasan
Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) mendukung Michel Aoun dan Saad Hariri sebagai Presiden dan Perdana Menteri Lebanon.
Sayid Hassan Nasrullah mengungkapkan hal itu dalam video konferensi di acara tujuh hari kesyahidan Haj Hatem Hamadeh atau dikenal dengan Haj Alaa, salah satu komandan Hizbullah, Minggu (23/10/2016) sore.
"Hizbullah mendukung pencalonan Michel Aoun sebagai Presiden dan tidak menentang Saad Hariri, Ketua Gerakan al-Mustaqbal sebagai PM," kata Sayid Nasrullah seperti dilansir jaringan televisi al-Manar.
Ia lebih lanjut menyinggung penangkapan anggota kelompok-kelompok teroris di Lebanon, dan menjelaskan, para teroris ini dikirim ke Lebanon dari Raqqa Suriah dan dikendalikan dari luar negeri.
Sekjen Hizbullah menilai perang melawan teroris di Mosul, utara Irak dan di Aleppo, utara Suriah, sebagai perang yang menentukan. Ia menjelaskan, perang Aleppo memiliki konsekuensi besar di lapangan, strategi dan politik.
Sayid Nasrullah menambahkan, perang Aleppo merupakan perang yang menentukan bagi kawasan, begitu juga operasi pembebasan kota Mosul hari ini juga sangat penting.
"Blokade terhadap anasir-anasir bersenjata di Suriah oleh militer negara ini dan pasukan Muqawama telah menyebabkan mereka tidak bisa melancarkan serangan bom-bom mobil dari Suriah ke Lebanon," ujarnya.
Kami, lanjut Sayid Nasrullah, setelah mengevaluasi mendalam tentang peristiwa di kawasan, kami memutuskan untuk masuk ke Suriah dan dalam bentrokan di Aleppo, banyak yang syahid termasuk Haj Alaa.
Sekjen Hizbullah menjelaskan, kami telah mencegah para teroris Takfiri dan pendukung mereka untuk mencapai tujuan-tujuannya di kawasan dan kami bergerak ke arah kemenangan nyata. Kami akan kembali ke Lebanon setelah kemenangan di Suriah dan penggagalan konspirasi pembagian negara ini.
Ia menegaskan, perilaku kelompok teroris Daesh (ISIS), Front al-Nusra (Jabhat Fateh al-Sham) dan kelompok-kelompok teroris Takfiri lainnya membuktikan kebenaran klaim-klaim kami dan membenarkan rencana untuk memisahkan negara-negara kawasan dari akar-akar sejarah mereka.
Sayid Nasrullah mengatakan, bukan hanya warga Syiah yang berperang melawan Daesh di Irak, namun sebuah konsensus nasional yang besar untuk tujuan ini.
"Ahlussunnah lebih menderita akibat perencanaan Takfiri di kawasan ketimbang kelompok-kelompok lainnya," ujarnya.
Sayid Nasrullah menegaskan, perasatuan nasional Irak untuk melawan Daesh adalah sebuah realitas dan berbagai suku dan mazhab bersatu untuk membebaskan kota Mosul dari pendudukan Daesh.
Sekjen Hizbullah lebih lanjut mengungkapkan rasa terkejut atas tindakan Turki yang menentang partisipasi pasukan relawan Irak dalam operasi pembebasan kota Mosul.
Ia mengatakan, penentangan itu dilakukan ketika rakyat Irak mempersembahkan puluhan korban demi membebaskan kota Mosul dari pendudukan Daesh.
Di bagian lain pidatonya, Sekjen Hizbullah menyinggung transformasi di Yaman. Ia mengatakan, di Yaman sedikitnya 15-20 juta warga negara ini di bawah blokade. Perang terhadap rakyat Yaman dan pembunuhan terhadap mereka dilakukan ketika PBB dan Barat mengambil sikap bungkam yang memiliki tujuan.
Sekjen Hizbullah juga menyinggung pengakuan Amerika Serikat tentang dukungan Arab Saudi kepada Daesh. Ia menuturkan, meskipun ribuan orang menjadi korban para teroris, namun kejahatan teroris berlanjut dan tidak ada seorangpun yang bertanya tentang para pendukung mereka.
Sayid Nasrullah menyesalkan kebungkaman masyarakat internasional terhadap dukungan Arab Suadi kepada kelompok-kelompok teroris. (RA)