Eskalasi Sentimen Anti-AS di Bahrain
Berbagai berita menunjukkan eskalasi sentimen anti Amerika Serikat di Bahrain seiring dengan sikap Washington yang memberi lampu hijau kepada rezim Al Khalifa melakukan kekerasan terhadap warganya serta pemimpin kebangkitan rakyat negara ini, khususnya isu pengepungan rumah Sheikh Isa Qassim.
Dalam koridor ini, bersamaan dengan eskalasi protes anti Amerika Serikat oleh warga Bahrain selama beberapa bulan terakhir, pemimpin Gerakan 14 Februari menyatakan, menyusul serangan ke rumah Sheikh Isa Qassim, ulama terkemuka Bahrain yang dilakukan dengan lampu hijau Amerika, rakyat Bahrain menuntut pasukan Amerika keluar dari negara mereka.
Ossam al-Manami, salah satu pemimpin Gerakan 14 Februari menekankan, koalisi pemuda 14 Februari dalam sebuah aksi strategisnya menyatakan jumat pertama bulan suci Ramadhan sebagai hari nasional pengusiran pasukan AS dan pengosongan pangkalan Amerika di Bahrain. Amerika melalui penempatan militernya di Bahrain secara praktis melanggar kedaulatan negara ini dan isu ini memicu protes warga Bahrain.
Rezim Al Khalifa dengan lampu hijau Amerika di sidang Riyadh, semakin meningkatkan kejahatannya terhadap warganya sendiri.
Pengamat politik menilai serangan ke rumah Sheikh Isa Qassim dan blokade rumah ulama ini sebagai dampak sidang terbaru AS-Arab dengan kehadiran Presiden Donald Trump di Riyadh. Bahrain sejak Februari 2011 menjadi ajang kebangkitan rakyat melawan rezim penguasa. Rakyat Bahrain menuntut kebebasan, penerapan keadilan, dicabutnya diskriminasi dan pembentukan pemerintahan sipil di negara mereka.
Namun rezim Al Khalifa dengan bantuan militer Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam bentuk pasukan Perisai Jazera menumpas aksi protes damai warga. Di sisi lain, rezim Al Khalifa masih mendapa dukungan besar dari pemerintah Barat khususnya Amerika Serikat. Dan dukungan ini membuat rezim Al-Khalifa semakin congkak melanjutkan penumpasan terhadap warga sipil.
Merapat ke Barat khususnya Amerika memicu Barat semakin menguatkan hegemoni politik, militer dan ekonominya di Bahrain dan di sisi lain, rakyat semakin membenci penguasa. Sementara itu, perluasan pangkalan militer Amerika di Bahrain selama beberapa tahun terakhir terjadi di saat militer Bahrain mendapat bantuan pelatihan dari militer Amerika untuk menumpas warga. Hal ini menunjukkan partisipasi Amerika di samping pasukan Perisai Jazera dalam membantu aparat keamanan rezim Al Khalifa menumpas rakyat Bahrain.
Bahrain dan Amerika di tahun 1971 menandatangani kesepakata militer bersama di mana berdasarkan kesepakatan ini, lahan seluas 40 km persegi diberikan kepada Washington. Sejak tahun 1993, armada laut Amerikan ditempatkan di Bahrain dan di tahun 1995, Bahrain secara resmi menjadi tuan rumah armada laut kelima Amerika.
Rakyat Bahrain sejak awal kebangkitannya di tahun 2011 senantiasa menuntut reformasi politik di negara ini dan mencabut perjanjian dengan Amerika yang melanggar kedaulatan nasional dan integritas wilayah negara ini. Perjanjian pemerintah Manama dan Washington selama dua dekade lalu dengan jelas menunjukkan bahwa Amerika memanfaatkan Bahrain sebagai batu loncatan dan tempat intervensi militernya di kawasan.
Selain itu, kebangkitan rakyat Bahrain juga berubah menjadi ajang pertumpahan darah dengan dukungan militer dan politik Arab Saudi serta Amerika kepada rezim Al Khalifa. Di kondisi seperti ini, rakyat Barhain menuntut penarikan pasukan Amerika dari negara mereka dan meyakini bahwa rezim Al Khalifa adalah rezim despotik, pelanggar HAM dan pelaku diskriminasi etnis serta kelompok di Bahrain dengan dukungan Amerika dan Arab Saudi. (MF)