Pertemuan Trump-Kim, Substansial atau Propaganda ?
-
Kim dan Trump
Akhirnya setelah sekian lama, pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, yang banyak dianggap sebagai pertemuan bersejarah itu, digelar di Singapura.
Meski hingga kini reaksi dari pihak Korea Utara terkait hasil perundingan masih belum dipublikasikan, namun sepertinya kecil kemungkinan perundingan tersebut membuahkan hasil signifikan dan pertemuan yang lebih merupakan evaluasi dua pihak serta penyampaian keinginan.
Terlebih sepertinya, Kim Jong-un juga tidak terlalu mempercayai Trump dan negaranya terutama setelah keluarnya Amerika dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, konflik sengit Amerika dengan negara anggota kelompok G7 yang tampak jelas dalam KTT G7 terbaru di Kanada.
Salah seorang pengamat politik Amerika, Suzzane DiMaggio menuturkan, dalam pertemuan tidak resmi yang pernah saya lakukan dengan beberapa pejabat tinggi Korea Utara, mereka selalu menyinggung masalah kesepakatan nuklir Iran, JCPOA.
Realitasnya, pencabutan kesepakatan nuklir Iran, JCPOA membayangi perundingan pemerintah Amerika dengan Korea Utara. Para politisi Partai Demokrat Amerika mengatakan, langkah Trump terkait Iran dan JCPOA menyebabkan peluang Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Korea Utara semakin sempit.
Salah satu anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Senat Amerika dari Demokrat, Ben Cardin menuturkan, keluarnya Presiden Amerika dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA berpengaruh pada kredibilitas negara ini.
Media-media Amerika mengabarkan bahwa agenda utama pertemuan Trump dengan Kim Jong-un adalah perlucutan senjata Pyongyang. Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo menegaskan, pemerintahan Trump sekarang masih sangat jauh dari targetnya melakukan pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara.
Menurut Pompeo, apa yang diharapkan dari Korea Utara adalah perubahan strategis dalam pengelolaan pemerintahan negara itu oleh Kim Jong-un. Meski demikian , apa yang paling bisa dilakukan oleh Pyongyang adalah perundingan seputar masalah nuklir dan rudal demi mendapat sejumlah kompensasi kunci dari Korea Selatan dan Amerika.
Di tengah semua statemen propaganda Trump setelah bertemu dengan Kim Jong-un, kita harus ingat bahwa Korea Utara dengan memperhatikan pengalaman Iran di JCPOA, semata-mata dalam proses bertahap dan dengan jaminan mendapat kompensasi, bersedia mengurangi sedikit dari potensi nuklir dan rudalnya, dan dengan alasan apapun, tidak mau menyingkirkannya sama sekali. (HS)