Drone Serang Lokasi Pidato Maduro
-
Presiden Venezuela Nicolas Maduro selamat dari upaya teror.
Sebuah drone pembom menyerang lokasi dan gedung tempat pidato Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Sabtu (4/8/2018).
Tampak Nicolas terkejut mendengar suara ledakan bersama staf kepresidenan yang berdiri di belakangnya. Terlebih, insiden ini terjadi saat siaran langsung televisi.Pidato pun dihentikan bersama pengawal yang berupaya melindungi sang presiden dengan tameng anti peluru. Di sisi lain, ratusan warga terlihat berhamburan menjauh dari lokasi.
Tujuh tentara dilaporkan terluka sementara Maduro dan penabat lainnya selamat tanpa luka. Menurut media setempat, insiden ini adalah serangan teroris yang berupaya membunuh Maduro dengan menerbangkan drone pembawa peledak.
Yang pasti, presiden Venezuela selamat dari upaya pembunuhan yang dilancarkan dengan menggunakan bom drone. Mengacu pada "serangan" Sabtu malam, Menteri Penerangan Venezuela, Jorge Rodriguez, mengatakan bahwa para pejabat tinggi pemerintah di samping presiden juga selamat tanpa cedera. Ditambahkannya, tujuh pasukan Garda Nasional terluka selama percobaan teror yang gagal tersebut.
Para pejabat pemerintah Venezuela kemudian mengecam apa yang mereka sebut dengan serangan "teror" tersebut.
Laporan terbaru menyebutkan, sebuah kelompok pemberontak yang tidak dikenal telah mengklaim bertanggung jawab atas upaya teror yang gagal terhadap Maduro.
Maduro sendiri yang selamat setelah terjadi ledakan sebuah drone yang membawa bahan peledak di dekat tempatnya berpidato menuding kubu Kanan, Kolombia dan Amerika berencana untuk menerornya. Beberapa jam setelah terputusnya pidato langsungnya di acara militer mengatakan, insiden ini merupakan rencana kubu Kanan Venezuela (oposisi pemerintah) yang mendapat dukungan Amerika.
Presiden Venezuela mengatakan "Saya tidak ragu bahwa nama Juan Manuel Santos berada di balik serangan ini," katanya, mengacu pada presiden Kolombia, tanpa menunjukkan bukti.
Pada Sabtu malam, kelompok pemberontak sipil dan militer yang menamakan dirinya "National Movement of Soldiers in Shirts" mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Kelompok itu dalam pernyataannya menyebutkan, "Ini bertentangan dengan kehormatan militer untuk menjaga pemerintah yang bukan hanya melupakan konstitusi, tetapi juga telah membuat kantor publik menjadi panggung pertunjukan tidak pantas untuk menjadi kaya."
Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan oposisi yang berbasis di AS, Patricia Poleo, yang membacakannya melalui akun YouTube-nya.
Selama beberapa tahun terakhir, krisis politik di Venezuela dan protes dan demonstrasi jalanan oleh kelompok oposisi di dalam negeri yang disetir oleh Washington telah menimbulkan berbagai masalah ekonomi, sosial dan politik di negara tersebut.
Namun Maduro mampu memperbaiki kondisi dalam negeri berkat dukungan warga negaranya, dia terpilih kembali dalam pemilihan presiden Venezuela yang digelar awal tahun ini.
Ernesto Wong, analis masalah politik internasional dalam hal ini mengatakan, "Pemberlakuan sanksi oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela karena Washington gagal mencapai tujuan imperialisnya di Venezuela, dan karena Venezuela berjuang melawan semua kebijakan intervensionis AS."
Namun, langkah AS terhadap Venezuela akan berlanjut dengan berbagai cara. Mengadu Organisasi Negara-Negara Amerika dengan mendukung kebijakan Maduro, serta infiltrasi ke sejumlah negara Amerika Latin dan upaya untuk mengadu-domba mereka dengan Venezuela, termasuk di antara kebijakan Washington. Dalam hal ini, hubungan antara Venezuela dan Kolombia berada dalam kondisi kritis menyusul intervensi Washington.
Presiden Venezuela Maduro memperingatkan bahwa Amerika Serikat berusaha untuk mendorong aksi provokatif di perbatasan Venezuela dengan Kolombia guna menyeret kedua negara ke dalam konflik, dan sebenarnya sebuah plot anti-pemerintah Venezuela yang disusun dari Bogotá, ibukota Kolombia