Lintasan Sejarah 26 Oktober 2018
-
26 Oktober 2018
Hari ini, Jumat tanggal 26 Oktober 2018 yang bertepatan dengan tanggal 16 Shafar 1440 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 4 Aban 1397 Hijriah Syamsiah. Rekan setia, kini mari kita tinjau peristiwa bersejarah apa saja yang terjadi pada hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Wafatnya Ayatullah Mujtahid Tabrizi
103 tahun yang lalu, tanggal 16 Shafar 1337 HQ, Ayatullah Mujtahid Tabrisi meninggal dunia.
Mirza Musthafa Mujtahid Tabrizi, ulama besar kota Tabriz, Iran dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa, dibarengi akhlak mulia. Mirza Mujtahid Tabrizi lahir dalam keluarga agamis.
Bagi semua ulama yang semasa dengannya, kecakapan Ayatollah Mujtahid Tabrizi dalam ilmu fiqih, ushul fiqih, perbintangan, matematika, puisi dan sastra termasuk di atas rata-rata. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di Iran dan kemudian menuntut ilmu di Najaf, Irak dan mengikuti kuliah Akhond Khorasani, Syeikh al-Syariah al-Isfahani, Sayid Muhammad Kazhim Yazdi dan guru-guru besar lainnya.
Buku al-Ghurudh, Catatan atas Kifayah al-Ushul dan al-Libas al-Masykuk merupakan sebagian dari karya-karyanya.
Kawasan Strategis Jammu dan Kashmir Bergabung dengan India
71 tahun yang lalu, tanggal 26 Oktober 1947, menyusul kemerdekaan India dari Inggris, dan terpisahnya Pakistan dari India, kawasan strategis Jammu dan Kashmir bergabung dengan India.
Rencana sebelumnya, Jammu dan Kashmir yang mayoritas penduduknya muslim itu, akan masuk ke wilayah Pakistan. Namun, penguasa kawasan tersebut, atas provokasi Inggris dan India, mengambil keputusan yang berlawanan dengan keinginan rakyatnya, dan lebih memilih untuk bergabung dengan India.
Setelah diumumkannya penggabungan ke India ini, Pakistan menyerang Jammu dan Kashmir serta menduduki sebagian wilayahnya. Sejak saat itu, Pakistan dan India telah dua kali berperang memperebutkan kawasan tersebut. Perseteruan politik di antara keduanya pun hingga kini terus berlanjut.
PBB telah mengusulkan agar diadakan referendum untuk menentukan nasib kawasan ini. Usul ini diterima oleh Pakistan, namun ditolak oleh India. Kawasan Jammu dan Kashmir memiliki luas wilayah 222 ribu kilometer persegi dan hampir dua pertiganya dikuasai oleh India.
Pidato Historis Imam Khomeini ra Mengungkap UU Kapitulasi
55 tahun yang lalu, tanggal 4 Aban 1342 HS, Imam Khomeini ra menyampaikan pidato historisnya mengungkap undang-undang Kapitulasi.
Setelah pemerintah dan parlemen Iran meratifikasi undang-undang Kapitulasi pada bulan Mehr 1342, ternyata undang-undang ini tidak dipublikasikan lewat media-media. Namun beberapa waktu setelah itu, koran internal parlemen yang berisikan teks lengkap pidato, dialog para anggota parlemen dan kepala negara sampai ke tangan Imam Khomeini ra. Imam memutuskan untuk menyampaikan hakikat yang ada ini kepada masyarakat agar mereka mengetahui tragedi besar yang telah terjadi.
Imam Khomeini ra baru beberapa bulan dibebaskan dari penjara rezim Shah Pahlevi. Namun hal itu tidak menyurutkan niat beliau mengungkapkan apa yang terjadi. Imam menyampaikan pidato historisnya dengan memrotes keras ratifikasi undang-undang Kapitulasi atau pemberian kekebalan hukum kepada warga Amerika yang tinggal di Iran.
Pernyataan penting Imam dalam pidatonya pada 4 Aban 1342 HS di depan para rohaniwan dan rakyat Qom pada hakikatnya merupakan pengadilan terhadap pemerintah Amerika atas campur tangan mereka dalam urusan dalam negeri Iran, sekaligus mengungkap kejahatan Shah Pahlevi terhadap Islam dan bangsa Iran. Imam Khomeini juga mengutuk rezim Zionis Israel dan dukungan Amerika terhadapnya.
Imam Khomeini ra dalam pengumuman yang disebarkan ke seluruh penjuru Iran menyatakan ratifikasi Kapitulasi bertentangan dengan Islam dan al-Quran dan sikap ini sama dengan mengakui Iran dijajah Amerika.
Pidato Imam Khomeini dan pernyataan kerasnya diliput luas media, sehingga rezim Shah Pahlevi kembali diprotes rakyat Iran. Rezim Shah tidak menyangka bakal mendapat protes sehebat ini. Karena gerakan protes ini berubah menjadi protes umum yang terjadi di seluruh negeri. Melihat kenyataan ini, rezim Shah Pahlevi mulai menerapkan aturan baru yang membatasi gerak-gerik Imam Khomeini ra. Beberapa hari setelah itu, tepatnya tanggal 13 Aban 1342 (4 November 1963) beliau ditahan dan diasingkan ke Turki.
Periode ini sangat penting dalam sejarah kebangkitan Islam di Iran. Karena perlawanan terhadap rezim despotik Shah Pahlevi berubah menjadi revolusi melawan arogansi internasional.[]