Lintasan Sejarah 8 November 2018
-
Lintasan Sejarah 8 November 2018.
Hari ini, Kamis 8 November 2018 bertepatan dengan 29 Shafar 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 17 Aban 1397 Hijriah Syamsiah. Kini, kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Museum Louvre Dibuka
225 tahun yang lalu, tanggal 8 November 1793, Perancis membuka museum Louvre untuk umum.
Museum Louvre di Paris, Perancis adalah salah satu museum terbesar dan paling terkenal di dunia. Gedungnya merupakan sebuah istana bangsawan selama 2 abad. Bangunan mewah tersebut terletak di pusat Perancis antara sungai Seine dan Rue de Rivoli. Istana Louvre dibangun Raja Perancis pada 1564, di lokasi bekas benteng dari abad ke 12 yang dibangun Raja Philip II. Kini di lapangan museum berdiri piramida kaca.
Raja Perancis adalah seorang kolektor seni sejati. Louvre sengaja dibangun untuk melayaninya sebagai bangsawan. Arsitek Louvre adalah Pierre Lescot. Dalam semangat pencerahan mulai banyak koleksi kerajaan yang dipamerkan kepada publik. Ketika Revolusi Perancis pecah pada 1789, Louvre dijadikan museum permanen. Pada 8 November 1793, pemerintah revolusi membuka museum Louvre untuk umum. Koleksi museum Louvre bertambah banyak dengan sangat cepat.
Mirza Abdul Qasim Farahani Meninggal Dunia
189 tahun yang lalu, tanggal 29 Shafar 1251 HQ, Mirza Abdul Qasim Qaim Maqam Farahani, seorang penulis dan politikus Iran periode Qajar, meninggal dunia akibat dibunuh.
Mirza Qaim Maqam Farahani merupakan putra mahkota Dinasti Qajar dan kemudian diangkat menjadi penasehat Shah Muhammad. Ia banyak melakukan reformasi dalam berbagai bidang di Iran. Namun, para lawan politiknya dan imperialis asing melihat bahwa kebijakan yang diambil Farahani membahayakan kepentingan ilegal mereka, sehingga mereka merencanakan pembunuhan atas Farahani.
Farahani banyak meninggalkan karya penulisan, di antaranya berjudul "Mansha`at", "Jalayer Nameh" dan "Kumpulan Syair".
Imam Khomeini: Dilarang Berunding dengan Utusan Carter Soal Tawanan!
39 tahun yang lalu, tanggal 17 Aban 1358 HS, Imam Khomeini ra mengeluarkan perintah larangan berunding dengan utusan Presiden Amerika Jimmy Carter soal tawanan.
Pada tanggal 13 Aban 1358 (4 November 1979) Kedutaan Besar Amerika atau yang lebih dikenal sebagai sarang spionase diduduki oleh "Mahasiswa Pengikut Garis Imam". Menyusul dukungan Imam Khomeini ra atas aksi yang dilakukan para mahasiswa, pemerintahan sementara Mahdi Bazargan mengundurkan diri.
Sekalipun tidak berharap demikian, Imam Khomeini ra akhirnya menerima pengunduran pemerintahan Bazargan. Sementara anggota kabinet pemerintahan sementara juga berharap Imam Khomeini ra tidak menerima permintaan pengunduran diri itu. Karena telah beberapa kali pemerintahan sementara berniat mengundurkan diri, tapi tidak diterima oleh Imam Khomeini ra.
Oleh karenanya, pemerintahan sementara mulai menekan para mahasiswa agar membebaskan para tawanan yang ditahan dari Kedubes AS di Tehran itu. Sementara itu, selain Imam Khomeini ra menerima pengunduran diri pemerintahan sementara, ternyata beliau tidak memperkenalkan pemerintahan baru, tapi menyerahkan pemerintahan kepada Dewan Revolusi, hingga terbentuknya parlemen pertama. Berbeda dengan pemerintahan sementara yang lebih solid, Dewan Revolusi terdiri dari anasir-anasir moderat, ekstrim, rohaniwan dan non-rohaniwan.
Pengunduran diri pemerintahan sementara dan pengalihan urusan pemerintahan kepada Dewan Revolusi membuat pupus segala harapan yang ada pada pemerintah Amerika untuk membebaskan para tawanan itu. Bagi mereka penyelesaian segera masalah ini menjadi semakin sulit. Hal ini menambah kegelisahan mereka. Saat ini mereka menghadapi ketegasan Imam Khomeini ra.
Pada tanggal 17 Aban 1358 (8 November 1979) Imam Khomeini ra mengeluarkan perintahnya sebagai berikut:
"Sesuai informasi yang ada, para wakil khusus Carter tengah menuju Iran. Mereka berkeinginan mengunjungi kota Qom dan bertemu dengan saya. Oleh karenanya, saya perlu mengingatkan bahwa pemerintah Amerika sebagai pelindung Shah telah menyatakan penentangannya secara terang-terangan terhadap Iran. Selain itu, sesuai yang telah disebutkan, Kedutaan Besar Amerika di Iran telah menjadi sarang spionase musuh-musuh kita yang anti-kebangkitan suci Islam.
Dengan demikian, tidak mungkin akan terjadi pertemuan saya dengan wakil-wakil khusus Amerika. Selain itu, 1. Anggota Dewan Revolusi tidak berhak menemui mereka. 2. Tidak ada seorang pejabat Iran-pun yang boleh bertemu dengan mereka. 3. Bila Amerika menyerahkan Shah yang telah lengser dan musuh nomor wahid Iran kepada kita dan tidak lagi memata-matai revolusi kita, pada saat itu baru terbuka jalan untuk merundingkan sebagian hubungan yang bermanfaat bagi bangsa Iran.”