Iran Minta IAEA tidak Membantu AS Menghancurkan Perjanjian Nuklir
-
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif (kiri) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak boleh menjadi instrumen Amerika Serikat untuk menghancurkan perjanjian nuklir JCPOA.
Dia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov di Moskow, Selasa (16/6/2020).
Iran, lanjut Zarif, selalu bersikap sangat terbuka dengan IAEA dan laporan-laporan lembaga ini juga menegaskan bahwa Tehran telah memenuhi semua kewajibannya.
Dia menekankan Iran seharusnya tidak menjadi subjek investigasi yang dokumennya didasari pada klaim-klaim intelijen. “Jika IAEA ingin menggunakan cara-cara yang tidak rasional, Tehran akan menanggapinya secara terukur,” tegas Zarif.
Menlu Iran menambahkan bahwa sangat disayangkan jika sekjen PBB dan dirjen IAEA bergerak untuk menghancurkan JCPOA.
Menlu Iran telah berdiskusi dengan mitranya dari Rusia tentang pelanggaran aturan internasional oleh Amerika. Menurutnya, AS mulai menyalahgunakan perjanjian internasional ketika mereka telah menarik diri darinya.
Mengenai kesepakatan yang dicapai dengan menlu Rusia tentang dialog Astana, Zarif menjelaskan para pemimpin Iran, Rusia, dan Turki akan mengadakan dialog Astana secara virtual dan jika situasi memungkinkan, mereka juga akan melakukan pertemuan tatap muka.
“Selama dialog Astana digelar, Iran, Rusia, dan Turki mampu memulihkan situasi Suriah dari kondisi krisis,” ungkapnya.
Sementara itu, menlu Rusia mengkritik pendekatan Amerika terhadap JCPOA dan mengatakan upaya Washington untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Tehran, tidak punya peluang untuk diterapkan.
Pada kesempatan itu, Lavrov dan Zarif juga berdiskusi tentang perkembangan di Afghanistan, Libya, dan Yaman. (RM)