Perlawanan Yaman dan Pendefinisian Ulang Perimbangan Kekuatan di Laut Merah
-
Yaman
Pars Today – Media rezim Zionis, melalui berbagai laporan yang mereka terbitkan, mengakui dampak operasi pasukan perlawanan Yaman terhadap perekonomian rezim tersebut.
Saluran 14 rezim Zionis dalam sebuah laporan mengungkapkan bahwa pengabaian terhadap Pelabuhan Umm al-Rashrash (Eilat) telah berlangsung selama lebih dari dua tahun. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya operasi pasukan Yaman sepanjang perang Gaza serta kurangnya sikap tanggung jawab dari kabinet Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim tersebut.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa peringatan mengenai pemutusan hubungan kerja terhadap 130 pekerja di Pelabuhan Eilat telah dikeluarkan. Selain itu, seluruh industri rezim Israel mengalami kerugian besar akibat ketidakmampuan kabinet dalam melaksanakan program dukungan terhadap Pelabuhan Eilat.
Sebelumnya, surat kabar Zionis Calcalist juga mengungkapkan bahwa keuntungan perusahaan transportasi laut besar milik rezim Israel yang bernama ZIM mengalami penurunan akibat operasi dukungan militer Yaman terhadap Gaza serta pengepungan laut terhadap rezim tersebut.
Surat kabar Calcalist juga melaporkan bahwa defisit neraca perdagangan rezim Israel telah mencapai rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan data Pusat Statistik rezim Zionis, defisit perdagangan barang pada tahun 2025 mencapai angka sangat besar, yakni 38 miliar dolar AS, meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya (2024).
Apa yang dipublikasikan oleh media rezim Zionis menunjukkan bahwa operasi laut dan rudal Yaman tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi yang mendalam dan struktural terhadap rezim Zionis. Dampak operasi perlawanan Yaman dapat diamati pada tiga tingkat: gangguan terhadap jalur perdagangan dan pelabuhan, pukulan terhadap perusahaan transportasi dan rantai pasok barang, serta memburuknya krisis defisit neraca perdagangan dan penurunan ekspor rezim Zionis.
Pelabuhan Eilat di selatan wilayah pendudukan, selama lebih dari dua tahun, secara praktis tidak digunakan. Penyebab utamanya adalah berlanjutnya operasi pasukan perlawanan Yaman dan ketidakmampuan rezim Zionis untuk menghadapi tren ini. Berbagai industri rezim Zionis juga mengalami kerugian besar akibat terhentinya aktivitas Pelabuhan Eilat.
Pasukan perlawanan Yaman bertindak sebagai respons atas berlanjutnya pendudukan militer Zionis di Gaza dan terus melanjutkan operasi luas mereka di wilayah pendudukan serta Laut Merah terhadap rezim Zionis. Pihak Yaman menegaskan bahwa operasi mereka terhadap rezim Zionis akan terus berlanjut hingga pendudukan rezim tersebut terhadap rakyat Gaza dihentikan.
Operasi Yaman di Laut Merah telah menciptakan sebuah perang ekonomi total terhadap rezim Zionis. Di tengah kondisi krisis ini bagi rezim Zionis, defisit neraca perdagangan mencapai rekor historis, sementara ekspor turun ke level terendah dalam beberapa dekade terakhir. Pasukan perlawanan Yaman, dengan biaya yang sangat minim, telah memberikan pukulan ekonomi terbesar kepada rezim Zionis—sebuah pukulan yang bahkan media rezim tersebut terpaksa mengakuinya.
Apa yang dilakukan oleh perlawanan Yaman pada praktiknya telah mengubah keseimbangan kekuatan di Laut Merah dan Mediterania Timur. Rezim Zionis kini berada pada posisi di mana, meskipun mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan Barat serta kehadiran armada militer Amerika di kawasan tersebut, keamanan maritimnya mengalami kerusakan serius, sementara pasukan perlawanan Yaman telah menjadi aktor utama dalam dinamika kawasan.
Operasi laut pasukan perlawanan Yaman menunjukkan bahwa seorang aktor regional mampu memengaruhi arus perdagangan global, keamanan maritim, dan perekonomian rezim Zionis. Tren ini telah meningkatkan posisi Yaman dalam perhitungan keamanan Laut Merah dan bahkan dalam politik Asia Barat. (MF)