Tindakan Represif Baru Rezim Al Khalifa terhadap Rakyat Bahrain
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i42206-tindakan_represif_baru_rezim_al_khalifa_terhadap_rakyat_bahrain
Sejak 14 Februari 2011, rakyat Bahrain bangkit melawan kediktatoran rezim Al Khalifa. Mereka berunjuk rasa damai untuk menuntut kebebasan, keadilan, penghapusan diskriminasi dan berdirinya pemerintahan pilihan rakyat.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Aug 04, 2017 13:35 Asia/Jakarta

Sejak 14 Februari 2011, rakyat Bahrain bangkit melawan kediktatoran rezim Al Khalifa. Mereka berunjuk rasa damai untuk menuntut kebebasan, keadilan, penghapusan diskriminasi dan berdirinya pemerintahan pilihan rakyat.

Namun, tuntutan damai rakyat Bahrain itu disambut dengan kekerasan oleh rezim Al Khalifa. Dengan bantuan aparat keamanan Arab Saudi, rezim ini menumpas para aktivis dan revolusioner Bahrain dan memenjarakan mereka. Hingga kini banyak aktivis yang tewas dan dipenjara oleh rezim, bahkan kewarganegaraan mereka dicabut. Meskipun Bahrain negara kecil, namun memiliki tahanan politik terbesar di kawasan.

Baru-baru ini, rezim Al Khalifa dalam sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengumumkan bahwa distrik al-Diraz di barat manama, ibukota Bahrain dan tempat tinggal Sheikh Isa Qassim, ulama besar Syiah di negara ini sebagai "zona terlarang."

Sejak 407 hari lalu hingga sekarang, distrik al-Diraz secara permanen dan siang-malam diblokade aparat keamanan rezim Al Khalifa. Menurut sumber-sumber terpercaya dan revolusioner Bahrain, pasca berlalunya 73 hari dari serangan aparat keamanan rezim Al Khalifa ke rumah Sheikh Isa Qassim, belum ada berita mengenai nasib ulama terkemuka Bahrain ini.

Rezim Al Khalifa dengan menggunakan segala cara termasuk kebijakan represif terhadap rakyat Bahrain terutama terhadap para ulama yang memimpin kebangkitan rakyat, berusaha untuk memadamkan kebangkitan ini.

Dalam kerangka tujungan tersebut, Sheikh Isa Qassim menjadi target kebijakan represif rezim Al Khalifa. Rezim sekutu Barat ini memahami bahwa hubungan erat para ulama Bahrain dengan rakyat memiliki peran besar dalam memajukan kebangkitan mereka untuk melawan kediktatorannya. Oleh sebab itu, ia berusaha untuk memisahkan antara ulama dan rakyat dengan segala cara.

Tekanan terhadap ulama, blokade dan menjadikan daerah tempat tinggal mereka sebagai zona terlarang atau penerapan tahanan rumah terhadap mereka serta memasukkan mereka ke dalam penjara merupakan bagian dari langkah rezim Al Khalifa untuk mencegah interaksi masyarakat dengan para pemimpin mereka. Kekerasan dan peningkatan tekanan terhadap ulama Bahrain telah menyulut meningkatnya protes rakyat terhadap rezim Al Khalifa.

Michael Springmann, seorang penulis Amerika mengatakan, perampasan hak kewarganegaraan Sheikh Isa Qassim dan upaya untuk menghapusnya dari arena politik Bahrain menunjukkan bahwa rezim Al Khalifa telah merencanakan upaya ekstra untuk melanjutkan kekuasaannya, namun hal ini dilakukan ketika jam berakhirnya kekuasaan rezim ini telah berjalan.

Rakyat Bahrain mengkhawatirkan kondisi Sheikh Isa Qassim, sebab setelah pengepungan rumahnya oleh pasukan keamanan rezim Al Khalifa, belum ada kabar tentang nasib tokoh Bahrain ini.

Pemisahan Sheikh Isa Qassim dengan rakyat Bahrain dalam jangka waktu yang lama merupakan upaya rezim Al Khalifa untuk melaksanakan peta-peta dan konspirasi buruk terhadap ulama terkemuka tersebut. Dalam kondisi seperti ini, rakyat Bahrain melanjutkan unjuk rasa damai mereka dan menegaskan bahwa segala bentuk tindakan jahat dan membahayakan terhadap Sheikh Isa Qassim adalah tanggung jawab rezim Manama.

Ali al-Fayez, aktivis Hak Asasi Manusia Bahrain dan Ketua Asosiasi Bahrain untuk Kebebasan memperingatkan bahwa rakyat Bahrain hingga sekarang masih menahan diri terhadap kebijakan represif rezim Al Khalifa, namun jika terjadi kejahatan dan penodaan terhadap Sheikh Isa Qassim, akan terjadi pertumpahan darah.

Sensitivitas luas rakyat Bahrain terkait nasib Sheikh Isa Qassim merupakan peringatan terhadap rezim Al Khalifa, di mana segala bentuk tindakan gegabah terhadapnya akan menyulut protes besar dan memperkeruh kondisi Bahrain.

Jika hal itu terjadi, langkah-langkah seperti menjadikan distrik al-Diraz menjadi daerah terlarang tidak akan mampu meredakan kemarahan rakyat Bahrain terhadap tindakan represif rezim Al Khalifa. Yang pasti, segala bentuk langkah gegabah dan kejahatan terhadap Sheikh Isa Qassim akan menjadi pukulan terakhir bagi rezim yang sedang di ambang keruntuhan ini. (RA)