Ketika Sayid Hassan Nasrallah Mengkritik Tindakan AS di Timur Tengah
-
Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon
Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon baru-baru ini dalam pidatonya pada 26 Maret mengritik sejumlah tindakan Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat melakukan dua langkah penting di Timur Tengah selama sepekan terakhir; perjalanan Mike Pompeo ke kawasan, termasuk Lebanon, pengakuan resmi pemilikian Zionis Israel atas Dataran Tinggi Golan.
Pompeo melakukan perjalanan ke wilayah itu dengan dua tujuan penting; menyebarkan Iranphobia dan Hizbullahphobia. Kedua target ini dikritik dan direaksi oleh Sayid Hassan Nasrallah. Pompeo menuduh Iran mendukung terorisme di kawasan, tetapi Sekjen Hizbullah Lebanon menanggapi klaim ini dengan mengatakan, "Iran dan Qassem Soleimani telah membantu memerangi kelompok-kelompok teroris."
Menteri Luar Negeri Amerika serikat dalam kunjungannya ke Lebanon menuduh Iran mencampuri urusan dalam negeri Lebanon. Sayid Hassan Nasrallah menyebut alasan utama pernyataan Pompeo dan pejabat AS lainnya adalah peran Iran dalam membebaskan tanah Lebanon dari pendudukan Zionis Israel dan sebaliknya justru bertanya tentang seberapa bermanfaat Amerika Serikat di Lebanon?
Hizbullahphobia menurut Sayid Hassan Nasrallah, "memprovokasi Lebanon terhadap satu sama lain", merupakan tujuan Pompeo lainnya dalam perjalanannya ke Lebanon, tetapi Sekjen Hizbullah sambil menekankan titik kunci peran Hizbullah dalam mengamankan Lebanon mengatakan, "Hizbullah senang dapat memicu kemarahan pemerintah Trump."
Sayid Hassan Nasrallah menekankan bahwa Zionis Israel adalah hambatan utama untuk kemajuan dan pengembangan Lebanon. Zionis Israel yang mendapat dukungan penuh pemerintah Amerika serikat.
Meskipun Menlu AS meninggalkan Lebanon dengan tangan kosong, padahal telah didukung oleh kelompok-kelompok dan tokoh-tokoh Lebanon, pernyataan yang dibuat oleh Sayid Hassan Nasrallah juga menunjukkan bahwa Hizbullah adalah kelompok politik paling terorganisir di Lebanon yang telah melewati dengan baik segala bentuk konspirasi, bahkan yang lebih buruk dari itu.
Isu lain yang disampaikan dalam pidato Sekjen Hizbullah terkait tindakan Trump untuk mengakui kepemilikan Zionis Israel atas Dataran Tinggi Golan. Dimensi pertama dari pidato Sekjen Hizbullah lebih menitikberatkan kepada para penguasa Arab dalam pidatonya. Karena menurutnya, Amerika Serikat tidak pernah menghargai dunia Islam dan dunia Arab. Sejatinya, pidato Sayid Hassan Nasrullah menekankan substansi "alat dan materi" para penguasa negara-negara Arab bagi Gedung Putih.
Sekaitan dengan hal ini, Sayid Hassan Nasrallah menekankan bahwa kebisuan Arab dan Islam terhadap tindakan AS dalam mengakui Yerusalem sebagai ibukota Zionis Israel, telah membuka pintu bagi agresi lebih lanjut oleh Amerika Serikat dan Trump dan kita harus memprediksi bahwa pemerintah Trump setelah ini juga akan mengakui kepemilikan Zionis Israel atas Tepi Barat Sungai Jordan.
Dimensi kedua dari pernyataan Sayid Hassan Nasrallah adalah pelanggaran hukum internasional dalam keputusan Trump tentang Dataran Tinggi Golan Suriah. Trump mengakui kepemilikan Zionis Israel atas Golan Suriah, yang sebelumnya ditolak Dewan Keamanan PBB sebagai hasil dari resolusi 242 dan 497. Maksud Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon terkait pelanggaran hukum internasional juga mengacu pada resolusi Dewan Keamanan ini.
Poin terakhir yang ditunjukkan oleh Sayid Hassan Nasrallah kepada negara-negara di kawasan ini, terutama para penguasa Arab, adalah bahwa kepentingan kawasan akan dihormati oleh Amerika Serikat selama ada kesesuaian dengan kepentingan Zionis Israel.