Perang, Membuat Ribuan Anak Putus Sekolah
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), memperingatkan bahwa sekitar 279.000 anak-anak Libya tidak dapat menikmati pendidikan akibat konflik di negara itu.
OCHA dalam laporannya pada Senin (25/7/2016) menyatakan, data baru yang dirilis Kementerian Pendidikan Libya, memperlihatkan gambaran yang mengkhawatirkan terkait akses pendidikan, di mana total 558 sekolah di berbagai daerah di Libya digolongkan sebagai non-fungsional.
Kondisi ini mempengaruhi sekitar 279.000 anak usia sekolah. Demikian dilansir AFP dari Tripoli.
Sekolah-sekolah tersebut telah ditutup akibat kerusakan total atau parsial sebagai dampak dari konflik dan pertempuran. Di kota-kota seperti Bani Walid dan Benghazi, sejumlah sekolah telah menjadi tempat penampungan pengungsi, di mana anak-anak tidak dapat mengakses sekolah mereka.
Benghazi sudah lebih dari dua tahun menyaksikan pertempuran antara pasukan militer yang didukung oleh parlemen Libya dengan pasukan oposisi termasuk kelompok Takfiri. Kebanyakan sekolah di Benghazi sudah ditutup sejak pecahnya konflik dan sebagian dari mereka mengalami kerusakan selama perang, sementara sisanya menjadi tempat penampungan.
Berdasarkan laporan OCHA, lebih dari 90 ribu populasi di kota Sirte telah mengungsi setelah Daesh menguasai kota itu pada Juni 2015. Kondisi ini menciptakan masalah serius bagi para pelajar untuk melanjutkan pendidikan mereka.
Tidak hanya di Libya, negara-negara lain yang dilanda perang juga menghadirkan situasi yang sulit bagi anak-anak dan kebanyakan dari mereka tidak bisa menikmati hak-hak dasarnya termasuk pendidikan.
Situs Human Rights Watch (HRW) sebelumnya menulis bahwa 250.000 anak-anak Suriah tidak dapat menikmati pendidikan. Padahal, HRW menegaskan bahwa anak-anak pengungsi perlu diberi akses ke pendidikan untuk mengatasi dampak dari perang dan kehilangan tempat tinggal.
Di banyak negara Afrika termasuk Sudan Selatan, anak-anak hidup di lingkungan yang keras dan putus sekolah.
UNESCO dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa sebagian anak-anak dunia tidak memiliki akses ke pendidikan. Hampir 263 juta anak di seluruh dunia putus sekolah dan jika tidak dicari solusi, angkan ini akan terus meningkat. (RM)