Proyeksi Trump dan Pemerintahannya soal Pilpres AS
-
Presiden AS Donald Trump
Pemilu presiden Amerika November 2020 berubah menjadi salah satu pemilu paling kontroversial di sejarah negara ini. Donald Trump, presiden AS saat ini dan kandidat dari kubu Republik senantiasa berbicara mengenai kecurangan di pemilu kali ini dan juga mengklaim bahwa negara-negara asing menginginkan dirinya kalah.
Trump di kampanye pemilu di negara bagian Pennsylvania dan menjelang pemilu mengklaim bahwa banyak negara menginginkan terbebas dari dirinya. Trump menyebut tiga negara Cina, Iran dan Jerman di kasus ini. Ia menyebut slogan “America First” dirinya di pilpres 2016 sebagai alasan permusuhan pihak lain. Trump mengatakan, “Cina ingin terbebas dari Saya. Iran juga sama dan juga Jerman.”
Klaim Trump yang berlebihan muncul pada saat negara-negara lain enggan untuk memilihnya kembali, mengingat penekanannya pada slogan America First, karena Trump telah menggunakan slogan itu sebagai dalih untuk mengejar pendekatan sepihak untuk mengejar kepentingan. Menekankan tujuan dan sasaran Amerika Serikat, terlepas dari norma dan hukum internasional, serta kepentingan negara lain.
Dalam hal ini, dia tidak hanya menarik diri dari beberapa kesepakatan dan perjanjian internasional, seperti Perjanjian Iklim Paris dan Perjanjian Nuklir JCPOA, tetapi juga menyerukan kepatuhan tanpa syarat negara-negara lain ke Washington dalam segala hal.
Di saat yang sama, Trump menekankan penggunaan kekuatan semi keras yaitu kekuatan ekonomi terutama sanksi untuk mencapai tujuannya, dan pada saat yang sama telah melancarkan perang dagang dengan dunia. Secara alami, pendekatan ini ditentang tidak hanya oleh saingan tetapi juga oleh sekutu AS. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Jerman Haiko Mass menyatakan bahwa terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan presiden AS, Berlin sedang mencari untuk merundingkan hubungan baru dengan Washington.
Namun tuduhan lain dari pemerintahan Trump adalah campur tangan negara lain dalam pemilihan presiden 2020. Terkait hal ini, Direktur Intelijen Nasional AS John Ratcliffe baru-baru ini menuduh Iran dan Rusia berusaha mencampuri pemilihan presiden AS dengan mengambil tindakan untuk mempengaruhi opini publik Amerika.
Amerika Serikat, dalam pendekatannya yang boros, berupaya untuk menuduh saingan atau negara-negara oposisi ikut campur dalam pemilihannya, sementara Washington sendiri memiliki sejarah panjang mencampuri urusan negara lain, dari campur tangan langsung dan tidak langsung dalam pemilihan hingga berbagai tindakan subversif khususnya mempersiapkan dan melakukan kudeta untuk menggulingkan para pemimpin oposisi dan membawa agen bonekanya ke tampuk kekuasaan. Pejabat senior intelijen dan keamanan di pemerintahan Trump juga menggunakan alasan dan tuduhan sebagai alasan untuk meningkatkan tekanan terhadap rival dan penentang Washington, yaitu Rusia, Iran, dan Cina. Menurut pakar politik Rusia Pavel Sharikov: Alasan kaburnya hubungan bilateral AS-Rusia adalah bahwa "masalah Rusia" telah menjadi topik perjuangan politik domestik AS.
Pejabat senior AS telah mengklaim bahwa saingan dan negara-negara anti-AS seperti Rusia, Iran dan Cina terlibat dalam proses pemilihan AS. Lobi mereka sendiri dan sekutu AS lainnya, kurang lebih demi kepentingan mereka sendiri, secara langsung dan tidak langsung ikut campur dalam proses pemilihan AS dengan memberikan segala jenis bantuan untuk kampanye kandidat dan propaganda mereka yang menguntungkannya.
Contohnya adalah pengungkapan surat kabar New York Times pada Mei 2018, yang memberitakan pertemuan gabungan perwakilan Arab Saudi, UEA dan rezim Zionis dengan kerabat Trump dengan tujuan meminta orang-orang Arab memenangkan dirinya di pemilihan presiden 2016. Pengusaha Lebanon-Amerika George Nader, penasihat Putra Mahkota Abu Dhabi serta Arab Saudibekerja dengan tim kampanye Trump pada 2016.
Intervensi seperti ini tidak diprotes oleh petinggi keamanan dan intelijen pemerintah Trump, namun sebaliknya dalam hal ini mereka menuding negara rival dan anti Washington, khususnya tiga negara Rusia, Cina dan Iran. (MF)