Gemar Serang Gaza di Bulan Ramadhan, MER-C Kecam Keras Zionis Israel
-
Masjid Indonesia di Jalur Gaza
Memasuki awal Ramadhan, Zionis Israel melakukan serangan udara ke Jalur Gaza yang menyebabkan sedikitnya 25 warga Palestina gugur syahid. Perang berlangsung hingga empat hari dan rezim Zionis terpaksa meminta gencatan senjata dengan mediasi Mesir, setelah faksi-faksi Palestina membalas serangan tersebut dengan menembakkan roket-roket ke daerah-daerah pemukiman yang berdekatan dengan Jalur Gaza.
Sekalipun demikian, ternyata warga Palestina khususnya di Gaza tetap semangat menjalani ibadah pada bulan suci ini.
Imam asal Gaza, Muzhaffar S A Alnawati, mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada satu pun Ramadhan tanpa serangan Zionis Israel. "Tabiat rezim Zionis selalu ingin merusak syiar Islam. Mereka tidak pernah ridha terhadap Islam sehingga salah satunya dengan merusak kesucian Ramadhan," katanya sebagaimana dilansir Republika.
Beruntung, kata dia, warga Gaza masih dapat bertahan dan masih diberikan kekuatan serta kemampuan untuk menjalankan ibadah. "Menjalani Ramadhan di tengah konflik sudah biasa bagi warga Gaza," lanjut Imam Muzhaffar.
Dia menjelaskan, Ramadhan merupakan bulan yang sangat diberkahi. Hanya saja orang-orang di Gaza dalam kondisi yang sangat banyak tantangan, sehingga mereka berupaya memaksimalkan Ramadhan sesuai kemampuan mereka.
Menyaksikan fenomena yang terus berulang, organisasi kegawatdaruratan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) Indonesia mengecam keras serangan dan kekerasan Zionis Israel atas rakyat Palestina, sejak awal Ramadhan 1440 Hijriah,.
"Bulan suci Ramadhan yang seharusnya dihormati oleh seluruh warga dunia, tidak berlaku bagi rezim Zionis Israel," kata Ketua Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad di Jakarta, Jumat. Sebagaimana dilansir Antaranews, Jumat (24/05).
Ia menegaskan bahwa Zionis Israel kerap melakukan serangan kepada rakyat Gaza, Palestina, yang tengah menunaikan ibadah di bulan suci, tidak terkecuali di tahun 2019.
"Zionis Israel selama ini selalu melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang dibuktikan dengan serangan-serangan keji yang kerap dilakukan tentara rezim Israel kepada rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza," katanya.
Sarbini Abdul Murad -- dokter Indonesia pertama yang berhasil masuk ke garis depan Gaza saat konflik Palestina-Israel pada 2008-2009 -- menegaskan bahwa konflik Palestina adalah sentral konflik dunia yang harus menjadi perhatian bersama.
Karena itu, MER-C juga berharap Pemerintah Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB dapat memaksimalkan perannya dalam membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina.
MER-C mengapresiasi isu Palestina menjadi isu utama yang diangkat oleh Indonesia dalam periode kepemimpinannya di Dewan Keamanan PBB.