Upaya Baru Al Khalifa Bungkam Protes Rakyat Bahrain
Aparat keamanan rezim Al Khalifa baru-baru ini mengepung dan menyerbu rumah Sheikh Isa Qassim, ulama terkemuka Bahrain di distrik al-Diraz. Mereka menembakkan gas air mata dan gas beracun ke arah warga yang berkumpul di lokasi dan mendobrak pintu rumah ulama berpengaruh stersebut.
Pasukan keamanan rezim Al Khalifa pada Selasa (23/5/2017) juga menangkap lebih dari 280 orang dan melukai ratusan lainnya. Dalam serangan brutal ke al-Diraz, Mohammad Kazem Mohsen Zainuddin, 39 tahun, meninggal dunia setelah terkena peluru aparat keamanan Bahrain.
Menyusul pernyerbuan tersebut, belum ada informasi spesifik mengenai Nasib Sheikh Isa Qassim. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan bahwa pasukan keamanan negara ini bentrok dengan para pendukung Sheikh Isa Qassim setelah mereka mengepung dan menyerbu rumahnya.
Bersamaan dengan penyerangan aparat keamanan rezim Al Khalifa ke distrik al-Diraz dan pengetatan blokade terhadap rumahnya, sejumlah sumber diplomatik mengabarkan adanya lampu hijau dari Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk melakukan tindakan brutal tersebut.
Para pengamat politik menilai pernyerangan brutal ke rumah Sheikh Isa Qassim sebagai dampak pertama dari pertemuan konspiratif Amerika-Arab yang dihadiri oleh Donald Trump, Presiden AS dan para penguasa Arab di Riyadh, ibukota Arab Saudi.
Sejak 14 Februari 2011, rakyat Bahrain bangkit melawan kediktatoran rezim Al Khalifa. Mereka berunjuk rasa damai untuk menuntut kebebasan, keadilan, penghapusan diskriminasi dan berdirinya pemerintahan pilihan rakyat.
Namun, tuntutan damai rakyat Bahrain itu disambut dengan kekerasan oleh rezim Al Khalifa. Dengan bantuan aparat keamanan Arab Saudi, rezim ini menumpas para aktivis dan revolusioner Bahrain dan memenjarakan mereka.
Ulama Bahrain yang memiliki peran besar dalam memimpin kebangkitan rakyat menjadi target penindasan rezim Al Khalifa. Banyak ulama Bahrain menjadi korban kebijakan represif dan kekerasan rezim ini.
Sheikh Isa Qassim memiliki pengaruh besar dalam masyarakat Bahrain. Ia selama enam tahun terakhir ini selalu menegaskan bahwa unjuk rasa dan demonstrasi terhadap rezim Al Khalifa harus dilakukan secara damai, namun ia tidak pernah bungkam terhadap kejahatan-kejahatan rezim Manama.
Rezim Al Khalifa yang selalu gagal untuk membungkam protes rakyat Bahrain meyakini bahwa jika para pemimpin mereka ditangkap dan dipenjara atau bahkan dicabut kerwarganegaraannya, maka protes rakyat akan berhenti. Oleh karena itu, penghapusan Sheikh Isa Qassim yang merupakan "Bapak Spiritual" mayoritas rakyat Bahrain menjadi agenda dan prioritas rezim Manama.
Langkah pertama yang dilakukan rezim Al Khalifa untuk mencapai tujuan tersebut adalah menghapus kewarganegaraan Sheikh Isa Qassim pada awal bulan Juni 2016 atas tuduhan mengganggu keamanan nasional. Namun langkah tersebut dianggap belum cukup sehingga rezim Bahrain berusaha untuk menyingkirkan sepenuhnya Sheikh Isa Qassim.
Untuk mencapai tujuan itu, rezim Al Khalifa melemparkan tudingan tidak berdasar terhadap Sheikh Isa Qassim dan menuduh ulama terkemuka ini melakukan pencucian uang dan melayani kepentingan asing serta memperluas kekerasan dan menyulut konflik sektarian di Bahrain.
Pengadilan rezim Al Khalifa pada Minggu, 21 Mei 2017 menjatuhkan vonis penjara selama setahun dan denda sebesar 100 dinar terhadap Sheikh Isa Qassim atas tuduhan palsu, pencucian uang. Properti milik ulama tersebut juga akan disita. Keputusan ini menuai gelombang protes baru rakyat Bahrain terhadap rezim.
Transformasi Bahrain menunjukkan bahwa situasi politik di negara ini makin meradang. Hal ini terjadi menyusul berlanjutnya langkah-langkah kekerasan dan tanpa pertimbangan rezim Al Khalifa setelah adanya lampu hijau dari AS dan Arab Saudi.
Para pejabat rezim Al Khalifa meningkatkan penumpasan dan penindasan dengan harapan bisa membungkam segala bentuk protes di Bahrain. Selama beberapa bulan terakhir, rezim diktator ini memperluas kebijakan tangan besi terhadap oposisi dengan menangkapi para aktivis, memenjarakan, menyiksa dan bahkan mencabut kewarganegaraan mereka.
Tindakan represif rezim Al Khalifa dan penumpasan rakyat yang menuntut hak-hak legal mereka sama halnya mengubah Bahrain sebagai tempat pelanggaran luas Hak Asasi Manusia. Akibatnya, rezim ini di kancah dunia dikenal sebagai rezim penindas dan represif terhadap rakyatnya sendiri.
Pengepungan terhadap rumah Sheikh Isa Qassim dan upaya pemenjaraannya bertujuan untuk memutus hubungan rakyat Bahrain dengan pemimpin mereka. Namun tindakan ilegal ini justru akan menciptakan jarak yang lebih lebar antara rakyat dan rezim Al Khalifa serta memicu gelombang protes yang lebih besar.
Seruan berbagai organisasi sipil Bahrain untuk memperluas protes terhadap rezim Al Khalifa pasca serangan brutal ke rumah Sheikh Isa Qassim merupakan pertanda munculnya gelombang baru protes luas terhadap rezim diktator ini. (RA)