Berita / Dunia
Transformasi Jerman | Tiga Gerakan Jerman di Arena Global
Pars Today – Pemerintah Jerman, dengan usulan pembagian risiko finansial atas aset Rusia yang dibekukan di antara negara-negara Eropa, perundingan dengan Taliban untuk deportasi pelaku kriminal asal Afghanistan, serta pengesahan anggaran besar untuk membangun ‘tentara terkuat di Eropa’, menampilkan sebuah trilogi langkah dalam ranah politik luar negeri, keamanan domestik, dan kemampuan militer.
Dalam atmosfer geopolitik yang penuh ketegangan saat ini, Jerman sebagai kekuatan sentral Uni Eropa mengambil langkah besar dan kadang kontroversial, bukan hanya untuk menjawab krisis keamanan yang mendesak, tetapi juga untuk mendefinisikan kembali posisi strategisnya di dunia. Dari meja perundingan dengan Taliban hingga ruang-ruang Kementerian Pertahanan untuk mengesahkan anggaran militer besar, Berlin menunjukkan bahwa era konservatisme mutlak pascaperang telah berakhir.
Dalam paket berita Pars Today ini, pernyataan para pejabat dan dinamika internasional Jerman dikaji lebih lanjut.
Risiko Finansial untuk Mendukung Ukraina
Dalam garis dukungan terhadap Ukraina, Johann Wadephul, Menteri Luar Negeri Jerman, mengajukan sebuah rencana yang praktis sekaligus sensitif. Dalam wawancara dengan jaringan ARD, ia menekankan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa harus berbagi risiko finansial secara kolektif apabila aset Rusia yang dibekukan digunakan untuk membantu Ukraina. Usulan ini memberikan solusi bagi pendanaan paket bantuan besar, seperti pinjaman kompensasi senilai 140 miliar euro yang sedang dibahas untuk tahun 2026 dan 2027.
Dengan kehati-hatian yang optimistis, Wadephul menyebut adanya ‘kesempatan nyata untuk gencatan senjata’ pada pekan yang ‘menentukan’ ke depan. Sikap ini menunjukkan upaya Jerman untuk mengarahkan Eropa menuju tindakan kolektif dan terukur terhadap Rusia, dengan kesadaran penuh akan konsekuensi hukum dan ekonomi yang menyertainya.
Deportasi Kontroversial dan Dialog dengan Taliban
Dalam ranah lain yang terkait dengan keamanan domestik, Alexander Dobrindt, Menteri Dalam Negeri Jerman, mengumumkan adanya perundingan dengan pemerintahan Taliban untuk memulangkan warga Afghanistan yang telah divonis melakukan tindak pidana. Tujuan Kementerian Dalam Negeri Jerman adalah memulai proses ‘teratur dan berkesinambungan’ untuk deportasi individu-individu tersebut. Dobrindt menegaskan bahwa prioritas diberikan kepada para pelaku kriminal dan individu yang dianggap ‘berbahaya’, serta menambahkan bahwa hukum Jerman tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, meskipun sejauh ini hanya laki-laki yang telah dideportasi.
Dobrindt menolak adanya ‘kesepakatan politik’ dengan Taliban, namun menyatakan bahwa Berlin menilai pihak berwenang Afghanistan ingin menunjukkan ‘kesiapan mereka untuk menerima tanggung jawab’. Pendekatan ini, yang sebelumnya telah disertai dengan deportasi puluhan warga Afghanistan pada tahun 2024 dan 2025, menuai dukungan sekaligus kritik. Para pendukung menilai langkah tersebut sebagai kebutuhan untuk menjaga ketertiban umum, sementara para penentang menyoroti kerja sama dengan Taliban sebagai masalah yang kontroversial.
Lompatan Historis Jerman Menuju Tentara Terkuat di Eropa
Namun, perkembangan paling mencolok terjadi di bidang militer. Menurut laporan Daily Telegraph, pemerintahan Friedrich Merz, Kanselir Jerman, dengan menyingkirkan ‘seluruh batasan finansial era pasca perang’, telah mengesahkan anggaran sebesar 377 miliar euro untuk mempercepat pembangunan kembali angkatan bersenjata (Bundeswehr) agar menjadi ‘tentara terkuat di Eropa’. Anggaran besar ini memungkinkan pembelian luas persenjataan, mulai dari tank baru dan jet tempur generasi kelima hingga kapal perang dan rudal jarak jauh.
Perubahan pendekatan ini begitu mendalam sehingga bahkan Gereja Protestan Jerman, yang selama ini anti-perang, menyatakan bahwa ‘pasifisme Kristen dalam kondisi saat ini secara moral tidak dapat dipertahankan.’
Meski demikian, rencana kontroversial seperti ‘undian wajib’ untuk wajib militer telah menghadapi reaksi negatif dari mayoritas besar pemuda Jerman.”
Maraknya Pasar Senjata dan Penguatan Keamanan Domestik
Perkembangan besar ini memiliki dampak langsung terhadap perekonomian Jerman. Laporan dari lembaga SIPRI menunjukkan bahwa pendapatan empat perusahaan besar industri pertahanan Jerman (Rheinmetall, ThyssenKrupp, Hensoldt, dan Diehl) meningkat 36 persen pada tahun lalu. Perang di Ukraina serta peningkatan anggaran pertahanan Jerman dan negara-negara Eropa lainnya menjadi pendorong utama pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada saat yang sama, Berlin juga bersiap menghadapi ancaman baru. Kementerian Dalam Negeri Jerman mengumumkan akan segera mendirikan pusat pertahanan drone bersama antara pemerintah federal dan negara bagian. Langkah ini merupakan respons terhadap penerbangan berulang drone mencurigakan (yang diduga terkait dengan Rusia) di atas fasilitas vital Jerman. Tujuannya adalah mengintegrasikan keahlian polisi dan lembaga keamanan untuk menghadapi ancaman udara tersebut.”
Serangkaian langkah terbaru Jerman — mulai dari pengelolaan aset Rusia, dialog dengan Taliban, hingga persenjataan yang belum pernah terjadi sebelumnya — menunjukkan bahwa negara ini tengah melewati sebuah transisi historis. Slogan ‘Nie wieder’ (Tidak pernah lagi), yang selama beberapa dekade menjadi inti identitas keamanan Jerman, kini sedang didefinisikan ulang dalam kerangka ‘tanggung jawab yang lebih besar’ terhadap keamanan Eropa dan kepentingan nasional.
Pertanyaan kunci adalah apakah transformasi mendalam ini akan disertai dukungan opini publik domestik dan penerimaan dari para sekutu internasional. Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya akan menentukan masa depan Jerman, tetapi juga akan membentuk keseimbangan kekuatan di jantung Eropa. (MF)