Sanksi Baru AS terhadap Venezuela, Apa yang Dicari Washington?
-
Donald Trump dan Nicolas Maduro
Pars Today – Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi baru terhadap perusahaan dan kapal tanker yang terkait dengan Venezuela.
Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap empat perusahaan yang aktif di sektor minyak Venezuela dan menetapkan empat kapal tanker yang terkait dengan kegiatan ini sebagai aset yang dibekukan. Dengan mengumumkan sanksi baru ini, Washington sekali lagi menekankan kelanjutan kampanye tekanannya terhadap pemerintah Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Pemerintahan Trump mengklaim bahwa kapal-kapal tanker ini, beberapa di antaranya merupakan bagian dari apa yang disebutnya sebagai "armada bayangan" yang melayani Venezuela, terus menyediakan sumber daya keuangan yang membantu mempertahankan rezim Venezuela.
Departemen Keuangan mencatat bahwa pemerintah Venezuela semakin bergantung pada armada kapal bayangan yang beroperasi di seluruh dunia. Dalam hal ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menekankan bahwa departemen yang dipimpinnya akan terus menerapkan kampanye tekanan Donald Trump terhadap Venezuela.
Gedung Putih telah memerintahkan pasukan militer AS untuk fokus hampir sepenuhnya pada penegakan apa yang disebut "karantina" minyak Venezuela setidaknya selama dua bulan ke depan. Meskipun opsi militer tetap menjadi pertimbangan, seorang pejabat AS mengklaim bahwa fokus saat ini adalah menggunakan tekanan ekonomi melalui penerapan sanksi untuk mencapai tujuan yang dikejar oleh Gedung Putih.
Sanksi baru AS terhadap Venezuela merupakan kelanjutan dari kebijakan tekanan maksimum pemerintahan Trump. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memutus sumber pendapatan utama pemerintah Maduro, yaitu ekspor minyak.
Mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan ekonomi yang bergantung pada minyak, Washington percaya bahwa dengan memperketat sanksi minyak dan memberlakukan pembatasan baru pada sektor itu, mereka akan memberikan tekanan berat pada pemerintah dan rakyat Venezuela dan pada akhirnya mencapai tujuannya.
Namun sanksi hanyalah bagian dari kampanye itu. Pada saat yang sama, pemerintahan Trump telah meningkatkan kehadiran militernya di Karibia dan telah melakukan operasi terhadap kapal-kapal Venezuela dengan dalih memerangi perdagangan narkoba.
Ketegangan antara Washington dan Caracas meningkat tajam sejak September, ketika pemerintahan Trump melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal Venezuela di Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Serangan yang diklaim pemerintah AS terkait dengan perdagangan narkoba.
Laporan menunjukkan bahwa militer AS telah menargetkan sejumlah besar kapal Venezuela, mengakibatkan kematian lebih dari 100 orang. Namun, Amerika Serikat belum memberikan bukti perdagangan narkoba. Tindakan itu secara efektif merupakan blokade laut yang bertujuan untuk membatasi kemampuan Venezuela menggunakan jalur laut untuk mengekspor minyak dan mengimpor barang-barang penting.
Badan Intelijen AS CIA juga melancarkan serangan terhadap fasilitas pelabuhan di lepas pantai Venezuela awal bulan ini, serangan pertama Amerika Serikat di wilayah Venezuela. Presiden mengklaim serangan itu menargetkan dermaga yang digunakan untuk memuat kapal yang membawa narkoba.
Langkah ini dilakukan ketika Trump meningkatkan tekanan pada Maduro dengan mengancam serangan darat dan telah memberi sinyal niat Washington untuk secara signifikan meningkatkan kehadirannya di Amerika Selatan dengan memperkuat kehadiran militernya di wilayah tersebut.
Tujuan pemerintahan Trump untuk kebijakan multifaset ini dapat diteliti pada tiga tingkatan:
Pertama, tekanan ekonomi untuk melemahkan fondasi keuangan pemerintahan Maduro.
Pemerintahan Trump percaya bahwa dengan penurunan pendapatan minyak, pemerintah Venezuela akan kehilangan kemampuannya untuk membiayai pengeluaran sosial dan militernya, dan sebagai akibatnya, menurut Washington, legitimasi domestiknya akan menurun.
Kedua, tekanan politik untuk mengubah perilaku Venezuela atau bahkan mengubah sistem politiknya.
Washington berharap bahwa intensifikasi krisis ekonomi akan meningkatkan ketidakpuasan publik dan membuka jalan bagi keruntuhan pemerintahan Maduro atau penerimaan negosiasi dengan oposisi.
Ketiga, tujuan geopolitik dan keamanan.
Amerika Serikat membenarkan kehadiran militernya di Karibia dengan mengklaim untuk memerangi perdagangan narkoba, tetapi pada kenyataannya kehadiran ini adalah bagian dari strategi untuk membendung pengaruh Rusia dan Tiongkok di Amerika Latin, yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Maduro.
Dalam konteks ini, serangan terhadap dermaga dan kapal Venezuela seharusnya dilihat bukan hanya sebagai tindakan anti-penyelundupan, tetapi juga sebagai bagian dari tekanan militer dan psikologis terhadap pemerintahan Maduro. Serangan-serangan ini mengirimkan pesan yang jelas kepada Caracas dan sekutunya bahwa Washington siap menggunakan cara-cara militer untuk mencapai tujuannya.
Meskipun tindakan-tindakan ini telah dikritik oleh beberapa kalangan hukum dan politik di Amerika Serikat dan bahkan disebut sebagai pelanggaran hukum internasional, pemerintahan Trump membenarkannya demi kepentingan membela keamanan nasional dan memerangi ancaman narkoba.
Secara keseluruhan, embargo minyak, blokade angkatan laut, dan serangan militer terhadap Venezuela merupakan strategi yang bertujuan untuk memberikan tekanan habis-habisan pada pemerintahan Maduro. Washington berupaya menggunakan kombinasi cara ekonomi dan militer untuk membawa Venezuela ke titik di mana negara itu tunduk pada tuntutan AS atau pemerintahan baru dibentuk melalui perubahan politik domestik.
Meskipun kebijakan ini telah memberikan tekanan berat pada rakyat Venezuela, kebijakan ini belum mampu menghasilkan perubahan dalam sistem politik dan hanya memperburuk ketidakstabilan dan meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan ini. Sementara itu, rakyat Venezuela juga telah menyatakan solidaritas mereka dengan pemerintah dan Maduro serta menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi kemungkinan agresi apa pun dari Amerika Serikat.(sl)