Kejahatan Baru Kabinet Israel yang Ekstrem dan Gagal terhadap Gaza
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i145232-kejahatan_baru_kabinet_israel_yang_ekstrem_dan_gagal_terhadap_gaza
Sebagai kelanjutan dari kejahatannya, rezim Zionis membunuh 13 warga Palestina, termasuk tiga komandan senior Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, dalam beberapa serangan teroris di tempat-tempat di Jalur Gaza.
(last modified 2026-02-25T09:50:49+00:00 )
May 10, 2023 10:34 Asia/Jakarta

Sebagai kelanjutan dari kejahatannya, rezim Zionis membunuh 13 warga Palestina, termasuk tiga komandan senior Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, dalam beberapa serangan teroris di tempat-tempat di Jalur Gaza.

Dari 13 orang yang gugur syahid dalam kejahatan hari Selasa (09/05/2023) oleh rezim Zionis, 4 anak-anak dan 6 perempuan, serta tiga komandan Jihad Islam Palestina.

Dengan kata lain, 10 syahid dari serangan teroris hari Selasa oleh rezim Zionis di Jalur Gaza adalah warga sipil.

Untuk alasan ini, kamar gabungan kelompok perlawanan Palestina dalam sebuah pernyataan menyebut tindakan rezim pendudukan hari Selasa sebagai kejahatan pengecut.

Prosesi pemakaman syuhada Gaza

Kejahatan hari Selasa dilakukan oleh rezim Zionis bekerja sama dengan tentara dan dinas keamanan internal rezim ini (Shabak) dan menggunakan 40 jet tempur di jalur Gaza.

Rezim Zionis mengklaim bahwa para komandan yang dibunuh hari Selasa sebelumnya telah memerintahkan serangan roket ke Israel.

Kejahatan ini dilakukan dalam situasi di mana Wilayah Pendudukan telah menyaksikan demonstrasi ratusan ribu orang terhadap Benjamin Netanyahu dan kabinetnya selama 18 minggu.

Sementara itu, kejahatan ini dilakukan dalam situasi di mana di dalam kabinet Israel terungkap perselisihan antara Netanyahu dan Ben Gvir, Menteri Keamanan Dalam Negeri kabinetnya.

Ben Gvir percaya bahwa kabinet Israel menunjukkan reaksi yang lemah terhadap Gaza, dan karena alasan itu, mereka menolak untuk berpartisipasi dalam rapat kabinet.

Situs berita Al-Arabi Al-Jadid menulis, Serangan hari ini (Selasa) oleh Zionis di Jalur Gaza di mana Ben Gvir mengesampingkan perbedaannya dengan Netanyahu; para wakil partai Ben Gvir kembali ke proses pemungutan suara untuk menyetujui keputusan kabinet, dan para menterinya kembali berpartisipasi dalam rapat.

Oleh karena itu, penyerangan hari Selasa dilakukan untuk menutupi perselisihan dan juga untuk mengalihkan protes besar-besaran anti-kabinet.

Dalam hal ini, Kementerian Luar Negeri Suriah, dalam menanggapi kejahatan hari Selasa oleh rezim Zionis, menekankan dalam sebuah pernyataan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah mengambil tindakan nyata untuk mengakhiri pembunuhan Israel terhadap rakyat Palestina ini dan menanggapi otoritas Israel yang mencoba untuk menutupi krisis internal mereka.

Sebagai kelanjutan dari kejahatannya, rezim Zionis membunuh 13 warga Palestina, termasuk tiga komandan senior Brigade Sl-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, dalam beberapa serangan teroris di tempat-tempat di Jalur Gaza.

Masalah penting adalah bahwa kabinet Netanyahu telah lama mengusulkan pembunuhan komandan perlawanan Palestina.

Kabinet Netanyahu, yang bingung di depan persatuan dan integritas lawan-lawannya serta demonstrasi beberapa ratus ribu orang, juga melakukan kejahatan terhadap Palestina, yang dihadapkan pada operasi perlawanan kelompok perlawanan Palestina.

Untuk alasan ini, dia telah memasukkan kebijakan teror ke dalam agendanya, sebuah kebijakan yang juga dijunjung tinggi oleh rezim ini karena sifat terorisnya.

Hari Selasa, media-media Zionis, mengutip Saluran 13 rezim Zionis, mengumumkan bahwa Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Kabinet Zionis memberi tahu pejabat keamanannya bahwa rezim ini telah kembali ke kebijakan teror.

Namun, reaksi tokoh dan kelompok Palestina menunjukkan bahwa mereka bukan hanya tidak takut dengan pendekatan teroris rezim Zionis, tetapi pendekatan ini akan meningkatkan tekad mereka untuk menghadapi rezim ini.

Musa Abu Marzouq, anggota biro politik gerakan Hamas menegaskan bahwa darah syuhada akan membuka jalan bagi pembebasan Palestina, dan pembunuhan mereka merupakan bukti kebenaran jalan yang mereka tempuh dalam menghadapi musuh Zionis dan pesan perlawanan akan menyeluruh dan terpadu.

Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas juga mengumumkan bahwa pembunuhan para komandan perlawanan tidak akan pernah membawa keamanan bagi musuh Zionis, tetapi justru akan meningkatkan perlawanan.

Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas

Haniyeh menekankan bahwa musuh Zionis membuat kesalahan total dalam perhitungannya dan akan membayar mahal.

Rezim Zionis juga menyadari reaksi tegas dari kelompok perlawanan. Untuk alasan ini, mereka menyiagakan tentara dan membuka tempat perlindungan.(sl)